Khilafah Menjaga Kehormatan Baginda Nabi SAW dari Penistaan Kaum Kafir

Khilafah Menjaga Kehormatan Baginda Nabi SAW dari Penistaan Kaum Kafir




Oleh: Santi ummu Zakir 

Sungguh menyakiti kamu muslim,  di tengah kegembiraan menyambut bulan kelahiran Rasulullah saw dan kerinduan kepada beliau saw,  Kaum kafir justru kembali menghina beliau. 

Pada 02/09/2020, Majalah Charlie Hebdo kembali menerbitkan karikatur Muhammad Saw. Bukan kali pertama majalah sayap kanan ini menghina Nabi dan ajarannya. Walaupun mendapatkan banyak kecaman dari berbagi negara, nyatanya pemerintah Prancis mendukung ulah Majalah tersebut.

Nahasnya, kali ini berujung pada tewasnya guru sejarah di salah satu sekolah di Paris pada 16/10/2020. Samuel Paty, tewas setelah mengajar materi kebebasan berekspresi. Pety menggelar diskusi di kelas dan menampilkan kartun Muhammad Saw. yang ada di majalah Charlie Hebdo.

Presiden Prancis langsung memanfaatkan momen tersebut dengan menyebutnya sebagai bentuk serangan dari teroris Islam. Akhirnya, warga Prancis beramai-ramai mengutuk kejadian tersebut. Mereka sengaja menutup mata atas sumber tragedinya yaitu penghinaan terhadap Nabi.

Macron menegaskan pembunuhan ini dilakukan kelompok Islamis yang ingin merebut masa depan Prancis. Islamofobia akut yang dihembuskan penguasa Prancis telah menyulut kebencian warganya terhadap Islam.

Hingga pada 18/10/2020, terjadi peristiwa penusukan kepada dua orang muslimah di bawah menara Eiffel. Mereka ditikam beberapa kali hingga menembus paru-parunya, hanya karena mereka berhijab. Bahkan, pelaku menyebut muslimah tersebut dengan panggilan “orang arab kotor”. (republika, 22/10/2020)

Padahal menista (istihza’) terhadap kemuliaan beliau adalah dosa besar. Allah SWT berfirman,

وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ رَسُولَ اللَّهِ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Orang-orang yang menyakiti Rasulullah itu, bagi mereka azab yang pedih.” (TQS at-Taubah [9]: 61)

Allah SWT juga berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ يُؤْذُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ لَعَنَهُمُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَأَعَدَّ لَهُمْ عَذَابًا مُهِينًا

“Sungguh orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya, Allah melaknati mereka di dunia dan di akhirat serta menyediakan bagi mereka siksaan yang menghinakan.” (TQS al-Ahzab [33]: 57)

Lalu apa saja yang terkategori menistakan Nabi Saw.? Apakah menyamakan beliau dengan manusia biasa, apalagi merendahkan beliau dibandingkan orang lain, semisal ayah kandung, termasuk ke dalamnya?

Syaikh al-Islam Ibn Taimiyah telah menjelaskan batasan tindakan orang yang menghujat Nabi Muhammad Saw. yaitu: kata-kata yang bertujuan meremehkan dan merendahkan martabat beliau, sebagaimana dipahami kebanyakan orang, terlepas perbedaan akidah mereka, termasuk melaknat dan menjelek-jelekkan (Lihat: Ibn Taimiyyah, Ash-Sharim al-Maslul ala Syatimi ar-Rasul, I/563).

Al-Qadhi Iyadh juga menjelaskan bentuk-bentuk hujatan kepada Nabi Saw. Orang yang menghujat Rasulullah Saw. adalah orang yang mencela, mencari-cari kesalahan, menganggap pada diri Rasul Saw. ada kekurangan; mencela nasab (keturunan) dan pelaksanaan agamanya; juga menjelek-jelekkan salah satu sifatnya yang mulia; menentang atau menyejajarkan Rasulullah Saw. dengan orang lain dengan niat untuk mencela, menghina, mengerdilkan, menjelek-jelekkan dan mencari-cari kesalahannya. Orang seperti ini termasuk orang yang telah menghujat Rasul Saw. (Lihat: Al-Qadhi Iyadh, Asy-Syifa bi Tarif Huquq al-Musthafa, hlm. 428).

Hal senada juga dinyatakan oleh Khalil Ibn Ishaq al-Jundiy, ulama besar mazhab Maliki. Siapa saja yang mencela Nabi Saw., melaknat, mengejek, menuduh, merendahkan, melabeli dengan sifat yang bukan sifat beliau, menyebutkan kekurangan pada diri dan karakter beliau, merasa iri karena ketinggian martabat, ilmu dan kezuhudannya, menisbatkan hal-hal yang tidak pantas kepada beliau, mencela, dan lain-lain maka hukumannya adalah dibunuh (Lihat: Khalil Ibn Ishaq al-Jundiy, Mukhtashar al-Khalil, I/251).

Penistaan terhadap Nabi Saw. terus terjadi karena prinsip kebebasan berbicara yang diberikan sekularisme-liberalisme yang memberikan panggung kepada orang-orang yang mendengki dan terus menyerang Islam. Mereka dilindungi oleh berbagai peraturan dan orang-orang yang bersekongkol dengan mereka.

Mereka tak akan pernah berhenti melakukan penyerangan terhadap agama ini. “Kedengkian yang tersimpan dalam hati mereka jauh lebih besar lagi.” (QS Ali Imran [3]: 118)

Dan persoalan utama serta mendasar adalah karena tidak adanya perisai atau junnah kaum muslimin.  Sehingga muncul berbagai petaka di tengah-tengah kaum muslim,  hingga Rasulullah SAW yang mulia pun dengan mudah dilecehkan kaum kafir. 

*Memahami Khilafah Sebagai perisai penjaga kehormatan Nabi Saw*

Khilafah adalah kepemimpinan umum bagi seluruh Kaum Muslimin di dunia untuk menegakkan Syariat Islam dan mengemban dakwah ke segenap penjuru dunia. Kewajiban menegakkan Khilafah didasarkan pada perintah yang tegas di dalam Al-Qur’an, As-sunnah dan ijmak sahabat. Keberadaanya sebagai sistem kehidupan meniscayakan pada tegaknya hukum Syariah. Sebaliknya, ketiadaanya berkonsenkuensi pada lenyapnya hukum Syariah dan lahirnya kerusakan atau ummul jaraiy (induk kerusakan).

Tanpa khilafah eksistensi Islam sebagai solusi persoalan umat dan pembawa rahmat seluruh alam hilang. Mestinya umat memahami bahwa kekuatan Islam terletak pada  sistem Khilafah.

Demikian pula Khilafah merupakan junnah dalam membela kehormatan Rasulullah SAW.  Sebagaimana, dulu Khilafah Utsmaniyah sanggup menghentikan rencana pementasan drama karya Voltaire yang akan menista kemuliaan Nabi Saw. Saat itu Sultan Abdul Hamid II langsung mengultimatum Kerajaan Inggris yang bersikukuh tetap akan mengizinkan pementasan drama murahan tersebut.

Sultan berkata, “Kalau begitu, saya akan mengeluarkan perintah kepada umat Islam dengan mengatakan bahwa Inggris sedang menyerang dan menghina Rasul kita! Saya akan mengobarkan jihad akbar!”

Kerajaan Inggris pun ketakutan dan pementasan itu dibatalkan. Sungguh, saat ini umat membutuhkan pelindung/perisai yang agung itu. Itulah Khilafah!

Tak Boleh Diam!

Demikianlah kemampuan Khilafah menjaga kehormatan Rasulullah saw. Kekuatannya sebagai pemimpin umat mampu menghimpun kekuatan jihad. Sayang,  hari ini umat tidak memiliki Khilafah. Wajar, kalau Nabi saw dihina.  Kaum muslim tak bisa berbuat apa-apa.  

Apalagi banyak kaum muslim dan tokoh-tokohnya memilih diam. Mereka berpikir bahwa diam dan bersabar ketika Nabi Saw. dinista adalah sebuah kebaikan. Padahal bungkamnya mereka membuat penistaan ini kian menjadi-jadi. Mereka seperti lupa dengan sindiran Imam asy-Syafii kepada orang yang diam saat agamanya dihina,

مَنِ اسْتُغْضِبَ فَلَمْ يَغْضَبْ فَهُوَ حِمَارٌ

“Siapa yang dibuat marah namun tidak marah maka ia adalah keledai.” (HR al-Baihaqi)

Ulama besar Buya Hamka rahimahulLah juga mempertanyakan orang yang tidak muncul ghirah-nya ketika agamanya dihina. Beliau menyamakan orang-orang seperti itu seperti orang yang sudah mati. “Jika kamu diam saat agamamu dihina, gantilah bajumu dengan kain kafan.”

Oleh karena itu,  tak cukup boikot produk, umat wajib memboikot hukum-hukum dan pemikiran kaum kafir.  Serta mengobarkan jihad.  Tentu itu hanya bisa dilakukan jika Khilafah tegak di tengah-tengah kaum muslim.
Maka,  sudah saatnya umat mewujudkan tegaknya Khilafah sang perisai. Yang akan membela kehormatan Rasulullah saw dan kaum muslimin.  

Terkhusus pengemban dakwah.  Sudah sepantasnya mereka mengerahkan segala pikiran, tenaga,  harta dan potensinya untuk terus berdakwah membentuk kesadaran di tengah-tengah umat tanpa kenal lelah. Hingga umat dan simpul-simpul umat percaya dan akhirnya menyerahkan kepemimpinan pada Islam.  Kita Tak boleh diam!!

Wallahu'alam bishawab
Previous Post
Next Post

post written by:

Cerdaskan Umat, Raih Kebangkitan!

0 Comments: