Recent Posts

Total Tayangan Halaman

Labels

Pesan Sekarang Juga!

Cara Ngirim Tulisan

Cara mengirim tulisan ke Pena Pejuang : 1. Kirim tulisan, bisa dalam bentuk tulisan wa, bisa juga dalam format docx. 2. Sertakan dengan gamb...

Muslim Harus Tetap Bahagia Walaupun Di Era Pandemi

Kamis, 26 November 2020



Oleh : desi marzani
(pengemban dakwah dan pengajar madin)

Latar Belakang Penyebab Tidak Bahagia

Update corona di Indonesia 24 november 2020, berdasarkan data satgas penanganan covid-19. Ada penambahan kasus positif covid-19 sebanyak 4.192 kasus, total kasus terkonfirmasi positif covid-19 menjadi 506.302 kasus . dan kasus sembuh bertambah sebanyak 2.927 kasus dan total kasus sembuh dari kasus covid – 19 sebanyak 425.313 kasus. Sedangkan kasus meninggal dunia bertambah sebanyak 109 kasus, total kasus meninggal sebanyak 16.111 kasus. (chanel youtube kompas TV, 24 november 2020). Hari-hari dimana kita menghadapi ujian berat, dimana ujian dalam sejarah hidup kita rasanya baru kali ini kita mengalami, yaitu berjuang dan bertahan hidup ditengah-tengah pandemi covid-19 sampai saat ini belum ada tanda-tanda kapan covid ini akan berakhir. Tentu saja tidak ada yang bahagia dengan situasi pandemi ini. Semua merasakan dampaknya, baik laki-laki dan perempuan, maupun anak-anak atau dewasa, baik jomblo atau yang sudah menikah. Dan semua sektor mengalami imbas dari dampak pandemi covid-19 ini. Mulai dari sektor pendidikan, sektor ekonomi, sektor perindustrian, dan berbagai sektor lainnya. Ketika membicarakan bahagia masa pandemi, dalam kondisi yang sangat sulit saat ini. maka jawabannya sulit bahagia. Karena memang kita sekarang hidup dalam keperhatinan, karena ada yang pendapatan keluarga berkurang, sementara pengeluaran bertambah. Khususnya ibu-ibu rumah tangga yang sulit mengatur keuangan keluarga, dan kewalahan mengatur tenaga dan waktu mengurus rumah dan anak-anak serta waktu untuk segudang kesibukan dalam pekerjaan. Sepertinya kadar bahagia  dalam kehidupan menurun dan malah kadar stresnya yang meningkat tinggi. 

Kalau hari ini kita belum merasa bahagia, atau level kebahagian kita turun drastis di masa pandemi. Sepertinya dipengarui tempat tinggal kita, karena di Indonesia memang bukan negara yang membahagiakan. Menurut laporan PBB World Hapiness Report 2019 negara paling bahagia di dunia pada tahun 2019 itu ternyata adalah Finlandia, indeks kebahagiannya mencapai 7,769 dari sekala 0-10 dengan parameter kebahagiannya, pertama tingkat pendapatan rakyat tinggi, kedua harapan hidup sehat, kemudian dukungan sosial,negara aman, rakyat dan pejabatnya jujur, dan tingkat korupsi rendah. Sehingga  dengan penduduk berjumlah  5.5 juta jiwa  negara ini disebut sebagai negara dengan pemerintahan terbaik di dunia. Pernah ada eksprimen yang dilakukan untuk mengukur kejujuran yaitu menjatuhkan dompet diberbagai ibu kota di dunia, disebarlah 12 dompet di ibu kota Finlandia, apa yang terjadi? Dari 12 dompet itu, 11 dompet  diantaranya kembali kepada pemiliknya. Bayangin kalau dompet itu disebar di Jakarta, ada tidak yang kembali? kemungkinan tidak ada yang kembali. 

Indonesia menempati urutan 92 dari 156 negara sebagai negara paling bahagia di dunia, walaupun tidak berada diposisi terakhir sebagai negara paling menderita di dunia, namun diantara negara ASEAN lain, levelnya paling rendah. Malaysia menempati urutan 80, Filipina posisi 69, Thailand 52 dan Singapura 34. Jadi wajar kalau penduduk Indonesia kurang bahagia. Kalau tadi ukuran negara, bagaimana kalau ukuran individu? Menurut data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) indeks bahagia rata-rata 70,69 pada skala 0-100 di tahun 2017. Jadi level bahagianya 70 persen, 30 persen masih menderita. Yang menarik indeks bahagia orang indonesia itu bukan semata-mata karena uang, uang (skor 62.99), jabatan (67.15), keharmonisan keluarga (80.05), hubungan sosial (75,45), hubungan positif dengan orang lain (71.93), kesehatan (71,15), rasa aman (77.15) dan perasaan senang (75.06). ternyata kebahagian tertinggi itu keharmonisan keluarga. Yang harus kita syukuri ketika masih mempunya kelurga yang utuh, orang tua yang masih sehat dan lengkap keduanya, adik dan kakak yang masih membersamai kita, dan yang sudah menikah punya pasangan dan anak-anak. 

Kondisi stay at home memicu konflik dan pertikaian sehingga sampai pada KDRT bahkan berujung perceraian. Tapi yang jelas penyebab utama konflik keluarga adalah faktor ekonomi, karena roda perekonomian yang mandeg pada saat pandemi menyebabkan banyak keluarga kesulitan memenuhi kebutuhan hidupnya. Di Indonesia sendiri KADIN memperkirakan penganguran mencapai 10 juta, sementara disisi lain bantuan untuk masyarakat yang terdampak  covid 19 belum maksimal, tidak menyentuh semua kalangan yang membutuhkan, bahkan banyak bantuan yang tidak tepat sasaran kepada masyarakat, dan ada oknum yang menjadikan sebagai bisnis untuk memperkaya individu dengan melakukan pemotongan dana bantuan untuk masyarakat, dan bahkan terjadi keributan di desa antara aparat pemimpin desa dan masyarakatnya yang mengeluhkan ketimpangan dalam bantuan covid 19, sehingga masih banyak masyarakat yang kesulitan walaupun sekedar memenuhi kebutuhan  pokok. Ini yang menyebabkan stres dan menyebabkan keluarga kehilangan  rasa bahagia.

Bagaimana Cara Agar Tetap Bahagia Di Masa Pendemi

Lantas bagaimana kita sebagai muslim tetap bahagia di era pandemi ini? Sebagai berikut : pertama, tetap berpegang teguh terhadap agama, karena memang agama ini sumber kekuatan terpenting kita dalam kehidupan dan sumber kebahagian terpenting kita, dengan agama kita punya harapan. Sudah banyak yang membuktikan, penelitian (view research center) yang dikutip republika center orang yang aktif beragama atau orang yang religius akan merasa lebih bahagia  kenapa? Kita punya Allah yang maha kaya, yang maha segalanya sehingga adanya pandemi kita yakin,bahwa ini adalah qodho Allah yang harus kita tetap hadapi dengan hati lapang dan ridho dengan segala keadaan yang terjadi. Sehingga kita tetap berfikir positif dan kita tetap berkhusnudzon kepada Allah yakin bahwa ditengah pandemi masih ada harapan untuk tetap bahagia dan tetap hidup layak. Kita ini hamba Allah, karyawan Allah yang bekerja untuk ridho Allah bukan yang lain, jadi kita tinggal mengikuti skenario Allah ketika ketika ada dalam masalah, tidak putus asa kita masih punya harapan. Karena Ini adalah moment yang tidak terulang di tahun-tahun yang akan datang, tentu saja kita tidak berharap pandemi itu datang lagi atau lebih lama lagi pandemi ini, sehingga Ketika kita dikumpulkan saat ini, dirumah bersama keluarga kita dimasa pandemi, nanti kedepan kita akan merindukan saat-saat ini. Moment bahagia yang diperoleh dan hikmah harus di syukuri segala sesuatu yang terjadi.

Yang kedua, supaya tetap bahagia, perkuat hubungan sosial walaupun stay at home jangan lupa untuk tetap berhubungan dengan orang lain entah dengan saudara, kerabat, teman, dan komunitas yang satu  misi dan satu frekuensi. Karena berkumpul dengan orang lain bercengkraman tertawa ini juga melepaskan stres dan meningkatkan kebahagian walaupun kumpulnya tidak secara langsung melainkan  via group media sosial atau via video call. Dan juga tetap mengikuti kegiatan positif, seperti kajian islam online. Agar menambah memperkuat psikologi jiwa di masa pandemi, sehingga strunggle ketika menghadapi permasalahan apapun.

Yang ketiga, turunkan standar hidup, kita merasa dirumah aja ini sebagai beban, dengan tugas seabreg.  Bersikap Santai saja, santai dalam artian jangan terlalu tinggi standarnya kedisiplinan ataupun berbagai macam target-target yang ingin dicapai, turunkanlah standarnya agar tensi kita tidak naik dan kita tidak stres, serta lakukan sesuai dengan kemampuannya. Jangan dibikin stres sendiri,  dan merasa gagal dalam kehidupan sehingga nantinya kita tidak bahagia.

Yang ke empat, jadikan moment muhasabah  di era pandemi ini. Walaupun ada dan tidak ada pandemi ini. Kehidupan harus tetap berjalan dan tetap harus ada muhasabah, namun diera pandemi ini lebih lagi kita jadikan bahan renungan dalam kehidupan ini apakah kita sudah bahagia? apakah lebih banyak sedihnya? apakah dalam kehidupan ini lebih banyak marah-marah dan merengut daripada lemah lembut dan tersenyum?, atau dengan keluarga lebih banyak diamnya atau ngobrol?, lebih banyak cintanya atau bertengkarnya dalam masa selama dirumah. Ketika  berada dirumah akan keliatannya kualitas dalam keluarga kita. 
Yang terakhir selalu ridho, tetap bersyukur, dan tetap positif thinking. Ridho dengan qodho dan atas kondisi kehidupan masing-masing, bersyukur diberi kesempatan hidup dan bersyukur dengan keadaan kehidupan masing-masing, berkusnudzan pada Allah dan berpositif thinking yakin bahwa  Allah  pasti memberikan solusi, yakin  Allah memberikan yang terbaik dan Allah tidak pernah salah dalam menguji hambanya. Itu saja yang kita pegang supaya kita tetap bahagia menjalani hari-hari dalam kehidupan ini. 

Standar bahagia menurut hadist Rasulullah SAW, kalau kita sudah mampu beramal sholeh dengan baik, ketika urusan akhirat kita jauh lebih banyak dan lebih baik daripada urusan kita di dunia, itulah bahagia kita. Dinuqil dari kitab Nashaihul ‘Ibad karangan imam Nawawi Al – Bantani, Rasulullah SAW bersabda , tanda orang celaka lupa dosa-dosa masa lalu tapi selalu mengenang kebaikkan dimasa lalu, dan untuk urusan dunia dia melihat keatas, dan untuk urusan agama melihat kebawah. Sebaliknya tanda orang yang bahagia mengingat dosa-dosa yang lalu, dan melupakan kebaikkan yang pernah dilakukan, dan untuk urusan dunia melihat yang lebih rendah dan untuk urusan akhirat melihat yang lebih tinggi. Inilah kunci kebaikkan sebenarnya. Dan Rasulullah saw bersabda bahwa manusia yang paling baik manusia yang bermanfaat bagi orang lain, itu masyhur sekali. Itu manusia yang paling bahagia yaitu ketika manusia nafasnya berhenti, namun pahalanya tidak pernah berhenti, amal jariyah mengalir terus. Maasya allah, itu kebahagian tertinggi seorang hamba Allah, itu  yang harus kita kejar. 

Standar Kebahagian Hakiki Menurut Islam

Dari ‘Ubaidillah bin Mihshan Al Anshary dari Nabi SAW, beliau bersabda yang artinya “Barangsiapa di antara kalian mendapatkan rasa aman di rumahnya (pada diri, keluarga dan masyarakatnya). Diberikan kesehatan badan, dan memiliki makanan pokok pada hari itu dirumahnya, maka seaakan-akan dunia telah terkumpul pada dirinya.” (HR. Tirmidzi no.2346, Ibnu Majah no.4141. Abu ‘Is mengatakan bahwa hadits ini hasan ghorib). Cuman itu standar  bahagia seorang muslim aman berada dalam rumah, sehat kondisi badan dan mental kita, dan kita bisa makan pada hari itu. Sehingga kita tidak memikirkan kebutuhan sekunder, dan kebutuhan mewah lainya. Hari ini banyak kaum muslimin diberbagai belahan dunia lainnya kehilangan tempat berlindung, rumah mereka hancur karena diperangi , kondisi mereka tidak sehat bahkan mereka untuk makan saja bingung, banyak kelaparan melanda di Yaman, Suriah,  kemudian terjadi pengusiran saudara-saudara muslim kita di Cina, di Myanmar dan sebagainya. jadi kita mesti bersyukur nyaman tinggal dirumah, masih sehat dan masih bisa makan, jadi itu yang kita syukuri karena kita masih cukup bahagia. Tentu tidak cukup kalau kebahagian dalam tataran individu, ada 4 level kebahagian yang harus diperjuangkan 

1. pertama bahagia secara individu

yaitu ketika kita tinggal aman dirumah, sehat dan cukup bahan makanan pokok, dimana tidak ada perasaan tertekan kita bisa menjalankan aktivitas secara produktif baik dalam urusan ibadah, muamalah sesuai dengan syariat islam.

2. Level kedua yaitu kebahagian hubungan keluarga

ketika hubungan antar anggota keluarga harmonis, akrab, cair dan terbuka. Adem, tentram, dan plong  Maka rumah ibarat surga bukan rumah ibarat seperti neraka. Na’uzubillahi min zalik.

3. Level ketiga yaitu masyarakat yang bahagia
ketika masyarakat bahagia kita tinggal dilingkunga yang kondusif, nyaman, aman dan masyarakatnya tidak egois saling peduli, salin amar ma’ruf nahi munkar, kita hidup disuasana masyarakat yang religius. 

4. Dan level ke empat, negara yang bahagia

 yaitu negara yang dirahmati Allah, negara yang diridhoi Allah karena tunduk dan patuh pada sang pencipta negara yang menerapkan sistem secara kaffah sehingga menjamin keamanan. Kenyamanan., dan  kesejahteraan warga negara secara adil. Itu level kebahagian negara yang hakiki, negara yang membahagiakan warga negaranya, yaitu negara yang menerapkan syariah islam secara kaffah. Kepemimpinan umum bagi seluruh kaum muslimin di dunia untuk menegakkan hukum-hukum syariah islam dan mengemban dakwah islam keseluruh penjuru dunia. Maka  Itu harus diperjuangkan  dengan cara melakukan dakwah dengan menyadarkan umat, mengedukasi umat terus menerus supaya umat tunduk dan patuh pada syariat, masyarakat tunduk dan patuh pada syariat dan negara menerapkan syariat. Apalagi aktivitas dakwah ini aktivitas yang membahagikan, jangan ditinggalkan. Aktivitas yang bernilai amal jariyah sangat tinggi, pahala yang tidak putus-putus. Jadi kalau kita ingin bahagia maka mari kita hijrah dari sistem sekuler menuju sistem islam, sistem yang menjamin kebahagian hakiki, baik menjamin kebahagian di dunia dan akhirat. Mudah-mudahan kita bisa mencapai kebahagian yang sempurna dan paripurna. Aamiin Allahumma Aamiin. Waallahu a’lam bishowab
Sumber :   kajian online  mar’ah shalihah, buku studi islam paradigma komprehensif.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar