Recent Posts

Total Tayangan Halaman

Labels

Pesan Sekarang Juga!

Cara Ngirim Tulisan

Cara mengirim tulisan ke Pena Pejuang : 1. Kirim tulisan, bisa dalam bentuk tulisan wa, bisa juga dalam format docx. 2. Sertakan dengan gamb...

Nabi Di Hina Lagi, Saatnya Umat Memilih Sistem Pelindung Sejati

Jumat, 06 November 2020


Oleh : Ummu Hanif, Anggota Lingkar Penulis Ideologis

Prancis menjadi sorotan dunia internasional terkait kartun dan karikatur Nabi Muhammad SAW. Terlebih pernyataan Presiden Prancis Emmanuel Macron yang dinilai ikut berperan hingga terjadi kontroversi. Kontroversi bermula dari tindakan seorang guru bernama Samuel Paty di kelas kebebasan berbicara. Dia mengajar dengan menunjukkan gambar kartun dan karikatur Nabi Muhammad yang berasal dari majalah Charlie Hebdo terbitan tahun 2015. Komunitas mengajukan protes dan Paty terbunuh dengan kepala dipenggal, dimana pelakunya adalah seorang pemuda asal Chechnya yang baru berusia 18 tahun. (www.detik.com, 30/10/2020)

Namun umat islam di dunia sangat menyayangkan apa yang dilakukan oleh presiden Perancis dalam merespon kejadian tersebut. Selain 'membela' kartun dan karikatur Nabi Muhammad, Macron mengatakan sedang merencakan aturan baru untuk memerangi "separatisme Islam". Macron menilai Islam menciptakan budaya yang menolak nilai-nilai, adat, dan hukum Prancis. Macron juga mengatakan Islam adalah agama yang sedang mengalami krisis di seluruh dunia dan posisi muslim makin sulit. Pernyataan ini ikut menjadi faktor terjadinya kontroversi kartun dan karikatur Nabi Muhammad.

Menanggapi sikap tersebut, Majelis Ulama Indonesia atau MUI mengeluarkan himbauan untuk memboikot produk Prancis. MUI juga menghendaki adanya peringatan keras pada negara tersebut.
Dalam rilis yang diterima detikcom tersebut, MUI juga berharap Indonesia mengambil tindakan penarikan Duta Besar. Penarikan bersifat sementara hingga Presiden Macron menarik ucapannya dan minta maaf. MUI menjelaskan, umat Islam sebetulnya tidak ingin cari musuh dan memilih hidup damai dengan masyarakat lain. Namun umat Islam punya martabat dan harga diri yang harus dibela, jika ada tindakan yang bersifat penghinaan.

Tidak hanya di Indonesia, gelombang protes juga ada di berbagai belahan dunia islam. Banyak negara Islam yang menyesali pernyataan Macron dan melakukan boikot produk Prancis. Salah satunya Turki yang menyatakan Presiden Macron perlu pemeriksaan kesehatan mental.
Kemarahan umat bukan tanpa sebab. Musuh kembali menghina Rasulullah. Setelah seluruh atribut kepribadian Islam dilucuti habis, melalui upaya-upaya sistemik kepemimpinan kufur, kini teladan umat yang keberadaannya bersama Allah, wajib kita cintai melebihi kecintaan terhadap keluarga, harta dan lainnya, pun menjadi bulan-bulanan penguasa kufur.

Ini bukan kali pertama, dahulu Prancis dan Inggris pernah mengadakan teater komedi karya Voltaire untuk menghina Rasulullah. Pada saat itu kholifah menyatakan sikap penentangannya, tidak sekedar mengecam. Namun saat ini, mengandalkan keberanian para pemimpin negeri muslim bagaikan mimpi di siang bolong. Hanya Erdogan yang bereaksi, itu pun hanya sebatas kata. Tidak ada pengerahan militer sebagaimana Khalifah menyelesaikan perkara penghinaan terhadap Islam. Sementara presiden yang lain pun hanya sebatas mengecam, atau bahkan diam seribu basa. Bisa jadi karena mereka tunduk di bawah kendali Prancis.

Barat tahu benar, kaum muslim tidak memiliki kekuatan politik yang mampu beradu tanding dengan mereka. Bahkan untuk membela nabinya sendiri pun, tidak mampu. Tidak ada mobilisasi pasukan, tidak ada sanksi. Karenanya tanpa khilafah, umat akan selalu menjadi pesakitan, menjadi bulan-bulanan kekuatan kufur. Tidak hanya menyerang pemikiran, nyawa bahkan akidah pun akan dilibas habis. 

Padahal sangat keras hukuman bagi penghina nabi. Menurut al-Qadhi Iyadh rahimahullah, hukuman bagi orang yang menista atau menghina Nabi shollallaahu alaihi wassalam adalah dengan membunuhnya. Hal tersebut dijelaskan secara panjang lebar oleh al-'Allamah al-Qadhi Iyadh dalam Kitab al-Syifa bi-Ta'rif Huquq al-Mushthafa,   halaman 760-884, Cet Dar al-Basya'ir al-Islamiyyah.

Oleh sebab itu, perlu adanya kepemimpinan umat, sebuah kekuatan yang menolong. Institusi yang berdiri tegak melindungi umat dari berbagai serangan yang merusak. Ketika Nabi kembali di hina, harusnya umat semakin paham bahwa mereka butuh institusi sejati yang akan terus melindungi, yakni sistem islam totalitas. Khilafaj Islamiyah ‘alaa minhajin nubuwah.
Wallhu a’lam bi ash showab

Tidak ada komentar:

Posting Komentar