Recent Posts

Perancis Hina Nabi, Tak Cukup Hanya Boikot Produk!

Senin, 09 November 2020



Oleh: Aghnia Yanisari (Aktivis Dakwah Banjarmasin)

 

Dunia dihebohkan dengan pemberitaan tentang penghinaan kepada Rasulullah SAW melalui pembuatan karikatur oleh majalah satire asal Prancis, Charlie Hebdo. Hal itu semakin memanas setelah Presiden Prancis, Emmanuel Macron tidak melakukan pelarangan atas isu pelecehan Islam dan pembuatan kartun Nabi Muhammad. Dengan dalih kebebasan berekspresi, Emmanuel Macron membela majalah satire Charlie Hebdo untuk pembuatan kartun Nabi Muhammad. Sontak, kabar tersebut membuat Prancis dan majalah Charlie Hebdo mendapat kecaman dari negara-negara mayoritas Muslim di seluruh dunia.

Charlie Hebdo meyakini bahwa freedom of speech atau kebebasan berbicara dalam dunia jurnalistik tidak memiliki batasan. Perlu diketahui sebelumnya, Charlie Hebdo telah sempat memuat karikatur Nabi Muhammad tepatnya pada tahun 2006 dengan judul "Muhammad kewalahan oleh kaum fundamentalis". karikatur yang menggambarkan Nabi Muhammad yang dicetak ulang oleh Charlie Hebdo, setelah pada tahun sebelumnya sempat diterbitkan oleh surat kabar asal Denmark, Jyllands-Posten. (Sumber: Lingkar Kediri)

Diketahui, ummat Islam marah kepada Emmanuel Macron lantaran pernyatannya dinilai menghina agama Islam. Selain menyatakan tidak akan melarang penerbitan karikatur nabi Muhammad, Macron juga menyebut Islam sebagai teroris, setelah adanya pemenggalan seorang guru sejarah di Paris. Guru bernama Samuel Paty itu dipenggal beberapa hari setelah mendiskusikan dan memperlihatkan gambar yang disebutnya sebagai Nabi Muhammad. Bahkan Macron memberi penghormatan tertinggi kepada keluarga Paty, dengan meninggalnya Paty dianggap sebagai gugurnya pahlawan berwajah demokrasi. Dan membela Patty adalah sebagai wujud mempertahankan Sekulerisme negara.

 

Awal bulan ini, sebelum pembunuhan sang guru, Macron mengumumkan rencana undang-undang yang lebih ketat untuk mengatasi hal yang ia sebut "separatisme Islam" di Prancis. Ia mengatakan, kelompok minoritas Muslim di Prancis - terdiri dari kira-kira enam juta orang - berpotensi membentuk "masyarakat tandingan". Ia menggambarkan Islam sebagai agama "dalam krisis". (Sumber: Tribun news)

Umat Islam pun menyerukan boikot terhadap semua produk perancis. Sebagai upaya perlawanan terhadap sikap Presiden Perancis yang menghina Islam. Seruan boikot tidak hanya datang dari wilayah timur tengah, namun juga diserukan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) sebagai wujud bela nabi. (Detik.com)

Namun, apakah hanya dengan boikot barang-barang Prancis dapat membungkam mulut keji mereka? Atau dapat menghentikan perlakuan intoleran, melecehkan dan menghina ajaran Islam juga Nabi? Tampak sejumlah negara berpenduduk Muslim memboikot produksi Prancis. Hal itu menandakan masih adanya ‘nyawa’ bagi umat Islam menghadapi Barat dengan segala bentuk kebenciannya pada Islam. Namun ini tidak akan ampuh menghentikan total penghinaan berulang terhadap Nabi Muhammad Saw. Dapat dipastikan perang peradaban akan selalu terjadi. Antara Sekulerisme dan Islam, mengingat kasus penistaan bukan hanya kali ini saja terjadi. Sudah banyak ditemukan penghinaan kepada nabi, Al-Qur’an dan ajaran yang dibawa beliau, tak hanya datang dari Perancis, namun juga dari negara-negara penganut paham yang sama seperti Perancis.

Harus diiringi dengan boikot terhadap sekularisme-liberalisme yang menjamin kebebasan berpendapat hingga bebas menghujat ajaran Islam serta Nabi Muhammad. Boikot demokrasi dan kapitalisme, sebagai biang kerok atas setiap tindakan penghinaan serta pelecehan terhadap Islam dan umat Islam. Sesungguhnya inilah yang paling berbahaya dari produk-produk Prancis yang tetap eksis di berbagai negeri Muslim. Prancis yang merupakan negara bebal harus dilawan dengan boikot total, “mengharamkan” segala ide-ide mereka di setiap negeri muslim. Karena sistem Sekuler-Demokrasi ialah sumber peradaban Barat yang menghasilkan kerusakan bagi manusia.

Jika hanya melakukan boikot barang-barang Prancis tanpa menghancurkan peradaban Barat yang masih terus menyebarkan sekularisme, liberalisme, demokrasi, dan kapitalisme, tentu hanya menjadi solusi parsial tanpa menyentuh akar masalah. Maka, menghancurkan peradaban Barat menjadi solusi fundamental untuk mengakhiri kebencian dan kekejian Barat terhadap Islam. Boikot total berarti masyarakat tidak percaya lagi terhadap ideologi gagal bernama kapitalisme. Praktiknya pun telah lenyap, khususnya sistem politik dan ekonominya, turut juga bentuk-bentuk fisiknya pun ikut hancur yang menjadi simbol kebanggaan sistem tersebut.

Inilah yang seharusnya kita lakukan dengan segenap kesungguhan dan perjuangan. Bukan yang lain. Tanpa basa-basi, tidak ada jalan tengah, kompromi atau pun moderasi. Tidak ada pula dialog antar penguasa negara juga tidak ada pula titik temu antar peradaban. Karena hanya akan menghasilkan kesepakatan yang menguntungkan Barat, tersebab masih banyak penguasa yang tunduk dan tidak bisa berkutik terhadap kekuatan Barat.

Ratusan abad silam, Islam telah memberikan contoh bagaimana seharusnya negara bertindak terhadap pelaku penistaan agama. Melalui institusi khilafah, yakni negara yang memiliki sistem pemerintahan berdasarkan Syariat Islam, terbukti mampu menghentikan perilaku tercela dari Perancis yang hendak melecehkan Rasul. Tatkala mereka ingin menggelar drama teater yang berisikan tentang penghinaan kepada Nabi, maka pada saat kabar itu terdengar sampai kepada Sultan Abdul Hamid, segera beliau memberi peringatan kepada Perancis untuk membatalkan teater tersebut, jika tidak maka Khalifah akan mengirimkan pasukkannya untuk menyerang perancis, karena kala itu Khilafah adalah negara superpower, membentang luas hingga 2/3 bagian dunia, sehingga memiliki ratusan ribu militer dengan dibekali ketakwaan yang siap jihad di jalan Allah. Seketika itu Perancis tak berani berkutik, mereka segera membatalkan pementasan tersebut.

Sejumlah riwayat menceritakan dengan tegas dan jelas tentang sikap para Sahabat sekaligus Khalifah terhadap penghina Nabi Saw, antara lain, Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq ra memerintahkan untuk membunuh penghina Rasulullah Saw, sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Daud rahimahullah dalam Sunannya hadis ke 4.363. Dan kisah ini juga diriwayatkan oleh An-Nasai, Al-Hakim, Ahmad, Al-Baihaqi, Al-Humaidi dan Abu Ya’la rahimahumullah.

Inilah sikap para penguasa Islam dalam Khilafah  membungkam Negara bebal penghina Nabi. Tentu tak ada satu pun yang berkutik di  hadapan Khalifah dan kekuatan Khilafah. Berbeda kondisinya disaat tidak ada Khilafah, para penguasa Muslim hanya mampu berikan kecaman dan boikot barang-barangnya. Maka sudah seharusnya mengembalikan kemuliaan Islam dengan menegakkan Khilafah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar