Recent Posts

Saatnya Umat Bangkit Melawan Penghina Nabi

Senin, 09 November 2020


Oleh: Rumi*


Saat ini umat muslim di seluruh dunia vokal menyuarakan kemarahannya dalam bentuk aksi dan boikot produk Prancis sebagai respon terhadap kasus pelecehan yang ditujukan pada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alayhi wa Sallam. Sumber pemicunya adalah majalah satir Charlie Hebdo yang menerbitkan ulang karikatur Nabi kecintaan umat Muslim pada bulan September 2020. Hal ini menjadi polemik besar yang mampu menarik perhatian dan protes dari berbagai pihak, khususnya kaum muslim. 

Dikutip dari Al Jazeera, kronologi aksi boikot ini berawal saat Samuel Paty, guru di Perancis dibunuh pada 16 Oktober 2020 oleh remaja berusia 18 tahun asal Chechnya yang tinggal di kota Evreux, Normandia. Guru tersebut dibunuh usai menunjukkan gambar kartun Rasulullah yang telah diterbitkan ulang oleh majalah satir Charlie Hebdo tersebut kepada murid-muridnya dimana ini adalah salah satu hal yang dilarang dalam agama Islam. Sayangnya Macron selaku Presiden Prancis merespons dengan menyampaikan pembelaan penuh semangat terhadap kebebasan berbicara dan nilai-nilai sekuler yang berlaku di Prancis. Dikutip dari BBC, pada sebuah upacara, Macron memuji aksi Samuel Paty dan bersumpah untuk "melanjutkan perjuangan kebebasan berpendapat, perjuangan untuk mempertahankan Republik tersebut." (kumparan.com/07/11/2020)

Semua itu tentunya menimbulkan sejumlah kecaman dari berbagai pemimpin negeri-negeri Islam hingga aksi protes dan seruan boikot produk Prancis termasuk di Indonesia. Pengguna media sosial di Arab Saudi dan Uni Emirat Arab turut menyerukan aksi boikot terhadap raksasa supermarket Perancis, Carrefour. Pedagang di Yordania, Kuwait dan Qatar telah memindahkan barang-barang Perancis dari rak-rak toko, sementara Universitas Qatar telah membatalkan pekan budaya Perancis. (tirto.id/07/11/2020)

Seperti yang diketahui bersama, bahwa pemicu dari segala kericuhan ini adalah majalah satir asal Prancis, Charlie Hebdo yang menampilkan karikatur Nabi Muhammad Shallallahu ‘alayhi wa Sallam. Di tambah lagi, dukungan Macron terhadap penerbitan majalah ini dengan dalih kebebasan berekspresi. Maka dapat diambil kesimpulan bahwa penyebab yang sebenarnya adalah sekularisme dan liberalisme. Sebuah paham yang memisahkan agama daripada dunia dan menjadikan kebebasan sebagai standar hidup bernegara. 

“Tak akan ada asap, jika tak ada api.” Semua yang terjadi saat ini tidaklah terjadi tanpa alasan yang jelas. Seringkali dewasa ini, ketika menyelesaikan sebuah permasalahan tidak dari akar, melainkan pada permasalahan yang nampak di permukaannya saja. Sehingga, solusi penyelesaiannya pun sangat pragmatis dan tidak menimbulkan efek yang besar guna menyelesaikan akar masalahnya. 

Sekularisme dan liberalisme merupakan masalah yang sangat kompleks dan serius. Maka, rasanya tidak akan selesai jika yang dilakukan hanya sekadar boikot produk. Kendati demikian, hal tersebut merupakan salah satu respon dari kemarahan yang ada. Bahwa dalam naungan paham sekular dan liberal, keberagaman hanyalah omong kosong belaka. Sekularisme-liberalisme tidak mampu menjaga kesucian beragama. 

Islam sangat menghargai perbedaan yang ada, termasuk perbedaan memeluk agama. Bercermin pada masa kekhalifahan, hak-hak non muslim dilindungi dan menjadi perhatian yang sama besarnya dengan kaum muslim lainnya. Mereka dilindungi, diberikan kebebasan beragama, dan bebas dari penganiayaan. Di antara pengaturan pertama yang dibuat adalah Perjanjian Umar ibn al-Khattab yang menjamin orang-orang Nasrani di Jerusalem dengan kebebasan beragama dan keselamatan dalam penunaiannya.

Ketika Islam menjadi standar hidup bernegara, maka kesejahteraan dan keadilan bukan hanya bagi mereka kelompok mayoritas, melainkan minoritas sekalipun dapat merasakan hal yang sama. Sedikit demi sedikit, keburukan sekularisme-liberalisme mulai terbongkar. Sejarah peradaban Islam bukan lagi soal wacana, namun sebuah rencana. Sebab, hanya dengan penerapan Islam Kaffah-lah minoritas dan mayoritas merasa aman dan sejahtera.

*(Mahasiswi Kampus Cirebon)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar