Recent Posts

Total Tayangan Halaman

Labels

Pesan Sekarang Juga!

Cara Ngirim Tulisan

Cara mengirim tulisan ke Pena Pejuang : 1. Kirim tulisan, bisa dalam bentuk tulisan wa, bisa juga dalam format docx. 2. Sertakan dengan gamb...

NYAWA, BAYARAN MAHAL PILKADA DITENGAH WABAH

Minggu, 13 Desember 2020



Oleh : Ummu Aqeela

Pelaksanaan Pilkada serentak sudah selesai, tapi kasus Corona belum juga usai. Justru kasus Corona malah naik lagi. Yang menyedihkan, tak sedikit kontestan dan penyelenggara Pilkada meninggal karena Corona. Pilkada menelan korban. Tercatat, ada 76 kandidat Pilkada 2020 yang dinyatakan positif Covid-19 dan 5 orang di antaranya meninggal dunia. 76 kepala daerah tersebut terdiri dari 44 calon bupati, 19 calon wakil bupati, 10 calon wali kotaI dua calon wakil wali kotaI dan satu calon gubernur. Mereka yang meninggal adalah calon Walikota Dumai Eko SuharjoI calon Walikota Bontang Adi DarmaI calon Bupati Kabupaten Bangka Tengah Ibnu Saleh dan calon Bupati Berau Muharram. TerbaruI yakni calon Bupati Barru Malkan Amin yang meninggal saat hari Pencoblosan (9/12) karena positif Corona. Selain kontestan, tak sedikit juga penyelenggara Pilkada yang tewas karena Corona. Kemarin, Ketua KPUD Tangerang Selatan, Bambang Dwitoro meninggal dunia. Bambang meninggal saat dirawat di RS Sari Asih Ciputat usai dinyatakan positif Covid-19. Komisioner Bawaslu, Mochammad Afifuddin mencatat, banyak petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) yang dinyatakan positif Corona. Bahkan, petugas KPPS yang reaktif Corona, justru masih bertugas di 1.172 TPS. ( https://rmco.id/baca-berita/nasional/57288/corona-naik-lagi-pilkada-membawa-korban )

Islam memberikan perhatian sangat serius tentang persoalan nyawa manusia ini, bahkan perlindungan atas nyawa manusia merupakan salah satu dari maksud tujuan utama diturunkannya syariat (maqasid syar'iyah), yaitu hifdun nafs, menjaga dan melindungi jiwa, diri manusia. Hal ini menandakan bahwa penghargaan islam yang sangat tinggi dan serius atas nilai sebuah nyawa manusia.
Nilai nyawa dalam Islam sangat tinggi dan begitu berharga di hadapan Allah swt dan Rasul-Nya, terlebih nyawa ummat Muhammad. Bahkan dalam ranah Ushul Fiqih , persoalan nyawa manusia masuk dalam kategori al Dharuriyat al khamsah (lima hal primer yang wajib dipelihara). Artinya, pada hukum asalnya, nyawa manusia tidak boleh dihilangkan begitu saja tanpa ada alasan yang jelas. Tak peduli, apakah nyawa orang muslim maupun kafir.
Terkait dengan masalah ini, Allah swt firman :
“Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain , atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya . Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya.” (QS. Al-Ma’idah: 32)

Dalam ayat ini dengan sangat jelas bahwa orang yang menghilangkan nyawa seseorang tanpa ada kesalahan yang jelas sesuai syariat maka seolah-olah seperti membunuh semua manusia. Meski ayat ini terkait dengan Bani Israil, namun pesannya tetap berlaku hingga akhir zaman. Terlebih jika yang dibunuh adalah orang beriman dengan sengaja tanpa ada alasan jelas maka diancam dengan hukuman neraka jahannam, kekal di dalamnya dan dimurkai Allah swt :
“Dan barangsiapa yang membunuh seorang mu’min dengan sengaja maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya.” (QS. An-Nisa: 93)

Bahkan Nabi saw memberikan peringatan keras kepada mereka yang dengan sengaja menghilangkan nyawa orang lain secara dhalim, semena-mena, sebagaimana dalam sabdanya:
“Pertama kali yang akan dituntut pada hari kiamat adalah masalah (pertumpahan) darah.” (HR. Bukhari, Nasa`i, Ibnu Majah dan Ahmad)
Maka, urusan menghilangkan nyawa seseorang dalam Islam bukanlah hal sederhana. Pelakunya harus bertanggungjawab di hadapan Allah swt dengan sanksi yang sangat berat dan termasuk dosa besar, terlebih menghilangkan dengan paksa nyawa ummat muhammad yang sedang berjuang menegakkan kebenaran.

Jika suatu negara sudah tidak lagi peduli dengan nyawa rakyatnya maka penguasa negeri itu telah nyata berbuat dhalim pada rakyatnya yang tentunya kelak akan berat pertanggungjawabannya di hadapan Allah swt. Pertanyaannya mengapa banyak orang tidak ada peduli terhadap persoalan nyawa manusia dari warga bangsanya ?. Hal ini bisa jadi disebabkan karena sikap ketidakpedulian mereka atas aturan Allah swt dan karena mereka telah menjadikan kepentingan diri dan kelompoknya sebagai standar penilaian dalam meletakkan dasar keadilan dan kepedulian. Mereka telah meninggalkan aturan Allah swt dan memisahkannya dengan urusan kepentingan duniawinya, sekularisasi kehidupan.
Apa yang sekarang sedang terjadi saat ini yaitu ketidakpedulian penguasa dan sebagian anak bangsa atas hilangnya nyawa manusia secara paksa dan tidak wajar adalah merupakan dampak dari sekularisme kehidupan. Sekulerisme telah menghancurkan nilai Islam dalam kehidupan dan mencabut fitrah manusia yang sejatinya memerlukan Rabb-nya untuk mengatur hidupnya. Dangkalnya pemahaman agama, memperparah keringnya kejiwaan. Materi lebih berharga dibandingkan iman. Hilang rasa kasih sayang di antara saudara. Alhasil, menyakiti hingga membunuh sesama manusia berasa biasa.


Demikianlah jika aturan islam ditinggalkan maka yang akan terjadi adalah kekacauan dan penghargaan yang rendah terhadap harga diri dan jiwa manusia. Sementara sejatinya aturan islam adalah untuk memuliakan manusia dan menjadikan kehidupannya tenang bahagia. Sehingga setiap jiwa dan nyawa manusia sangat berharga.

Imam Bukhari dan Muslim telah meriwayatkan hadits dari jalur Abu Hurairah radhiya-Llahu ‘anhu, bahwa Nabi shalla-Llahu ‘alaihi wa Sallama, bersabda:
إِنَّمَا الإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ فَإِنْ أَمَرَ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَعَدْلٌ كَانَ لَهُ بِذَلِكَ أَجْرٌ ، وَإِنْ يَأْمُرُ بِغَيْرِهِ كَانَ عَلَيْهِ مِنْهُ [رواه البخاري ومسلم]
“Sesungguhnya seorang imam itu [laksana] perisai. Dia akan dijadikan perisai, dimana orang akan berperang di belakangnya, dan digunakan sebagai tameng. Jika dia memerintahkan takwa kepada Allah ‘Azza wa Jalla, dan adil, maka dengannya, dia akan mendapatkan pahala. Tetapi, jika dia memerintahkan yang lain, maka dia juga akan mendapatkan dosa/adzab karenanya.” [Hr. Bukhari dan Muslim]
Mengapa hanya Imâm/Khalîfah yang disebut sebagai Junnah [perisai]? Karena dialah satu-satunya yang bertanggungjawab sebagai perisai, sebagaimana dijelaskan dalam hadits lain:
«الإِمَامُ رَاعٍ وَهُوَ مَسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ».
“Imam/Khalifah itu laksana penggembala, dan hanya dialah yang bertanggungjawab terhadap gembalaannya.” [Hr. Bukhari dan Muslim]
Menjadi Junnah [perisai] bagi umat Islam, khususnya, dan rakyat umumnya, meniscayakan Imâm harus kuat, berani dan terdepan. Bukan orang yang pengecut dan lemah. Kekuatan ini bukan hanya pada pribadinya, tetapi pada institusi negaranya. Kekuatan ini dibangun karena pondasi pribadi dan negaranya sama, yaitu akidah Islam. Inilah yang ada pada diri Nabi shalla-Llahu ‘alaihi wa Sallama dan para Khalifah setelahnya.

Inilah perisai yang harus kita bangun kembali. Oleh karena itu umat Islam tidak boleh melupakan perisai ini. Jika umat melupakannya maka itu adalah musibah di atas musibah. Karena Agama itu pondasi, sedangkan kekuasaan itu adalah penjaga. Sesuatu yang tanpa pondasi akan roboh dan sesuatu yang tanpa penjaga akan hilang. Untuk itu memperjuangkan tegaknya syari’at Islam dalam bingkai Khilafah adalah sebuah kewajiban yang akan kita pertanggungjawabkan dihadapan Allah kelak.

Khilafah adalah kepemimpinan umum bagi seluruh Kaum Muslimin di dunia untuk menegakkan Syariat Islam dan mengemban dakwah ke segenap penjuru dunia. Kewajiban menegakkan Khilafah didasarkan pada perintah yang tegas di dalam Al-Qur’an, As-sunnah dan ijmak sahabat. Keberadaanya sebagai sistem kehidupan meniscayakan pada tegaknya hukum Syariah. Sebaliknya, ketiadaanya berkonsenkuensi pada lenyapnya hukum Syariah dan lahirnya kerusakan. Tanpa khilafah eksistensi Islam sebagai solusi persoalan umat dan pembawa rahmat seluruh alam hilang. Tidakkah kita merindukan masa kegemilangan Islam, yang menjadi mercusuar bagi peradaban dunia?. Tidak hanya satu nyawa namun keselamatan umat seluruhnya akan terjaga dengannya.

Wallahu'alam bishowab

Tidak ada komentar:

Posting Komentar