Recent Posts

Total Tayangan Halaman

Labels

Pesan Sekarang Juga!

Cara Ngirim Tulisan

Cara mengirim tulisan ke Pena Pejuang : 1. Kirim tulisan, bisa dalam bentuk tulisan wa, bisa juga dalam format docx. 2. Sertakan dengan gamb...

Islam Akhiri Derita Perempuan

Senin, 21 Desember 2020


Oleh: Ayu Susanti, S.Pd


Perempuan adalah makhluk istimewa dan mulia jika hidup dalam sistem dan lingkungan yang benar. Namun saat ini perempuan mengalami derita dan kegundahan yang tidak ada habisnya. Mengapa tidak? Karena tuntutan ekonomi, salah satunya, membuat para perempuan terjun ke dunia kerja untuk memenuhi kehidupan diri dan keluarganya.


 Para perempuan ini rela kerja apapun termasuk menjadi buruh pabrik untuk mencari sesuap nasi demi keluarganya. Namun, ternyata penderitaan seorang perempuan tidak berhenti di sana. Saat bekerja pun, banyak kasus yang terjadi menimpa perempuan. Seperti perlakuan yang tidak layak atau bahkan mengalami kekerasan seksual.


Di banyak perusahaan, buruh perempuan dipersulit untuk mendapatkan cuti haid yang sebenarnya sudah dilindungi dalam Undang-Undang (UU) Ketenagakerjaan No. 13 tahun 2003. Izin cuti haid baru bisa terwujud ketika mendapatkan surat keterangan dokter (SKD) yang dikeluarkan oleh klinik pabrik atau klinik tingkat I yang tercantum dalam kartu Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS). 


Proses yang rumit ini membuat buruh perempuan terpaksa memilih menahan sakit saat bekerja. Banyak perusahaan juga lalai menjamin keselamatan buruh perempuan akibatnya mereka rentan mengalami pelecehan dan kekerasan seksual. (https://theconversation.com/).


Penderitaan tiada akhir perempuan harus dirasakan saat memang sistemnya adalah buatan manusia yang tidak mampu untuk mengatur kehidupan dan memuliakan perempuan. Sekulerime, pemisahan agama dari kehidupan membuat manusia memiliki hak penuh untuk membuat dan merumuskan aturan hidup sesuai dengan akal dan hawa nafsunya. 


Manusia yang serba lemah dan terbatas saat membuat sebuah hukum, maka aturan yang dilahirkan pun adalah aturan yang lemah dan terbatas tidak jauh beda sifatnya dengan manusia. Perempuan bisa terjun ke dunia kerja karena memang salah satu faktornya adalah desakan ekonomi. 


Dalam sistem sekulerisme, kebutuhan primer seperti sandang, pangan, papan dan penjaminan layanan publik yang lainnya seperti keamanan, kesehatan dan pendidikan tidak bisa dirasakan secara cuma-cuma oleh masyarakat luas. Semuanya harus dibayar dengan biaya yang tidak sedikit. 


Sehingga sudah menjadi hal yang wajar jika pemenuhan kebutuhan primer rakyat tidak bisa diakses dengan mudah. Hanya orang yang mampu saja yang bisa menjamin kebutuhannya sendiri. Sekulerisme yang erat dengan asas manfaat memberlakukan aturan yang bisa melahirkan manfaat dan keuntungan materi. 


Sehingga suatu hal yang tidak mungkin jika kebutuhan primer rakyat diberikan begitu saja secara cuma-cuma. Maka dari itu untuk memenuhi kebutuhan hidup yang semakin melambung naik, maka semua orang harus bekerja dan berusaha termasuk kaum perempuan. 


Begitulah aturan buatan manusia yang tidak bisa memberikan kemaslahatan. Berbeda halnya dengan Islam. Islam adalah agama yang sempurna yang Allah turunkan untuk ummat manusia. Islam tidak hanya mengatur ibadah ritual saja namun semua masalah kehidupan, Islam punya solusinya. Termasuk bagaimana memuliakan seorang perempuan dan mengakhiri penderitaannya. 


Dalam Islam, seorang perempuan tidak diwajibkan untuk bekerja dan mencari nafkah bagi keluarganya. Justru seorang perempuan wajib dinafkahi oleh ayahnya jika belum menikah, oleh suaminya jika sudah menikah. Bahkan saat dia sudah berpisah dengan suaminya karena cerai atau suami sudah meninggal maka dia dinafkahi oleh keluarga dan kerabat-kerabatnya. 


Atau saat seorang perempuan tersebut tidak memiliki lagi sanak saudara yang bisa menafkahi, maka beban hidupnya ditanggung oleh negara dari dana di baitul mal. Sungguh luar biasa pengaturan hidup dalam Islam. Islam sangat memuliakan seorang  perempuan. Dan bahkan menjaga betul perempuan, dimulai dari penjagaan aurat sampai perlakuan kepada perempuan. 


Bahkan untuk urusan nafkah pun sangat diperhatikan. Sehingga solusi untuk menyelesaikan masalah perempuan termasuk masalah buruh perempuan bukan solusi yang parsial setengah-setengah. Dan bukan masalah keseteraan gender yang harus disamakan haknya dengan laki-laki, namun solusinya adalah harus kembali kepada aturan yang sempurna dan menyeluruh yakni aturan Islam. 


Karena kasus perempuan ini bukan masalah parsial tapi erat kaitannya dengan masalah-masalah lain seperti ekonomi. Oleh karena itu jika kita mau terbebas dari kehidupan yang sempit, maka harus kembali kepada aturan Allah dalam mengatur kehidupan ini. Saat penduduk bumi bertakwa kepada Allah, taat dan tunduk kepada aturan Allah maka keberkahan akan didapat. 


Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan”. (QS. Al-A’raf : 96). 
Wallahu’alam bi-showab. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar