Recent Posts

Total Tayangan Halaman

Labels

Pesan Sekarang Juga!

Cara Ngirim Tulisan

Cara mengirim tulisan ke Pena Pejuang : 1. Kirim tulisan, bisa dalam bentuk tulisan wa, bisa juga dalam format docx. 2. Sertakan dengan gamb...

KEBIMBANGAN PEMBUKAAN SEKOLAH DI MASA PANDEMI

Selasa, 08 Desember 2020



Oleh : ummu hafsa

 

Menyambut kembali dibukanya sekolah, bagi sebagian kalangan hal itu merupakan kabar baik. Meski pandemi masih belum menunjukkan angka penurunan yang signifikan. Hal ini disebabkan oleh tidak meratanya akses internet yang memadai di area tempat tinggal para siswa ketika adanya pembelajaran daring, juga masih banyak siswa dari kalangan kurang mampu, sehingga terbatas pula proses belajar selama sekolah ditutup dikarenakan tidak memiliki gawai pribadi. (https://www.liputan6.com/news/read/4413700/komisi-x-dpr-dukung-pemerintah-buka-sekolah-pada-januari-2021 ). Tentu hal ini sangat mempengaruhi PJJ (Pembelajaran jarak jauh). Karena ketidakmerataan sarana.

 

Namun bukan berarti dibukanya kembali sekolah bukan tanpa risiko. Karena potensi anak-anak terpapar virus Corona masih tinggi. (https://www.kompas.com/tren/read/2020/08/07/183356065/sekolah-tatap-muka-di-zona-kuning-sudah-siap-dengan-risiko-dan-bahayanya?page=all#page2). Bagi sebagian masyarakat hal tersebut dianggap sangat mengkhawatirkan. Di satu sisi anak-anak butuh kembali belajar di sekolah, agar penerimaan materi ajar bisa runtut dan memenuhi kebutuhan belajar siswa. Namun di sisi lain juga harus siap dengan risiko yang ada.

 

Physical distancing di sekolah harus dilakukan secara ketat. Hal lain yang juga perlu dioptimalkan adalah ketersediaan wastafel, toilet yang bersih, masker dan lainnya. Karena menurut riset, 50% sekolah di Indonesia belum mempunyai wastafel dengan air mengalir dan itu sangat dibutuhkan di saat pandemi ini.

 

Dari sini bisa dilihat bahwa rezim sekuler kapitalis sangat meremehkan penanganan covid-19. Karena sejak awal mula covid ada, penanganannya sangat tidak optimal, dan menutup telinga untuk saran-saran yang ditujukan untuk pemerintah. Seperti saran untuk menutup pintu kedatangan TKA misalnya. Hal itu tidak dilakukan. Malah seakan membuka lebar pintu untuk TKA, dikarenakan kepentingan ekonomi.

 

Seorang pemimpin dalam Islam hendaknya tanggap jika terjadi pandemi sejak awal datangnya. Seharusnya memisahkan orang yang sehat dengan orang yang sakit. Tidak memperbolehkan orang-orang di area pandemi untuk keluar wilayah. Pun sebaliknya tidak mengizinkan orang-orang di area aman untuk masuk ke area pandemi. Hal itu akan mempermudah dan mempercepat penanganan. Sehingga tidak akan terjadi pandemi yang begitu lama seperti sekarang ini. Hal tersebut tertulis dalam beberapa hadist sahih, diantaranya: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tha’un (wabah penyakit menular) adalah suatu peringatan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala untuk menguji hamba-hamba-Nya dari kalangan manusia. Maka apabila kamu mendengar penyakit itu berjangkit di suatu negeri, janganlah kamu masuk ke negeri itu. Dan apabila wabah itu berjangkit di negeri tempat kamu berada, jangan pula kamu lari daripadanya.” (HR Bukhari dan Muslim dari Usamah bin Zaid).

 

Riwayat Bukhari dan Muslim

قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يُورِدَنَّ مُمْرِضٌ عَلَى مُصِحٍّ

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah yang sakit dicampurbaurkan dengan yang sehat.” (HR Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)

 

Wallahu a’lam bish-showab

Tidak ada komentar:

Posting Komentar