Recent Posts

Total Tayangan Halaman

Labels

Pesan Sekarang Juga!

Cara Ngirim Tulisan

Cara mengirim tulisan ke Pena Pejuang : 1. Kirim tulisan, bisa dalam bentuk tulisan wa, bisa juga dalam format docx. 2. Sertakan dengan gamb...

Kehalalan Makanan, Bantu Membentuk Pribadi Sholih

Sabtu, 19 Desember 2020


Oleh: Maulinda Rawitra Pradanti, S.Pd
(Praktisi Pendidikan)

Makanan adalah salah satu kebutuhan jasmani yang harus dipenuhi. Jika tidak dipenuhi, maka akan dapat menyebabkan kematian. Makanan dan segala pemenuhannya menjadi bagian penting di dalam Islam. Islam memiliki aturan untuk mengatur makanan dan cara pemenuhannya.
Islam mengatur setiap Muslim untuk memakan makanan yang halal lagi thoyyib dan meninggalkan makanan yang haram lagi syubhat (meragukan apakah halal ataukah haram). Standar halal dan thoyyib inilah yang semestinya dipegang oleh setiap Muslim, agar terhindar dari murkanya Allah. Bukan malah memilih makanan yang enak dan praktis saja.
Setiap Muslim haruslah memiliki kepribadian Islam. Hakikat kepribadian Islam ini sesungguhnya adalah konsekuensi dia sebagai seorang Muslim. Dia harus menampakkan identitasnya, baik secara pola pikir, atau pola sikap. Tentu seluruhnya harus dilandaskan dengan aqidah Islam.
Begitu pula pada aspek makanan ini, seorang Muslim dikatakan memiliki kepribadian Islam jika dia selalu mengonsumsi makanan yang halal lagi thoyyib. Berhati-hati pada makanan yang syubhat, juga dengan tegas meninggalkan makanan yang jelas keharamannya.
Halal dan thoyyib bukan hanya dilihat dari luarnya saja, namun dipastikan pula dari segi bahan bakunya, cara memperoleh bahan bakunya, proses pembuatannya, proses pengemasannya, sampai proses penyajiannya. 
Difirmankan oleh Allah di dalam Q.S Abasa:24, yang artinya “maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya”. Juga berdasarkan firman Allah di Q.S Al-Maidah: 88, yang artinya “Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezekikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya”.

Halal dan thoyyib haruslah memiliki beberapa kategori. Dikatakan halal, jika makanan tersebut dibolehkan syariat, tidak terbuat dari barang haram/najis, tidak terkontaminasi dengan barang haram/najis, dan tidak memabukkan/membahayakan.

Adapaun makanan yang thoyyib adalah jika makanan tersebut baik, bersih, aman, higienis, bermanfaat, berkualitas, dan sesuai persyaratan regulasi makanan thoyyib.

Lantas apa korelasinya dengan pribadi yang sholih?
Perlu diketahui bahwa dengan mengonsumsi makanan yang halal dan thoyyib, maka akan membuat tubuh seseorang menjadi sehat dan kuat. Lebih daripada itu, sebagai Muslim, tentunya harus melaksanakan segala aturan Allah. Termasuk dalam perihal makanan ini.

“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah itu thoyyib (baik). Allah tidak akan menerima sesuatu melainkan dari yang thoyyib (baik). Dan sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada orang-orang mukmin seperti yang diperintahkan-Nya kepada para Rasul. Firman-Nya: ‘Wahai para Rasul! Makanlah makanan yang baik-baik (halal) dan kerjakanlah amal shalih. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.’ Dan Allah juga berfirman: ‘Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah rezeki yang baik-baik yang telah kami rezekikan kepadamu.'” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan tentang seorang laki-laki yang telah menempuh perjalanan jauh, sehingga rambutnya kusut, masai dan berdebu. Orang itu mengangkat tangannya ke langit seraya berdo’a: “Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku.” Padahal, makanannya dari barang yang haram, minumannya dari yang haram, pakaiannya dari yang haram dan diberi makan dari yang haram, maka bagaimanakah Allah akan memperkenankan do’anya?” (HR. Muslim no. 1015).

Catatan sejarah dakwah menunjukkan, konsisten dengan hidup halal terbukti menghasilkan hidup berkah dan dapat membentuk generasi yang sholih di medan perjuangan dakwah. Sebut saja kisah para ulama yang senantiasa menjaga makanan yang masuk ke dalam tubuhnya serta tubuh keluarganya. Al-Imam Abu Hanifah An-Nu’man bin Tsabit dan Imam Al-Bukhari contohnya.

Ditegaskan pula dalam hadist Rasulullah diriwayatkan dari Wahb bin Munabbih, ia berkata, “Siapa yang bahagia do’anya dikabulkan oleh Allah, maka perbaikilah makanannya.”
Dari Sahl bin ‘Abdillah, ia berkata, “Barangsiapa memakan makanan halal selama 40 hari, maka do’anya akan mudah dikabulkan.” 

Begitulah Islam dengan segala peraturannya, maka Islam juga akan memberikan berbagai manfaat ketika aturannya dijalankan.
Wallahu a’lam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar