Recent Posts

Total Tayangan Halaman

Labels

Pesan Sekarang Juga!

Cara Ngirim Tulisan

Cara mengirim tulisan ke Pena Pejuang : 1. Kirim tulisan, bisa dalam bentuk tulisan wa, bisa juga dalam format docx. 2. Sertakan dengan gamb...

Kontestan Pilkada Positif Covid-19، Pengorbanan demi Demokrasi?

Minggu, 13 Desember 2020



Penulis : Annisa Shabrina S.Psi 
Ibu rumah tangga

     Kontestan lomba lari mengejar medali emas diantara riuhan suporter, kontestan lomba memancing ikan mengejar juara diantara ikan ikan di lautan, kontestan pilkada 2020? Apa yang dikejar diantara tangisan rakyatnya? 
      Pada Pilkada 2020, diprekdiksi akan megalami penurunan *partisipasi dan minim legitimasi*, hal ini diperkuat dari hasil survei yang telah dilakukan IPI yang menunjukkan bahwa hampir 80 persen responden di daerah menyatakan khawatir datang ke TPS saat Pilkada 2020 (cnnindonesia.com), alasan utamanya karena pemilih merasa cemas akan pandemi Covid-19 yang sampai saat ini angka penularannya masih sangat  tinggi. Bagaimana tidak, baik peserta KPU bahkan bakal calon pikada pun tidak sedikit yang terinfeksi covid-19. 
     Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Hamdan Zoelva menyampaikan bahwa 70 orang calon kepala daerah terinfeksi Covid-19, dan 100 penyelenggara termasuk ketua KPU ikut terinfekai Covid-19 (bisnis.com). Melihat keprihatinan tersebut, banyak dari kalangan masyarakat yang menuntut untuk menunda pilkada di tengah pandemi seperti ini, termasuk ormas PBNU dan muhammadiyah yang memiliki pengikut loyal dalam jumlah besar di seluruh Indonesia, turut menyerukan untuk penundaan pilkada. 
    Tekanan serta ketakutan yang nyata dialami masyarakat tentunya berdampak pada angka partisipan juga legitimasi pilkada. Jangankan fokus pada pilkada, beberapa diantaranya pun bahkan tidak mengetahui bakal calon mana saja yang hendak dipilih. Hal ini dikarenakan masyarakat masih menjaga diri dari virus covid-19 dan lelah berharap pada hasil pemilu yang dirancang sistem demokrasi. Keluhan tersebut kemudian disampaikan oleh salah seorang ketua RT di kabupaten Bandung, "mau pilih siapa ya rasanya semua sama, janjinya sama, visinya sama, sama sama _ngga_ peduli dengan keadaan masyarakat juga kalo tetap mau dipilih di tengah pandemi gini, sama kan semua?".  Kini, sudah sangat terlihat jelas bahwa pemerintah lebih memaksakan kehendaknya untuk melaksanakan pilkada tanpa mempertimbangkan baik suara atau keselamatan rakyat.
      Sikap memaksa tersebut bertolak belakang dengan salah satu elemen pokok demokrasi yang mereka akui yaitu, al-Musawah yang berarti kesejajaran dan egaliter. Al-Musawah mengartikan bahwa tidak boleh ada pihak yang merasa lebih tinggi sehingga dapat memaksakan kehendaknya (Ibrahim, 2013). Penguasa tidak dapat memaksakan keinginannya terhadap rakyat, berlaku otoriter dan eksploitatif. 
   Sistem demokrasi yang selalu berhasil melahirkan kesenjangan ekonomi, kebijakan yang lebih menguntungkan kapitalis, dan berangsur angsur melemahkan hukum yang adil, pada akhirnya akan menghasilkan pemimpin yang bermasalah dan rakyat yang menderita. Bisa dibayangkan bagaimana seluruh umat muslim menginginkan sistem Islam yang sangat bertolak belakang dengan sistem pemilihan _a la_ demokrasi.
     Demokrasi adalah pemerintahan rakyat (dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat). Rakyat pemegang kekuasaan mutlak (almanhaj.or.id). Paham tersebut  bertentangan dengan syari’at Islam. Allah berfirman;
 إِنِ الْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ,
"Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah" (Al-An’am/6 : 57). Sementara dalam sistem Islam, aqidah dan ketaqwaan kepada seluruh aturan Allah (syariah) menjadi hal mendasar dalam  menentukan kelayakan seseorang dipilih menjadi pemimpin baik pemimpin negara (Khalifah), pemimpin setingkat Provinsi (Wali) maupun pemimpin setingkat Kabupaten/Kota (Amil) (Sukmawati, 2017). Pemimpin bertaqwa akan menyadari kewajibanya dalam mengurus rakyat, dalam hadis riwayat Muslim dan Ahmad disebutkan “Imam/ Khalifah adalah pengurus dan ia bertanggung jawab terhadap rakyat diurusnya”. Pemimpin akan amanah,  bekerja keras, dan sangat berhati-hati dalam pengambilan keputusan karena sadar yang dilakukan pasti akan dipetanggungjawabkan diperadilan akhirat. 
     Apa yang dikejar dan bagaimana cara mengejarnya akan selalu mempengaruhi nilai kita sebagai hamba dihadapan Allah SWT. Dengan begitu perlu kita koreksi kembali. Apakah benar cara kita dalam  mengejar tujuan itu? Apakah benar akhirat sebagai tujuan utama kita? Wallahualam ..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar