Recent Posts

Total Tayangan Halaman

Labels

Pesan Sekarang Juga!

Cara Ngirim Tulisan

Cara mengirim tulisan ke Pena Pejuang : 1. Kirim tulisan, bisa dalam bentuk tulisan wa, bisa juga dalam format docx. 2. Sertakan dengan gamb...

Langkah Perubahan Revolusioner, Menuju Perubahan Hakiki

Jumat, 11 Desember 2020



Oleh : Ummu Hanif, Anggota Lingkar Penulis Ideologis

Beberapa waktu yang lalu, Tanah Air dibuat ramai setelah kedatangan HRS sepulangnya selama 3 tahun dari Arab. Umat Islam antusias bukan sekadar perasaan cinta secara personality saja namun umat sedang mengalami ketidakadilan dan kezaliman oleh para penguasa diktator. Karena itu, dengan datangnya HRS ke Tanah Air menjadi simbol kerinduan yang tak terbendung akan keadilan dan kerinduan umat terhadap sosok ulama dan kepemimpinan Islam.

Sosok HRS yang terkenal tegas dan berani melawan rezim yang zalim membuat pihak-pihak dari pelaku kezaliman itu sendiri merasa resah dengan adanya HRS ditengah-tengah umat. Mereka resah apabila HRS bisa memimpin arah perjuangan umat untuk mendobrak kezaliman dan takut posisi mereka tergantikan dari kursi-kursi kekuasaan.

Didalam portal online OKENEWS, Habib Rizieq Shihab saat berdakwah di acara Maulid Nabi Muhammad saw. menjelaskan sekaligus menawarkan tahapan revolusi akhlak menjadi jihad fi sabilillah, perubahan revolusi akhlak ini bisa terjadi apabila kezaliman tidak berhenti.

Mulai saat itu istilah revolusi akhlaq menjadi perbincangan hangat di tengah-tengah umat. Dukungan dilakukan pihak-pihak yang menilai bahwasannya saat ini memang Indonesia membutuhkan adanya perubahan. Sebagaimana yang ditegaskan Presiden PKS bahwa partainya akan bersinergi dengan HRS untuk melakukan Revolusi Akhlaq. (Tempo.Co, 12 November 2020).

Disamping itu, terdapat pula respon miring terhadap ide revolusi akhlaq sebab dinilai merupakan upaya yang membahayakan rezim saat ini. Kepala Penerangan Kodam Jaya Letkol Arh Herwin Budi Saputra menganggap baliho-baliho FPI yang berisi seruan revolusi akhlaq sebagai provokasi (Warta Ekonomi.co.id,27 November 2020). 

Sementara itu, Direktur Eksekutif Sudut Demokrasi Research and Analysis (Sudra) Fadhli Harahab menganggap revolusi akhlak yang digaungkan HRS dkk ini perlu dipertanyakan, bahkan perlu dicurigai. "Tendensi revolusi akhlak ini menurut saya kacau. Lebih ke arah politis ketimbang ingin mengubah akhlaq”  (SINDOnews.com, 16 November 2020.

Jika kita menelisik lebih jauh, bagaimanakah mendudukkan revolusi akhlak ini menurut pandangan Islam? dan bagaimanakah perannya bagi perubahan masyarakat?

Dalam KBBI, revolusi/re·vo·lu·si/ /révolusi/ merupakan 1 perubahan ketatanegaraan (pemerintahan atau keadaan sosial) yang dilakukan dengan kekerasan (seperti dengan perlawanan bersenjata); 2 perubahan yang cukup mendasar dalam suatu bidang. 

Dalam penentuan arah revolusi, mengetahui secara pasti duduk permasalahan tentang suatu masalah yang membutuhkan revolusi dan pondasi apa yang akan dijadikan dalam aktivitas revolusi menentukan efektifitas dan efisiensi revolusi itu sendiri. Apalagi jika yang menjadi tujuan adalah revolusi kepada Islam, tentu mengetahui konsep dasar apa yang relevan dijadikan sebagai pijakan adalah sebuah keharusan. Dalam hal ini, Islam memiliki konsep mendasar berupa aqidah/iman yang dalam istilah politiknya disebut dengan mabda’ atau  ideologi (world view). Konsep inilah yang seharusnya dijadikan dasar sebuah revolusi, bukan akhlaq atau yang lainnya.

Hal ini dikarenakan, akhlaq adalah buah pelaksanaan syariat, sehingga jika akhlak dijadikan dasar atau sifat dalam melakukan revolusi, maka aktivitas perubahan yang dilakukan bersifat parsial (ishlahiyah), tidak menyentuh dasarnya  dan sistemnya. Sehingga seharusnya perubahan yang menjadi agenda umat haruslah bersifat revolusioner.

Lalu bagaimanakah langkah riil revolusi bagi umat? 
Dalam rangka mempersiapkan perubahan revolusioner, terdapat  beberapa syarat yang harus dipenuhi untuk mencetuskan perubahan inqilabiyyah di tengah-tengah masyarakat, diantarnya :
Pertama: Visi perubahan yang kuat dan jelas
Kedua: Adanya kelompok kuat yang mampu memimpin dan mengawal umat menuju perubahan revolusioner. 
Ketiga: Opini umum (ra’yu al-‘am) yang lahir dari kesadaran umum (wa’yu al-‘am). 
Keempat: Terbentuk kesadaran politik (wa’yu as-siyasi) di tengah-tengah umat. 
Kelima: Adanya dukungan ahlun-nushrah atau ahlul-quwwah kepada gerakan Islam. 
Inilah beberapa bekal dan persiapan yang harus dimiliki gerakan Islam untuk mencetuskan perubahan revolusioner di tengah-tengah masyarakat. Hanya saja, aktivis gerakan Islam tidak boleh lupa, bahwa kemenangan adalah milik Allah SWT. Oleh karena itu, sudah selayaknya mereka senantiasa menjaga keikhlasan dan mendekatkan diri kepada Allah SWT merupakan perkara yang tidak boleh ditawar-tawar bagi siapa saja yang hendak memperjuangkan tegaknya agama-Nya. 
Wallahu ‘alam bi ash-showwab

Tidak ada komentar:

Posting Komentar