Recent Posts

Total Tayangan Halaman

Labels

Pesan Sekarang Juga!

Cara Ngirim Tulisan

Cara mengirim tulisan ke Pena Pejuang : 1. Kirim tulisan, bisa dalam bentuk tulisan wa, bisa juga dalam format docx. 2. Sertakan dengan gamb...

Layakkah Optimis Mengakhiri HIV/AIDS 2030?

Sabtu, 12 Desember 2020



Oleh : Mutiah Raihana ( Pembina Komunitas Tanpa Pacaran)


Puncak peringatan Hari Aids Sedunia (HAS) tahun 2020 menjadi momen optimis Kementrian Kesehatan. Pasalnya, tema yang diangkat adalah Perkuat Kolaborasi, Tingkatkan Solidaritas : 10 Tahun Menuju Akhir AIDS 2030. Benarkah akhir AIDS bisa dicapai tahun 2030?.

Untuk menjawab hal itu perlu kita bedah, apa sebab utama menyebarnya penyakit ini dan apa saja Langkah menuju cita mulia tersebut.

Dilansir pada web kemkes.go.id, pemerintah melakukan langkah dengan melakukan kolaborasi. Bersama semua pihak termasuk pemerintah pusat, daerah, swasta dan seluruh masyarakat menggalakkan pengetahuan mengenai HIV/AIDS, juga dilakukan tes HIV bagi semua orang serta pengobatan sedini mungkin bagi mereka yang positif.

Program STOP (Suluh, Temukan, Obati dan Pertahankan) dan RAN (Rencana Aksi Nasional) Pencegahan dan Pengendalian HIv AIDS  menjadi program andalan. Demi mewujudkan Three Zero yaitu tidak ada kasus baru HIV/AIDS, tidak ada kematian akibat HIV/AIDS, tidak ada stigma dan diskriminasi pada ODHA, sehingga akhir epidemi dan ending HIV/AIDS terjadi pada 2030.Maka mampukan program ini mengatasi bola salju AIDS?

Memang kasus AIDS ini sudah menjadi bola salju, bak fenomena gunung es. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, hingga Juni 2020 jumlah ODHA di Indonesa dilaporkan mencapai 398.784 kasus. Dari jumlah tersebut, diperkirakan pada tahun 2020 ini jumlahnya meningkat menjadi 543.100 orang.

Data terakhir kasus AIDS dalam laporan Ditjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kemenkes per 12 Agustus 2020 mencatat lima provinsi dengan kasus AIDS terbanyak adalah: Papua 23.629, Jawa Timur 21.016, Jawa Tengah 12.565, DKI Jakarta 10.672 dan Bali 8.548.Sedangkan untuk lima provinsi dengan kasus HIV terbanyak ditempati DKI Jakarta 68.119, Jawa Timur 60.417, Jawa Barat 43.174, Papua 37.662, dan Jawa Tengah 36.262 (Jawapos.com/02/12/2020).

Bahkan data UNAIDS menyatakan selama pandemic, infeksi HIV mengalami peningkatan dua kali lipat. Dan kasus kematian juga meningkat, diperkirakan sebanyak 69.000 hingga 148.000 selama pandemi. Itu saja baru yang terdata, bisa jadi lebih banyak lagi angka yang tak terlihat.


Sesungguhnya, Penyakit ini ada bukan tanpa sebab musabab. Menilik dari realitas yang ada, penyebab utama tersebarnya penyakit ini adalah adanya prinsip kebebasan yang kebablasan. Hal ini sesuai dengan kemenkes, setidaknya ada tiga sebab, penularan ini bisa terjadi. Yaitu melalui seks bebas, keluarga, maupun lewat jalur suntik bekas yang biasanya digunakan oleh pecandu narkoba.  Tingkah laku penyebab penularan ini tidak lain akibat tingkah laku yang dipengaruhi pemahaman liberalism (kebebasan), yang berbuah pada sekulerisme (pemisahan agama darikehidupan). Paham ini yang membuat mereka bebas bermaksiat, demi memenuhi nafsu dunia. 


Maka upaya pemerintah ini akan menjadi mustahil jika keimanan masih jauh dari hati pemeluk islam dinegri +62. Penyuluhan, pendampingan, upaya jemput bola, hingga sosialisasi alat kondom dan yang lainnya agaknya akan jauh panggang dari api, mewujudkan akhir AIDS 2030 jika tak dibalut dengan mengembalikan fitrah manusia, yang harusnya tunduk patuh pada kalam Ilahi. Karena hanya ini yang mampu menekan birahi.

Sungguh islam yang sempurna dan rahmat bagi seluruh alam telah memberikan solusi mengatasi permasalahan ini, yaitu:

Promotif, Islam menganjurkan seorang muslim untuk memelihara kehormatannya. Jika telah mampu, menikah. Jika belum, berpuasa. Ada aturan pergaulan yang menjaga kehormatan wanita maupun pria.

Preventif, adalah pencegahan. Islam mencegah dengan mengharamkan zina ataupun narkoba dan sejenisnya yang merusak akal. Ada sanksi yang tegas bagi pelakunya. Negara pun memberantas sarana-sarana maksiat seperti lokalisasi, night club, diskotik, dan sejenisnya. 

Kuratif, yaitu pengobatan. Dalam hal ini HIV/AIDS merupakan virus yang berbahaya. Maka, untuk pengobatannya perlu dilakukan dengan hati-hati. Seperti melakukan karantina total. Memberikan pengobatan gratis, berkualitas, dan manusiawi. 

Rehabilitatif, dilakukan untuk memperbaiki kondisi psikologis dan keimanan Orang dengan HIV/AIDS (OdHA). 

Itulah solusi Islam yang komprehensif. Three Zero bukan data manipulatif dan bisa diwujudkan. Yuk Optimis!!Wallahu a’lam bishawab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar