Recent Posts

Total Tayangan Halaman

Labels

Pesan Sekarang Juga!

Cara Ngirim Tulisan

Cara mengirim tulisan ke Pena Pejuang : 1. Kirim tulisan, bisa dalam bentuk tulisan wa, bisa juga dalam format docx. 2. Sertakan dengan gamb...

Membincang Kebangkitan Melalui Perbaikan Akhlak

Jumat, 11 Desember 2020


Oleh : Ummu Hanif, Anggota Lingkar Penulis Ideologis

Revolusi akhlaq menjadi perbincangan hangat di tengah-tengah umat sejak kepulangan HRS 10 November 2020, dan beliau dalam orasinya langsung mengajak umat Islam melakukan revolusi akhlaq. “Saya pulang agar bisa berjuang dengan umat Indonesia. Maka itu kepulangan kali ini tidak lain tidak bukan saya serukan umat Islam Indonesia agar sama-sama revolusi akhlaq, setuju ?” demikian ungkapan HRS dalam orasinya. (Kompas.com, 10 November 2020). Sontak pernyataan ini menimbulkan polemik di masyarakat. Banyak kalangan memberikan pandangannya baik yang pro maupun kontra.

Dukungan dilakukan pihak-pihak yang menilai bahwasannya saat ini memang Indonesia membutuhkan adanya perubahan. Sebagaimana yang ditegaskan Presiden PKS bahwa partainya akan bersinergi dengan HRS untuk melakukan Revolusi Akhlaq. (Tempo.Co, 12 November 2020).
Disamping itu, terdapat pula respon miring terhadap ide revolusi akhlaq sebab dinilai merupakan upaya yang membahayakan rezim saat ini. Kepala Penerangan Kodam Jaya Letkol Arh Herwin Budi Saputra menganggap baliho-baliho FPI yang berisi seruan revolusi akhlaq sebagai provokasi (Warta Ekonomi.co.id,27 November 2020). Direktur Eksekutif Sudut Demokrasi Research and Analysis (Sudra) Fadhli Harahab menganggap revolusi akhlak yang digaungkan HRS dkk ini perlu dipertanyakan, bahkan perlu dicurigai. "Tendensi revolusi akhlak ini menurut saya kacau. Lebih ke arah politis ketimbang ingin mengubah akhlaq”  (SINDOnews.com, 16 November 2020), Peneliti politik Islam Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Wasisto Raharjo mengatakan, “Dengan menjadikan Presiden Joko Widodo sebagai target, HRS berupaya untuk tampil sebagai tokoh populis untuk merangkul suara-suara akar rumput yang selama ini kontra dengan omnibus law itu, menyerang secara politis pemerintahan Jokowi. Makanya kata 'akhlak' dipakai untuk pemanis agar membuat orang tergiur,” (Tirto.ID, 20 November 2020).

Jika kita menelisik lebih jauh, bagaimanakah mendudukkan revolusi akhlak ini menurut pandangan Islam? dan bagaimanakah perannya bagi perubahan masyarakat?
Dalam KBBI, revolusi/re·vo·lu·si/ /révolusi/ merupakan 1 perubahan ketatanegaraan (pemerintahan atau keadaan sosial) yang dilakukan dengan kekerasan (seperti dengan perlawanan bersenjata); 2 perubahan yang cukup mendasar dalam suatu bidang. 
Dalam penentuan arah revolusi, mengetahui secara pasti duduk permasalahan tentang suatu masalah yang membutuhkan revolusi dan pondasi apa yang akan dijadikan dalam aktivitas revolusi menentukan efektifitas dan efisiensi revolusi itu sendiri.
Apalagi jika yang menjadi tujuan adalah revolusi kepada Islam, tentu mengetahui konsep dasar apa yang relevan dijadikan sebagai pijakan adalah sebuah keharusan. Dalam hal ini, Islam memiliki konsep mendasar berupa aqidah/iman yang dalam istilah politiknya disebut dengan mabda’ atau  ideologi (world view). Konsep inilah yang seharusnya dijadikan dasar sebuah revolusi, bukan akhlaq atau yang lainnya.

Hal ini dikarenakan, akhlaq adalah buah pelaksanaan syariat, sehingga jika akhlak dijadikan dasar atau sifat dalam melakukan revolusi, maka aktivitas perubahan yang dilakukan bersifat parsial (ishlahiyah), tidak menyentuh dasarnya  dan sistemnya.
Dengan adanya opini  revolusi akhlak yang sedang berkembang saat ini, agar efektif untuk  memberikan peran perubahan kondisi menjadi lebih baik, kita tetap menjaga semangat revolusi akhlak yang sudah digelorakan, akan tetapi yang tidak boleh kita lupakan adalah melandasinya dengan dasar aqidah 
Islam/keimanan/mabda/ideologi/world view.   Akhlak merupakan bagian dari syariat islam (sistem).  Bagian dari perintah-perintah Allah dan larangan-larangan-Nya. Akhlak harus ada serta nampak pada diri setiap muslim, agar sempurna seluruh amal perbuatannya dengan Islam, dan sempurna pula dalam melaksanakan perintah-perintah Allah. Namun untuk merealisasikannya di tengah-tengah masyarakat secara utuh, maka tidak ada jalan lain kecuali dengan mewujudkan perasaan-perasaan Islami dan pemikiran-pemikiran Islam. Setelah itu terwujud di tengah-tengah masyarakat, maka pasti akan terbentuk pula dalam diri individu-individu. Untuk merealisasikannya tidak dengan jalan dakwah kepada akhlak, melainkan dengan metode mewujudkan perasaan dan pemikiran islam di tengah-tengah masyarakat.
Wallahu ‘alam bi ash-showwab

Tidak ada komentar:

Posting Komentar