Recent Posts

Total Tayangan Halaman

Labels

Pesan Sekarang Juga!

Cara Ngirim Tulisan

Cara mengirim tulisan ke Pena Pejuang : 1. Kirim tulisan, bisa dalam bentuk tulisan wa, bisa juga dalam format docx. 2. Sertakan dengan gamb...

Mengapa Selalu Ada Razia Masker?

Minggu, 13 Desember 2020


Oleh: Neng Ipeh* 
 

Penegakan disiplin protokol kesehatan terus gencar dilakukan Pemkot (Pemerintah Kota)  Cirebon melalui Satpol PP Kota Cirebon kembali menggelar operasi yustisi berupa razia masker yang dipimpin langsung oleh Kasatpol PP Kota Cirebon Edy Siswoyo. 

Puluhan pengendara bermotor dan warga yang tidak memakai masker dan yang tidak membawa kartu identitas diri langsung dijaring petugas penegak perda ini dan diberikan sanksi berupa push-up bagi yang masih muda. Sedangkan yang tua diberikan sanksi sosial yakni membersihkan jalan. Petugas juga memberikan sanksi berupa menyanyikan lagu Indonesia Raya, dan pembacaan teks Pancasila.

“Untuk sanksi berupa denda uang, kami belum menerapkan, karena yang mengaturnya belum ada. Diharapkan dengan razia ini, warga akan terkena shock theraphy untuk selalu menggunakan masker,” ujar Kasatpol PP Kota Cirebon Edy Siswoyo di sela-sela operasi. (radarcirebon.com/12/12/2020)

Pengadaan razia masker ini tak hanya dilakukan oleh pemkot Cirebon saja. Tercatat di berbagai daerah lain pun juga banyak yang terjaring saat operasi ini dilakukan seperti halnya yang terjadi di Bantul, Tasikmalaya, Bogor, Surabaya, Malang, dan lainnya. 

Berbagai alasan pun dikemukakan saat terjaring razia. Seperti terburu buru saat berangkat kerja, lupa, bahkan ada yang sudah membawa masker tersebut namun tidak digunakan dan malah dimasukkan ke dalam kantong celananya. Banyak pula masyarakat yang tidak memakai masker beralasan karena sudah bosan dan juga menyepelekan virus Corona. Masyarakat bisa dibilang sudah kurang peduli lagi meski saat ini angka positif Covid-19 terus mengalami peningkatan. 

Epidemiolog dari Griffith University Australia Dicky Budiman menyatakan, penerapan operasi tersebut tidak akan berbuah apa-apa sepanjang strategi utama dari pandemi tidak dijalankan optimal. Bahkan, lanjut Dicky, digelarnya operasi masker bila dianggap untuk menurunkan atau menekan jumlah kasus adalah suatu hal yang salah kaprah. "Razia masker ini menurut saya seperti salah kaprah. Dalam arti begini, kalau diartikan bisa menekan jumlah kasus, ya harusnya dibarengi strategi utama yang optimal seperti testing, tracing, dan isolasi," katanya. (kompas.com/12/12/2020)

Testing (pengujian) dan tracing (penelusuran) dianggap penting dalam mendeteksi sebaran kasus Covid-19. Karena dengan mengetahui orang yang positif maka bisa dilakukan isolasi dan penanganan yang tepat sehingga ada pencegahan penularan. Sehingga tidak hanya sekedar membutuhkan protokol kesehatan dengan memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan dengan sabun saja. Hal ini dikarenakan bisa jadi ada orang yang positif tertular walau ia tidak menunjukkan gejalanya. 

Sayangnya orang yang terkategori positif Covid-19 masih mendapatkan stigma negatif di masyarakat, baik yang baru memeriksakan dirinya maupun yang sudah sembuh dari penyakit ini. Bahkan masih banyak orang yang enggan memeriksakan dirinya karena faktor ekonomi dan stigma negatif yang diterima.

"Dari sisi ekonomi ada ketakutan kalau positif dia jadi tidak bisa mencari uang, dan bagaimana keluarganya nanti. Kemudian masalah testing juga membingungkan, apakah mereka harus rapid tes ataukah swab. Orang takut kalau positif atau reaktif apa yang akan orang katakan, dia juga takut kalau harus dikucilkan oleh keluarga, ini yang artinya memikirkan cara bagaimana tes itu memiliki makna lain, misalnya bagaimana kalau anda di tes anda bisa disebut pahlawan," kata Tim Pakar Satgas Covid-19 Bidang Perubahan Perilaku Turro Wongkaren. (cnbcindonesia.com/12/12/2020)

Dengan melakukan tes Covid-19 seseorang akan mengetahui upaya perawatan secara dini dengan isolasi mandiri sehingga mencegah penularan di masyarakat. Tentu hal ini masih sulit dilakukan karena mereka takut tidak bisa melakukan kegiatannya dan mengganggu pekerjaannya, terutama untuk pekerja harian.

Hal ini akan sangat berbeda jika negara menerapkan sistem Islam sebagai aturan kehidupannya. Karena ketika Islam diterapkan dalam naungan Khilafah, negara akan berupaya agar kebutuhan warganya tetap dapat terpenuhi meski mereka harus melakukan isolasi mandiri. Apalagi Khilafah memiliki sumber pendanaan yang jelas sesuai aturan syariat dan bukan berbalut riba. Sayangnya ditengah kehidupan yang serba Kapitalis ini tentu hal tersebut tidak dapat dilakukan. Karena keuangan negara tidaklah akan mencukupi jika harus memenuhi kebutuhan isolasi warganya. Maka sudah selayaknya kita tinggalkan sistem Kapitalis dan berjuang bersama untuk menegakkan Khilafah yang akan menerapkan Islam.


* (aktivis BMI Community Cirebon) 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar