Recent Posts

Total Tayangan Halaman

Labels

Pesan Sekarang Juga!

Cara Ngirim Tulisan

Cara mengirim tulisan ke Pena Pejuang : 1. Kirim tulisan, bisa dalam bentuk tulisan wa, bisa juga dalam format docx. 2. Sertakan dengan gamb...

Meningkatnya Angka Pernikahan karena Hamil Duluan, Salah Siapa?

Minggu, 13 Desember 2020


Oleh: Neng Ipeh *

Nikah muda seringkali membuat galau remaja saat ini. Apalagi kampanye tentang indahnya nikah usia muda di media sosial juga terhitung gencar. Realitanya, pernikahan dini banyak terjadi bukan karena kesiapan mental pasangan. Kebanyakan disebabkan hamil duluan maupun hubungan pacaran yang kelewatan batas. Hal ini pula yang menjadi alasan pemohon diskon usia nikah atau dispensasi pernikahan di Kota dan Kabupaten Cirebon yang kian meningkat dari tahun ke tahun.

Sesuai Pasal 7 ayat (1) Undang-Undang 1/1974 Tentang Perkawinan (UUP), diatur batas minimum usia perkawinan untuk laki-laki 19 tahun dan wanita 16 tahun. Permohonan dispensasi ini diajukan bila ingin melangsungkan perkawinan tetapi usia calon mempelai kurang dari batas usia yang ditetapkan pada Pasal 7 ayat (1). 

Berdasarkan latar belakangnya, pengajuan dispensasi sebagian besar dikarenakan hamil sebelm menikah dan  hubungan yang membuat orang tua waswas. Sangat jarang permohonan dispensasi diajukan, karena kedua calon mempelai memang dalam kondisi siap. “Bulan ini ada yang konsul minta dispensasi karena sudah taaruf. Tapi yang begini jarang. Banyaknya karena faktor tadi,” kata Panitera Muda Hukum Pengadilan Agama Cirebon  Moch Suyana SEI MHI. (radarcirebon.com/12/12/2020)

Tingginya permohonan dispensasi nikah menyisakan sejumlah permasalahan yang tak kunjung terurai. Adanya pengaruh pemikiran sekuler membuat pergaulan menjadi bebas tanpa batas. Sehingga standar perbuatan tak lagi memandang halal haram tapi kesenangan apa yang akan diperoleh ketika melakukannya. 

Kehidupan hedonis dan permisif juga turut membentuk perilaku seks bebas. Semua itu berpangkal dari sistem sosial yang sekuler dan liberal. Sehingga dosa tak lagi menjadi sebuah hal yang menakutkan. Lantas adakah solusi atas semua permasalahan ini? 

Sebagai seorang muslim tentu kita meyakini bahwa Islam memiliki seperangkat aturan lengkap yang mengatur tentang kehidupan. Negara pun turut berperan dalam menjaga agar aturan tetap terlaksana sesuai dengan syariat Islam. 

Fenomena dispensasi nikah berawal dari rusaknya tatanan sistem pergaulan yang berlaku di tengah masyarakat. Islam tentu telah memilki solusi tuntas dalam mengatasi hal ini. Pelanggaran terhadap syariat akan diberikan sanksi sesuai ketetapan Islam. Tujuan diberlakukannya sistem sanksi dalam Islam memiliki dua fungsi, yakni sebagai zawajir dan jawabir. Zawajir adalah kedudukan sanksi sebagai pencegah tindak kejahatan. Jawabir adalah fungsi sanksi sebagai penebus dosa bagi pelakunya kelak pada Hari Kiamat.

Seringkali, sanksi terhadap pelaku seks bebas tak berlaku bila menimpa anak-anak di bawah umur. Sehingga umumnya mereka hanya akan dinikahkan saja oleh kedua keluarga untuk menutupi aib perbuatannya. Padahal sanksi dalam Islam berlaku bagi mereka yang sudah memasuki masa akil balig. Dalam Islam, klasifikasi usia anak dan dewasa dinilai dengan tanda balig yang melekat pada diri perempuan dan laki-laki. Bila sudah balig, maka ia menanggung tanggung jawab sebagai seorang mukallaf (orang yang terbebani hukum).

Sejumlah aturan Islam pun akan diberlakukan sesuai dengan syariat Islam seperti diharamkan hubungan seksual (shilah jinsiyah) sebelum pernikahan (QS Al-Isra : 32, An-Nuur: 2), adanya perintah untuk menundukkan pandangan (QS An-Nuur : 30-31), adanya kewajiban menutup aurat untuk perempuan (QS An-Nuur : 31 dan Al-Ahzab : 59), Kewajiban menjaga kesucian diri (QS An-Nuur : 33), adanya larangan khalwat, larangan untuk tabarruj bagi perempuan, dan sejumlah aturan lain yang bersumber pada hukum syariat Islam. 

Masyarakat pun akan mengontrol aktivitas di tengah-tengah mereka melalui pembiasaan amar makruf nahi mungkar akan turut mencegah perbuatan maksiat. Negara juga akan melakukan pencegahan terhadap hal-hal yang merangsang naluri jinsiyah  (seksual) seperti konten pronografi, pornoaksi, tayangan TV, media sosial, dan sebagainya. Dengan solusi Islam inilah prilaku seks bebas akan bisa dihilangkan dari tengah-tengah masyarakat. Jika menginginkan hal tersebut, maka sudah selayaknya kita meninggalkan sistem sekuler ini.


*(aktivitas BMI Community Cirebon) 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar