Recent Posts

Total Tayangan Halaman

Labels

Pesan Sekarang Juga!

Cara Ngirim Tulisan

Cara mengirim tulisan ke Pena Pejuang : 1. Kirim tulisan, bisa dalam bentuk tulisan wa, bisa juga dalam format docx. 2. Sertakan dengan gamb...

Menyorot Pemilihan Pemimpin Saat Pandemi

Minggu, 13 Desember 2020


Oleh : Lestari (Muslimah Kendari)

Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi, Hamdan Zoelva mengungkapkan keprihatinannya karena 70 orang calon kepala daerah terinfeksi virus Covid-19. 

“Prihatin, 70 orang calon kepala daerah terinfeksi Covid-19, 4 orang diantaranya meninggal dunia,” kata Hamdan dalam akun twitternya, yang dikutip Sabtu, 28 November 2020  (www.viva.co.id/28/11/2020). 

Prediksi kedepan, akan banyak lagi korban berjatuhan serta nyawa rakyat yang jadi taruhan. Sebab, dengan pesta Demokrasi ini tentunya mengundang terjadinya kerumunan massa dalam persiapan kampanye hingga perhitungan suara. Bukan hal yang tidak mungkin dengan berkumpulnya massa ini akan menjadi celah terbukanya klaster baru.

Pemerintah tetap bersikeras gelar pilkada dengan dalih memberikan jaminan terhadap hak-hak konstitusi rakyat dan mengantisipasi terjadinya kekosongan kepemimpinan. Padahal hal ini sama saja dengan mengorbankan keselamatan rakyat demi pesta Demokrasi yang jelas-jelas akan melahirkan pemimpin yang lebih berpihak pada kepentingan para kapitalis. 

Tidak heran, politik uang di Indonesia mendominasi. Namun tak ada solusi tuntas akan hal ini. Seperti kasus suap menyuap yang bahkan bisa berujung tindakan kriminal seperti korupsi misalnya, karena merasa harus membayar banyak suara, tentu para pasangan calon membutuhkan mahar politik yang tidak sedikit. Menjadi alasan yang kuat mengapa sistem ini hanya mampu melahirkan para pejabat pemerintahan yang serakah, maling uang rakyat yang hanya akan menambah beban masalah. 

Padahal, seorang pemimpin yang baik adalah yang dapat meriayah (mengurusi) kepentingan maupun kebutuhan rakyatnya. Apalagi di kala pandemi, seorang pemimpin adalah tumpuan rakyat. Tempat bersandar sekaligus menaruh asa demi tercapainya  keberlangsungan hidup yang sejahtera. Bukan malah sebaliknya. menjadi budak Imperialisme yang pro akan hegemoni barat.

Seperti yang disabdakan Nabi Muhammad Saw., “Imam (Khalifah) adalah raa’in (pengurus rakyat) dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya.” (HR al-Bukhari).

Berangkat dari sistem yang cacat total, berharap ada alternatif penyelesaian adalah kesia-siaan belaka. Karena sejatinya solusi yang ada hanyalah semu dan tambal sulam. Menggelar pilkada serentak tak ubahnya seperti membuka kran klaster baru Covid-19.

Beda halnya dengan sosok pemimpin Islam yang dihasilkan dari sistem Islam. Jika menelik sejarah, kita akan dapati berbagai karakter pemimpin yang mumpuni, bijak, cerdas, dermawan, dan amanah. Karena pemimpin dalam Islam selalu menjadikan Al-Qur'an dan As-Sunnah sebagai paradigma keilmuan sekaligus ideologi. Segala kebijakan yang digulirkan tidak akan mempersulit apalagi menzalimi rakyat. Sebagaiman firman Allah Swt :

Jangan sekali-kali kamu mengira, Allah akan melupakan tindakan yang dilakukan orang dzalim. Sesungguhnya Allah menunda hukuman mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak (karena melihat adzab).” (QS. Ibrahim: 42).

Dalam sistem Islam, pemimpin ialah sosok yang selalu bermuhasabah apalagi ditengah wabah, seorang pemimpin yang bijak akan selalu menerima aspirasi baik saran maupun kritik dari segala pihak elemen masyarakat. 

Dengan kesadaran sepenuhnya, seorang khalifah (pemimpin Islam) akan senantiasa memperbaiki cara kepemimpinannya agar berjalan sesuai dengan syariat Islam. Guna membawa berkah dan keselamatan.

Allah SWT berfirman, “…Dan barang siapa yang memelihara kehidupan seorang manusia maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya…” (Q.S.  Al-Maidah [5]: 32)

Nahasnya, yang menjadi kenyataan pahit hari ini adalah sikap abai rezim akan nyawa rakyat. Dan yang lebih sesatnya lagi ialah mengabaikan hukum dan peringatan Allah Azza Wa Jalla. Sebagaimana firman-Nya, 

"Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta''. (Q.S. Thaha [20]:124) 

Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa yang dimaksud waman a'radla an dzikri yaitu sikap menolak perintah Allah dan apa yang diturunkan kepada Rasul-Nya, kemudian mengambil aturan/hukum selain dari petunjuk Allah. Sedangkan maisyatan dlanka adalah kesempitan hidup di dunia, tidak memperoleh kebahagiaan, dada mereka sempit karena kesesatannya.Wallahu a’lam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar