Recent Posts

Total Tayangan Halaman

Labels

Pesan Sekarang Juga!

Cara Ngirim Tulisan

Cara mengirim tulisan ke Pena Pejuang : 1. Kirim tulisan, bisa dalam bentuk tulisan wa, bisa juga dalam format docx. 2. Sertakan dengan gamb...

Moderasi Beragama dan Radikalisme

Selasa, 15 Desember 2020



Oleh: Muslimah

Masih segar di telinga berita mengenai cap radikalisme yang disematkan kepada mereka yang berpenampilan good looking, hafiz, dan pintar bahasa Arab, juga sejumlah instansi pemerintah dan kampus melarang pegawai pria berjenggot dan bercelana cingkrang serta melarang Muslimah bercadar. Kegiatan penangkalan radikalisme dilakukan secara massif oleh pemerintah dengan sosialisasi yang diadakan di tengah masyarakat. Untuk melawan radikalisme, mereka menggaungkan moderasi beragama sebagai solusi. 

Upaya pemerintah dalam menangkal terorisme dan radikalisme di Indonesia beberapa bulan terakhir memang gencar tidak terkecuali di Banua Kalimantan Selatan. Mulai dari perkumpulan masyarakat hingga ke sekolah-sekolah, mereka berikan sosialisasi guna mencegah tumbuhnya radikalisme dan anti pancasila. Seperti dilansir dari Antarakalsel.com Satuan Polisi Perairan (Satpolair) Polrestra Banjarmasin mengadakan sosialisasi mencegah tumbuhnya paham radikalisme dan anti pancasila di masyarakat pesisir sungai yang berlokasi di Kampung Hijau kota setempat (antarakalsel.com/25/09/2020).

Acara sosialisasi untuk sekolah diadakan di hotel Dafam Banjarmasin dengan tema “Internalisasi nilai-nilai Agama dan Budaya di Sekolah Beragama.” Acara tersebut dihadiri oleh para guru PAUD, TK, SD/MI dan SM/MTS dengan narasumbernya ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Kalimantan Selatan, Aliansyah Mahadi yang di dampingi Kabid Agama, DR Zulkifli Musaba (klikkalsel.com/30/10/2020). 

Fakta lain, Kemenag secara resmi juga telah menghapus konten ‘radikal’ dalam 155 buku pelajaran. Penghapusan konten ‘radikal’ tersebut adalah bagian dari program Kemenag tentang penguatan moderasi beragama. Menag Fakhrul Razi mengatakan “ajaran ‘radikal’ tersebut ditemukan pada 5 (lima) mata pelajaran yakni: Akidah Akhlak, Fiqih, Sejarah Kebudayaan Islam, al-Quran dan Hadits serta Bahasa Arab”.

Menurut mereka umat Islam yang memahami ajaran agamanya secara ekstrim adalah benih-benih radikal dan harus dipahamkan dengan pemahaman moderasi agama, padahal sangat berbahaya bagi ummat karena dapat menjauhkan ummat dari ajaran agamanya yang murni dan utuh. 

Upaya framing negatif terhadap ajaran Islam yang dibungkus isu radikalisme ini, kini semakin massif dilakukan oleh musuh-musuh Islam dengan tangan orang-orang Islam sendiri. Sebab Barat meyakini bahwa ketika ummat memahami Islam sebagai ideologi yang benar dan kekuatan Islam bangkit, maka kekuasaan Kapitalisme yang saat ini mencengkeram negara-negara di dunia akan hancur, dan inilah ketakutan terbesar mereka.

Demi suksesnya agenda mereka, maka riset dan pendekatan pun dilakukan termasuk menggandeng para pecundang dari berbagai kalangan untuk menjadi agen penjajahan. Mulai dari cendikiawan, aktivis LSM, kalangan media bahkan kalangan ulama yang hati dan pikirannya sudah terikat pada dunia. Mereka semua gencar membantu rezim penguasa untuk berjalan bersama penjajah, melegitimasi kezaliman dan di saat yang sama mereka memusuhi para pejuang syariah kaffah dan khilafah.

Opini ‘Islam radikal’ jelas subyektif dan berbahaya. Subyektif karena bersumber dari pandangan negatif Barat terhadap Islam. Istilah ‘Islam radikal’ ditujukan kepada kelompok-kelompok Islam yang tidak mau sejalan dengan kebijakan Barat. Mantan Perdana Menteri Inggris, Tony Blair, pernah menyatakan Islam sebagai ‘ideologi setan’ (evil ideology). 

Dalam pidatonya pada Konferensi Kebijakan Nasional Partai Buruh Inggris, Blair menjelaskan ciri ‘ideologi setan’, yaitu: 
(1) Menolak legitimasi Israel; 
(2) Memiliki pemikiran bahwa syariah adalah dasar hukum Islam; 
(3) Kaum Muslim harus menjadi satu kesatuan dalam naungan Khilafah; 
(4) Tidak mengadopsi nilai-nilai liberal dari Barat.

Bahaya Moderasi Islam

Moderasi ajaran Islam termasuk tindakan yang berbahaya. Langkah ini melemahkan ajaran Islam dan melepaskan keterikatan kaum Muslim pada agamanya. Moderasi ajaran Islam berarti mengambil jalan tengah. Bukan ketaatan total kepada Allah SWT. Islam moderat berarti meletakkan diri di antara iman dan kufur, taat dan maksiat, serta halal dan haram.

Di bidang akidah, moderasi ajaran Islam berarti menyamakan akidah Islam dengan agama-agama dan kepercayaan umat lain. Dalam Islam moderat tak ada kebenaran mutlak. Termasuk iman dan kufur. Semua menjadi serba relatif/nisbi. Dengan Islam moderat, kaum Muslim diminta untuk membenarkan keyakinan agama dan kepercayaan di luar Islam. 

Padahal Allah SWT telah berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُولَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ

Sungguh kaum kafir, yakni Ahlul Kitab dan kaum musyrik (akan masuk) ke Neraka Jahanam. Mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah makhluk yang paling buruk (TQS al-Bayyinah [98]: 6).

Dengan moderasi Islam, kaum Muslim juga dipaksa untuk menolerir gaya hidup bebas seperti perzinahan, LGBT, pornografi, dsb.

Alhasil, moderasi ajaran Islam adalah cara penjajah untuk melumpuhkan kaum Muslim. Kaum imperialis dulu dan sekarang paham bahwa faktor pendorong perlawanan umat Muslim terhadap rencana jahat mereka adalah kecintaan dan ketaatan secara total pada Islam. Selama umat Islam bersikap demikian, makar mereka akan selalu dapat dipatahkan. 

Namun, jika umat Islam telah melepaskan diri dari Islam kaffah, lalu memilih jadi umat yang moderat, maka mudah bagi para penjajah untuk melumpuhkan dan selanjutnya merusak umat ini. Karena itu langkah deradikalisasi ajaran dan sejarah Islam adalah tindakan berbahaya dan manipulatif.

Fakta sejarah memperlihatkan bahwa jihad dan khilafah adalah kata kunci perlawanan kaum Muslim terhadap imperialisme yang dilakukan Barat terhadap negeri-negeri kaum Muslim. Pahlawan nasional seperti Imam Bonjol, Pangeran Diponegoro, Sultan Hasanuddin, KH Zainal Mustofa di Tasikmalaya, Panglima Besar Soedirman dan Bung Tomo bergerak mengobarkan perlawanan terhadap kaum penjajah karena dorongan iman dan jihad. Perjuangan rakyat Aceh melawan Belanda juga mendapat bantuan besar dari Khilafah Utsmani.

Tampaknya inilah yang mengusik sejumlah orang yang khawatir jika kaum Muslim menyadari kembali jatidirinya dan akar sejarahnya, akan muncul marwah mereka sebagai umat terbaik. 
Mereka sejatinya tengah menjalankan peran sejarah sebagai penghalang-penghalang dakwah yang kemenangannya justru telah di janjikan oleh Allah. Mereka menukar hidayah dengan kesesatan yang menjerumuskan, didunia dengan kokohnya penjajahan, dan di akhirat dengan azab yang tidak berkesudahan. Maka menjadi tugas kita, menyadarkan umat akan situasi sebenarnya. Bahwa mereka saat ini ada di antara dua pilihan. Berislam dengan cara Barat yang mengundang kemudaratan atau istiqamah memegang Islam kaffah dan Khilafah yang menjanjikan kemuliaan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar