Recent Posts

Total Tayangan Halaman

Labels

Pesan Sekarang Juga!

Cara Ngirim Tulisan

Cara mengirim tulisan ke Pena Pejuang : 1. Kirim tulisan, bisa dalam bentuk tulisan wa, bisa juga dalam format docx. 2. Sertakan dengan gamb...

PEMILIHAN DALAM ISLAM

Jumat, 11 Desember 2020


Oleh: Dwi Rara Lunarti

Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Hamdan Zoelva menyampaikan keprihatinannya terkait banyaknya jumlah calon kepala daerah dan anggota penyelenggara pemilu yang terpapar Covid-19 selama pelaksanaan tahapan Pilkada serentak 2020.

"Prihatin 70 orang calon kepala daerah terinfeksi Covid-19, 4 orang diantaranya meninggal dunia," cuitnya melalui akun media sosial twitter @hamdanzoelva, Jumat (27/11/2020).

Tidak hanya calon kepala daerah saja yang terinfeksi Covid-19, tetapi Hamdan juga menyoroti banyaknya anggota penyelenggara pemilu yang juga terinfeksi virus Covid-19.

"100 penyelenggara termasuk Ketua KPU RI terinfeksi [Covid-19]. Betapa besar pengorbanan untuk demokrasi," ujarnya. (Bisnis.com, 28 November 2020).

Benarkah Demokrasi Untuk Rakyat?

Kata “demokrasi” berasal dari dua kata, yaitu demos yang berarti rakyat, dan kratos/cratein yang berarti pemerintahan.

Sehingga dapat diartikan sebagai pemerintahan rakyat, atau yang lebih kita kenal sebagai pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.

Pada musim pandemi yang belum berakhir ini telah membuktikan bahwa demokrasi sebenarnya bukan untuk rakyat. Kita bisa melihat dari fakta yang bertolakbelakang. Sebelum pemilu berlangsung sudah berjatuhan korban.

Apakah kita bisa mengharapkan pemerintahan yang mengabaikan keselamatan jiwa manusia demi menduduki kursi yang diduduki oleh penguasa yang didanai oleh para kapitalis? Kita harus berfikir ulang jika masih bertahan pada sistim ini.

Pandangan Islam Tentang Pemilihan Pemimpin

Pemimpin dalam Islam harus mengadopsi suatu hukum dari dalil-dalil syariah dengan istinbath (digali) yang sahih dan tidak boleh mengambil hukum yang bertentangan dengan dalil-dalil syariah.

Ketika syariah mewajibkan umat Islam untuk mengangkat seorang Khalifah bagi mereka, syariah juga telah menentukan metode pengangkatan yang harus dilaksanakan untuk mengangkat Khalifah. Metode ini ditetapkan dengan al-kitab, as-sunah, dan ijma' sahabat. Metode itu adalah baiat. Dengan demikian pengangkatan Khalifah itu dilakukan dengan baiat kaum muslim kepadanya untuk memerintah berdasarkan kitabullah dan sunah Rasulullah. Yang dimaksud kaum muslim di sini adalah kaum muslim yang menjadi rakyat Khalifah sebelumnya. Jika Khalifah sebelumnya itu ada, atau kaum muslim penduduk suatu wilayah yang di situ hendak diangkat seorang Khalifah, jika sebelumnya tidak ada Khalifah. 

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

يٰۤاَ يُّهَا النَّبِيُّ اِذَا جَآءَكَ الْمُؤْمِنٰتُ يُبَايِعْنَكَ عَلٰۤى اَنْ لَّا يُشْرِكْنَ بِا للّٰهِ شَيْـئًا وَّلَا يَسْرِقْنَ وَلَا يَزْنِيْنَ وَلَا يَقْتُلْنَ اَوْلَا دَهُنَّ وَلَا يَأْتِيْنَ بِبُهْتَا نٍ يَّفْتَرِيْنَهٗ بَيْنَ اَيْدِيْهِنَّ وَاَ رْجُلِهِنَّ وَلَا يَعْصِيْنَكَ فِيْ مَعْرُوْفٍ فَبَايِعْهُنَّ وَا سْتَغْفِرْ لَهُنَّ اللّٰهَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
"Wahai Nabi! Apabila perempuan-perempuan mukmin datang kepadamu untuk mengadakan bai'at (janji setia), bahwa mereka tidak akan menyekutukan sesuatu apa pun dengan Allah; tidak akan mencuri, tidak akan berzina, tidak akan membunuh anak-anaknya, tidak akan berbuat dusta yang mereka ada-adakan antara tangan dan kaki mereka, dan tidak akan mendurhakaimu dalam urusan yang baik, maka terimalah janji setia mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang." (QS. Al-Mumtahanah 60: Ayat 12)

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

اِنَّ الَّذِيْنَ يُبَايِعُوْنَكَ اِنَّمَا يُبَايِعُوْنَ اللّٰهَ ۗ يَدُ اللّٰهِ فَوْقَ اَيْدِيْهِمْ ۚ فَمَنْ نَّكَثَ فَاِ نَّمَا يَنْكُثُ عَلٰى نَفْسِهٖ ۚ وَمَنْ اَوْفٰى بِمَا عٰهَدَ عَلَيْهُ اللّٰهَ فَسَيُؤْتِيْهِ اَجْرًا عَظِيْمًا
"Bahwa orang-orang yang berjanji setia kepadamu (Muhammad), sesungguhnya mereka hanya berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan-tangan mereka, maka barang siapa melanggar janji, maka sesungguhnya dia melanggar atas (janji) sendiri; dan barang siapa menepati janjinya kepada Allah, maka Dia akan memberinya pahala yang besar." (QS. Al-Fath 48: Ayat 10)

Metode seperti ini adalah hal yang masuk akal. Mengingat lemahnya manusia yang butuh sandaran yang kuat untuk mengatur kehidupannya. Yang mengetahui sebelum, sesudah, dan yang terjadi saat saat ini. Siapa Dia? Dialah Allah Subhana huwata'ala. Pencipta dan pengatur alam semesta, manusia, dan kehidupan.

Wallahu'alam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar