Recent Posts

Total Tayangan Halaman

Labels

Pesan Sekarang Juga!

Cara Ngirim Tulisan

Cara mengirim tulisan ke Pena Pejuang : 1. Kirim tulisan, bisa dalam bentuk tulisan wa, bisa juga dalam format docx. 2. Sertakan dengan gamb...

Petaka Hidup dalam Jeratan Demokrasi

Rabu, 30 Desember 2020



Oleh : Elis Sulistiyani

Muslimah Perindu Surga

Miris baru-baru ini Elitha seorang buruh di perusahaan Aice yang sedang mengalami endometriosis harus mengalami pendarahan hebat karena beban kerja yang terlalu berat. Hingga akhirnya dia harus mengalami operasi kuret untuk mengangkat jaringan di rahimnya. Sebelumnya Elitha sempat mengajukan untuk bisa pindah divisi, mengingat beben kerja di divisi yang sedang dijalani terlalu berat. Namun apalah daya bukannya diberi keringanan Elitha dipaksa menyerah dengan keadaan dan tetap bekerja di divisi sebelumnya. Elitha pasrah dan tidak punya pilihan karena dia juga mendapat ancaman diberhentikan dari pekerjaan jika membantah. (The conversation. com, 18/03/2020)

Bagaikan fenomena gunung es kasus Elitha hanyalah satu dari sekian banyak kasus yang tak terkuak ke publik. Berbagai tindak kekerasan fisik maupun seksual juga kerap dialami kaum buruh perempuan saat mereka sedang bekerja. Berbagai tindakan diskriminasi juga seolah menjadi santapan harian kaum buruh perempuan saat ini.

Pekerjaan yang berat harus mereka tanggung demi upah yang tak seberapa. Beban hidup seolah berada dipundak mereka. Mereka bekerja demi keluarga, atau bahkan untuk membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga. Sekelumit permasalahan perburuhan perempuan ini, belum juga dapat diselesaikan. Permasalahannya selalu sama aturan mengenai perburuhan dibuat guna melindungi hak buruh. Namun saat ini justru buruh mendapat hantaman keras dengan berlakunya UU Omnibus Law yang disinyalir merugikan kaum buruh termasuk perempuan. (The conversation. com, 18/03/2020)

Gaung kesetaraan gender semakin nyaring saat banyak muncul kasus serupa. Pengusung kesetaraan gender ini berasumsi jika segala kekerasan dan ketidakadilan yang terjadi kepada pekerja perempuan dikarenakan belum adanya kesetaraan gender saat ini. Keberpengaruhan perempuan di sektor publik masih sangatlah minim.

Kaum feminis yang menjadi pengusung kesetaraan gender ini selalu berupaya untuk membuat perempuan dapat setara dengan laki-laki dalam segala bidang. Padahal sejatinya yang menjadi akar masalah dari berbagai kasus kekerasan ini adalah sistem kapitalis. Sistem ini telah memaksa kaum ibu untuk bekerja demi membantu suami atau bahkan menjadi 'kepala keluarga'. Karena saat ini sulit bagi kaum ayah untuk mencari pekerjaan, mengingat banyak sektor pekerjaan sebenarnya telah diisi pekerja perempuan. Waktu mereka habis untuk bekerja, hingga mereka korbankan waktu untuk membersamai tumbuh kembang buah hatinya.

Bagai teriris sembilu, dengan pengorbanan yang telah diberikan merka justru harus mendapat perlakuan yang tidak manusiawi. Sistem ini memang tidak akan dapat memanusiawikan manusia, karena sistem ini hanya berpihak kepada mereka yang bermodal saja bukan kepada mereka, kaum buruh.

Benang merah dari sengkarut mengenai perburuhan ini akan mudah untuk terurai jika kita menyelesaikannya dengan aturan yang benar, aturan yang berasal dari Sang Khaliq. Islam adalah solusinya. Islam bukan hanya sekedar agama tetapi juga jalan hidup yang didalamnya terdapat solusi atas problematika hidup manusia. Pun termasuk mengenai masalah buruh perempuan. Dalam Islam perempuan begitu dihormati dan dimuliakan. Allah SWT perintahkan kaum perempuan untuk menutup auratnya guna menjaga kehormatannya. Allah berikan keistimewaan saat disampaikan bahwa surga berada dibawah telapak kaki ibu.

Selain itu Islam telah tempatkan perempuan kepada posisi yang luar bisa, yakni melahirkan dan mendidik generasi Islam yang cemerlang. Ibu adalah sekolah pertama dan utama bagi seorang anak, yang akan membuat merka siap menjadi penerus peradaban Islam yang gemilang. Perannya tidaklah main-main, namun saat ini kapitalis justru telah 'mempermainkan' perempuan. Kodrannya tercerabut oleh himpitan ekonomi akibat hasrat materi kapital.

Sistem ekonomi saat ini menempatkan perempuan sebagai komoditi industri yang bisa dibayar murah. Hal ini tidak jauh dari prinsip kapitalis 'modal sekecil-kecilnya dan untung sebesar-besarnya'. Prinsip ini pula yang telah mebuat peluang kerja bagi laki-laki kian minim karena telah tergantikan oleh perempuan.

Hal inilah sejatinya yang dapat menjadi fokus permasalahan hm guna menyelesaikan permasalahan kekerasan terhadap perempuan khususnya dalam dunia kerja. Negara mesti turun tangan guna memastikan kaum ayah mendapatkan pekerjaan yang layak sehingga dapat menafkahi keluarganya. Hingga akhirnya kaum ibu tidak perlu menanggung beban mencari nafkah, yang berisiko mengalami kekerasan. Dampaknya kaum ibu akan fokus untuk menjalankan kodratnya sebagai ummi WA rabbatul bayt.

Semua ini hanya akan terwujud jika negara menerapkan sistem Islam secara komprehensif. Tidak tebang pilih pada hukum tertentu saja. Tapi Islam diterapkan dalam segala aspek kehidupan dan akhirnya akan menghadirkan keberkahan dalam kehidupan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar