Recent Posts

Total Tayangan Halaman

Labels

Pesan Sekarang Juga!

Cara Ngirim Tulisan

Cara mengirim tulisan ke Pena Pejuang : 1. Kirim tulisan, bisa dalam bentuk tulisan wa, bisa juga dalam format docx. 2. Sertakan dengan gamb...

Refleksi Akhir Tahun, Perempuan Berbicara Perubahan

Senin, 28 Desember 2020


Oleh : Ermawati

Sebuah acara besar di akhir tahun ahad 26 desember 2020 digital event nasional khusus Muslimah.  Risalah akhir tahun 2020 yang bertemakan Berkah dengan Khilafah, yang diikuti 91ribu lebig peserta seindonesia yang ikut berpartisipasi dalam acara event ini.  Acara yang dibuka oleh Hj Firda Muthmainnah s.si selaku MC acara tersebut.

Hj Firda Muthmainnah s.si mengatakan bahwa ditahun 2020 yang sudah kita lalui Bersama tidak kunjung menghantarkan ummat ini kepada kehidupan yang sejahtera dan damai.  Kondisi kehidupan masyarakat dari hari kehari jauh dari kata sejaktera, semua ini terjadi sebagaimana yang telah Allah peringatkan dalam Quran surat Arrum ayam 41 yaitu akibat dari ulah tangan manusia telah Nampak kerusakan di darat dan dilautan akibat dari ulah tangan manusia.  Maka acara ini mencari tahu akar persoalan dari semua problematika yang terjadi sampai pada tatanan solusi.  
Acara tersebut dipandu oleh Host yaitu Nanik Wijayanti sp.  Beliau seorang ibu sekaligus praktisi Pendidikan juga seorang aktifis dakwah, acara ini berbentuk talkshow yang menghadirkan narasumber yang luar biasa antara lain pertama, ibu Hj Dedeh Wahidah Achmad, kosultan dan trainer keluarga Sakinah.  Kedua, ibu Pratma Julia Sunjandari, s.p. pengamat kebijakan publik.  Ketiga, ibu Ratu Erma Rahmayanti,s.p. pemerhati kebijakan keluarga dan generasi.
Ibu Dedeh mengatakan bahwa kerusakan demokrasi merupakan perkara yang mendasar, yakni sistem kehidupan yang dibuat oleh akal manusia, bukan berasal dari pencipta manusia yang maha tahu apa yang baik untuk manusia dan mana yang buruk untuk mereka sehingga harus dijauhi.  Kemudian demokrasi ternyata berselingkuh dengan kapitalisme, maksudnya ialah saat kampenya menjelang pemilu, para penguasa membutuhkan dana yang tidak sedikit maka disini dibutuhkan sponsor yaitu pengusaha.  Sehingga ketika merek terpilih maka penguasa ini harus mengembalikan pinjaman pada para mengusaha, sehingga kepentingan yang para pengusaha akan di prioritaskan.

Lalu ibu Pratna menambahkan bahwa demokrasi sistem yang gagal, pertama, dalam menyejahterakan semua rakyat, dalam setahun, jumlah rakyat miskin bertambah 2 juta orang.  Kedua, Kesenjangan ekonomi luar biasa, kekayaan 4 orang terkaya Indonesia setara dengan pendapatan 100 juta orang miskin Indonesia.

Ibu Pratma juga mengakatan bahwa spirit mengeksiskan syariat gagal, karena media termasuk partai sekuler, sudah mati-matian menolak dari awal.  RUU Minol, yang saya yakin, dianut sebagai tanggungjawab anggota DPR atas desakan para pemilihnya, kaum muslimin untuk membuat aturan yang melarang miras.  Tapi harapan untuk disahkan, tipis.  Padahal Allah sudah sudah menegaskan haram nya khamr.  Jadi siapa yang sesungguhnya yang harus dipatuhi? Siapa yang patut menentukan halal haram?

Pertanyaan Host kemudian menuju ibu Ratu Erma yaitu bagaimana sistem Khilafah diterapkan? Jaminannya apa ketika diterpkan?  Belia menjawab bahwa pentingnya bagi kita untuk menghadirkan keyakinan dan memahami bahwa Khilafah adalah ajaran Islam.  

Ada 4 hal jaminan penerapan syariat Islam : pertama, bahwa kedaulatan ditangan hukum sysaara’.  Konstitusinya bersumber dari Syariah dan sudah lengkap mencakup 7 pilar bernegara.  Kedua, jaminan datang dari kemampuan pemimpinnya, yaitu kuat, takwa, penuh kasih saying.  Kuat dari sisi ilmu ketatanegaraan, memiliki skil keterampilan mengelola negara, takwa yaitu menghadirkan Allah SWT dalam setiap kebijakannya dan berlaku lemah lembut pada rakyatnya.  Ketiga, efisiensi atau kesederhanaan birokrasi, sehingga maslah yang diatasi cepat selesai.  Keempat, kesatuan komando, dipegang oleh Khalifah sehingga terkontrol, namun tetap terikat hukum syara.

Sistem alternatif pengganti demokrasi yang datang nya dari Allah yaitu Khilafah, ini janji Allah SWT.  Host memberikan pertanyaan pada narasumber yang dating dari para peserta diantaranya, apa yang perlu di persiapkan ummat dalam proses mempersiapkan perubahan? Ibu Dedeh menjawab, pemahaman yang benar,  atas demokrasi, kedua keyakinan yang kokoh, yakin atas Khilafah meski dibenci.  Ketiga, Aksi nyata.

Langkah apa yang harus di lakukan umat?  Mencontoh Langkah Rasulullah saw dalam berdakwah, mengkaji sirah dakwah Rasul, dakwah pemikiran bukan kekerasan, kemudian perbanyak fakta-fakta kegagalan demokrasi.  Umat juga harus mengkaji Islam, kajian-kajian yang rutin dan fokus, kemudian cari pusat-pusat kajian yang dapat mewujudkan visi misi tegak nya Khilafah.

Kemudian bagaimana meyakinkan umat bahwa sistem saat ini bisa dirubah ke sistem Khilafah? Ibu Pratma menjawab, untuk membuat perubahan yang hakiki harus kerja besar, merujuk apa yang sudah dituntun oleh Allah dalam Al-Qur’an, membutuhkan satu kelompok, terorganisir, aktifitasnya menyeru pada Islam khususnya amar makruf nahi mungkar, yang bisa melakukan adalah partai politik Islam ideologis. 

Lalu Bagaimana tanggapan ibu Ratu Erma terkait kesadaran yang ada di tengah masyarakat, menimbulkan optimisme, masih ada masyarakt yang belum siap meninggalkan demokrasi untuk memperjuangkan Khilafah.  Ibu Ratu Erma manjawab, jika mau bersikap maka tidak boleh hanya melihat realita, maka akan terjebak jika melihat realita.  Selanjutnya testimoni disampaikan oleh ibu Dr,Ir pigoselpi Rokhmin Dahunri, M.Si, tokoh masyarakat. 
Demokrasi ini sudah mati, abad Khilafah pasti sebentar lagi ada karena itu janji Allah SWT.  Akhir acara dilantunkan doa oleh Hj. Murti’ah, berharap pada Allah di bukakan pintu-pintu rahmat.  Acara Digital Event Nasional khusus Muslimah ini ditutup dengan rasa haru dan penuh harap Islam dapat diterapkan secara kaffah.  Wallahu’alam bish showab

Tidak ada komentar:

Posting Komentar