Recent Posts

Total Tayangan Halaman

Labels

Pesan Sekarang Juga!

Cara Ngirim Tulisan

Cara mengirim tulisan ke Pena Pejuang : 1. Kirim tulisan, bisa dalam bentuk tulisan wa, bisa juga dalam format docx. 2. Sertakan dengan gamb...

Selamanya Tak Akan Bisa

Minggu, 20 Desember 2020


Oleh: Ummu Zhafran

(Pegiat Literasi)

Ya, aturan yang dibuat manusia mustahil sanggup menandingi syariat Sang Pencipta sampai kapan pun.        Pesan inilah yang bisa  ditangkap pasca menyimak bedah buku virtual bertajuk How to Destroy America in Three Easy Steps karya Ben Saphiro oleh Ustadz Pedyanto, founder Klubuku.

Jangan terkecoh dengan judul. Alih-alih membahas detail  cara menghancurkan Amerika, Ben Saphiro  justru  mengirim sinyal seruan untuk memperkuat AS.  Dengan tiga poin yang menurut Ben jadi kuncinya.  Filosofi, kultur dan sejarah Amerika.  Hal ini juga bisa berlaku pada negara mana  Amerika.  Maka bila ketiga poin ini lemah, kehancuran sebuah negara hanya tinggal menunggu waktu. 

Menilik filosofi Amerika, terdapat dua pemahaman yang dominan mewakili.  Konservatif dengan Partai Republik dan Liberal dengan  Demokratnya.  Anehnya meski  keduanya sama berakar pada satu hal yaitu sekularisme -kapitalis namun friksi  di antara mereka cukup tajam.  Di satu sisi paham Konservatif selalu mencitrakan diri sebagai penjaga hak warga negara.  Sedang Liberal memandang negara sebagai sarana untuk mewujudkan hak setiap warganya.  

Dalam buku ini,  adanya polarisasi  antar keduanya  jelas terlihat saat penulis yang mewakili golongan konservatif menuding kebijakan Obama dari Partai Demokrat telah memicu lemahnya AS.  Pasalnya Obama memasukkan sektor kesehatan sebagai hak warga yang harus ditangani negara.  Jelas bagi konservatif, hal ini menyimpang dari filosofi Amerika versi mereka.  Kesehatan dipandang  sebagai hak manusia yang melekat sejak lahir.  Maka tak butuh peran negara untuk mewujudkannya.

Ada pun poin kedua dari Ben Shapiro untuk menguatkan Amerika adalah kultur.  Terdiri dari: pertama, toleransi akan hak orang lain.  Kedua, gereja dan keluarga sebagai penjaga nilai moral bangsa.  Ketiga, bersikukuh membela hak sendiri dan golongan di hadapan tirani.  Ini tampak dari dilegalkannya kepemilikan senjata api bagi tiap warga negara.   Keempat, bertualang dengan berani mengambil risiko dalam bidang ekonomi, seperti terjun di bursa saham dan pasar bebas.

Menariknya, sebelum menguraikan tentang kultur Ben Saphiro mengawali dengan sebuah tanya.  Bila semua hak warga dipenuhi negara lalu untuk apa ada kultur? 

Dari pertanyaan retoris  ini, seketika menguar aroma ideologi kapitalisme  yang menjadi induk dari konservatif dan liberal.  Ideologi yang melepaskan campur tangan negara dalam mengurusi urusan rakyatnya.  Bagai dalam permainan sepakbola, negara berperan hanya sebagai wasit, tidak lebih. 

Amboi, jangan salahkan bila pembaca balik bertanya pada  Ben Shapiro dengan retorika yang sama.

Jika perangkat aturan negara tak lebih dari basa-basi wasit,  apa guna ambisi kekuasaan? 

Di bawah jutaan pasang mata penduduk dunia terlihat meski presiden baru Amerika dari Partai Demokrat sudah terpilih dengan suara mayoritas, namun petahana yang notabene dari Partai Republik masih kasak-kusuk tak terima. Miris.

Lanjut poin yang terakhir. Resep menguatkan negara ala Ben Shapiro.  Yaitu melalui sejarah. 

Dalam ruang lingkup sejarah, lagi-lagi ditemukan kesenjangan.  Bagi Konservatif,   kental diwarnai oleh  kehebatan dan super Power Amerika.  Pengaruhnya tampak bahkan sampai pada tokoh pahlawan super dalam imajinasi mereka.   Ingat  Captain Amerika, Avenger dan semacamnya? Mereka tokoh fiktif penyelamat dunia yang selalu dicitrakan baik hati dan suka menolong.

Beda dengan versi Liberal.  Sejarah bangsa justru ditulis dengan tinta kelam.  Di dalamnya termuat episode perbudakan yang amat panjang juga daftar kejahatan  tiada akhir.  Baik pada warganya sendiri juga pada masyarakat dunia. 

Sampai di sini, pengutuban antar Konservatif dan Liberal semakin nyata.  Sekularisme yang menjadi asas keduanya yang jadi penyebab. Menyekat peran  agama dari kehidupan.  Kalaupun ada, sebatas menyeru pada nilai moral semata.  

Bandingkan dengan ideologi Islam.  Syaikh Taqiyuddin An Nabhani, seorang mujtahid mutlak jauh hari juga telah merumuskan tiga pilar negara.   Akidah sebagai fondasi, syariah yang terpancar dari akidah dan hikmah. 

Bertentangan dengan kapitalisme yang merupakan produk  akal manusia, ketiga pilar  ini bersandar pada apa yang datang dari Al Khalik Pencipta alam semesta.   Allah swt. yang Maha Tahu akan segenap potensi makhluk-Nya.  Bahwa manusia  tak pernah lepas dari salah dan khilaf.  Bila dibiarkan membuat aturan sendiri pastinya kacau dan penuh pertentangan satu dengan yang lainnya.  Maha Benar Allah dalam firman-Nya,

"Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? Kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya." (QS AnNisa: 82)

Alhasil, lazimnya fondasi yang kuat menghasilkan bangunan kuat pula.  Pun dengan Islam.  Ketika diemban dalam naungan Khilafah yang menerapkan syariah kaffah, akidah yang jadi fondasi mampu menjadikan negara tegak kokoh berabad lamanya.  Mulai masa khulafaurrasyidin di Makkah hingga era Utsmaniyah di Turki.  Bukan tak mungkin akan tegak kembali dengan seizin Allah.

Sebaliknya dengan kapitalisme, tampak gagah perkasa dari luar namun sejatinya keropos digerogoti perpecahan di antara mereka sendiri.  Tak menutup kemungkinan Ben Shapiro malah membuktikan judulnya benar, to destroy America is easy.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar