Recent Posts

Total Tayangan Halaman

Labels

Pesan Sekarang Juga!

Cara Ngirim Tulisan

Cara mengirim tulisan ke Pena Pejuang : 1. Kirim tulisan, bisa dalam bentuk tulisan wa, bisa juga dalam format docx. 2. Sertakan dengan gamb...

Tertembak Abuse of Power

Kamis, 24 Desember 2020



Oleh : Andini

Lagi, umat Islam dibuat meradang. Dibuat mendidih darahnya. Karena apa? Karena dana bansos COVID-19 yang ditilep oleh menteri sang juara penanganan korona? Atau oleh menteri Perikanan dan Kelautan yang menelan uang suap? Lebih dari itu.

Enam anggota laskar Front Pembela Islam (FPI) ditembaki. Mereka dibunuh dengan diberondong peluru. Dari siapa? Dari pengayom masyarakat yang kerap kali mengaku paling menjaga Republik ini. Dari mereka yang mengaku paling cinta dengan negara, tapi memperlakukan rakyat biasa lebih keji daripada perlakuannya terhadap menteri-menteri yang korup. Lebih keji perlakuannya daripada perlakuan terhadap penjual negeri bertopeng investasi.

Mereka lebih keji pada saudara kami yang lantang beramar ma'ruf nahi munkar daripada terhadap kelompok-kelompok separatis yang nyata telah membantai banyak orang.

Kisah tragis ini berawal ketika polisi menerima informasi adanya pengerahan massa untuk mengawal pemeriksaan Habib Rizieq Shihab (HRS) di Polda Metro Jaya, Senin kemarin. Polisi kemudian menyelidiki kebenaran informasi itu dengan mengikuti mobil yang diduga dikendarai simpatisan HRS.

Sampai di KM 50 Tol Jakarta-Cikampek, menurut Kapolda, kendaraan polisi tiba-tiba diserang oleh simpatisan HRS yang berjumlah 10 orang. Akibatnya, kendaraan polisi mengalami kerusakan.

"Ketika anggota Polda Metro Jaya mengikuti kendaraan yang diduga adalah pengikut MRS, kendaraan petugas dipepet, kemudian diserang dengan menggunakan senjata api dan senjata tajam sebagaimana yang rekan-rekan lihat di depan," kata Kapolda Metro Jaya, Irjen Pol Fadil Imran.

"Anggota yang terancam keselamatan jiwanya karena diserang kemudian melakukan tindakan tegas terukur," tambahnya.

Enam orang simpatisan HRS tewas ditembak polisi, sementara empat orang lainnya melarikan diri. (07/12/20, kompas.com)

Jubir FPI, Munarman mengatakan bahwa tindakan anggota laskar yang menghalangi mobil penguntit dari rombongan HRS adalah reaksi wajar dari anggota pengawal karena memang tugasnya untuk melindungi HRS.

Ia juga menegaskan, fitnah besar jika polisi menyebut bahwa anggota laskar FPI menembak polisi.

"Yang patut diberitahukan pada teman-teman pers semua, bahwa fitnah besar kalau laskar kita disebut membawa senjata api dan tembak-menembak. Fitnah itu," jelasnya.

Kemudian lebih membingungkan lagi ketika ternyata kronologi yang dipaparkan pihak kepolisian tidak sesuai dengan rekaman suara anggota laskar FPI yang beredar. Rekaman suara dari anggota laskar itu justru menggambarkan situasi yang berlawanan. Berulang kali terdengar percakapan mereka untuk menghalangi mobil penguntit agar tidak mengikuti mobil keluarga HRS karena khawatir terjadi masalah.

Bahkan dari rekaman suara terakhir, terdengar bahwa mereka semakin dipepet oleh mobil penguntit.

"Kita sedang mengarah ke Bandung. Sebab ini orang udah mulai gila, nih. Tiga mobil PWQ, KJD sama plat K. Ini udah belajar gila, nih, dia. Udah mepet-mepetin kita. Tapi kita udah berusaha masuk ke tol arah ke Bandung," terang salah seorang anggota laskar. (07/12/20, kiblat.net)

Tidak hanya itu, kejanggalan-kejanggalan lainnya juga terlihat dari penyataan-pernyataan pihak polisi yang tidak konsisten, tidak adanya oleh TKP, dan tidak adanya rekaman CCTV.

Walaupun pihak Jasa Marga menyatakan CCTV di tempat kejadian sedang offline karena mengalami kerusakan sejak hari Ahad, 06 Desember 2020 (08/12/20, tempo.co), tetapi kepolisian mengklaim telah mengantongi bukti rekaman CCTV.

Kemudian dari hasil penyelidikan seorang wartawan senior dari FNN, Edi Mulyadi, saksi mata yang ada di lokasi ketika kejadian menyebutkan dengan pasti bahwa tidak terjadi baku tembak, yang ada hanya polisi yang menembak anggota laskar. (10/12/20, @simulacra.id)

Dari munculnya bukti-bukti yang menunjukan tidak akuratnya keterangan pihak polisi terkait tewasnya enam anggota laskar FPI, wajar bila banyak masyarakat yang menyangsikan kebenaran versi kepolisian. Ditambah jika melihat track record-nya pun kepolisian termasuk lembaga yang . Belum lagi pada setiap aksi yang dilakukan kaum muslim, polisi kerap melakukan kekerasan dengan semena-mena.

Sangat disayangkan, aparat kepolisian seharusnya menjadi pelindung bagi rakyat, bukan sebaliknya. Bahkan dengan begitu mudah menghilangkan nyawa warga sipil dengan alasan yang mengada-ngada.

Padahal peringatan Allah untuk mereka yang membunuh tanpa alasan syar'i sangatlah jelas dalam Al-Qur'an :

"Dan barangsiapa membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya ialah Jahannam, ia kekal di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan Allah mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya." (TQS. An-Nisa: 93)

Peristiwa seperti ini tentu bukan hal aneh dalam rezim kapitalisme. Rezim ini bisa membeli keberpihakan aparat. Siapa yang punya kepentingan dan kekuatan, di bawahnya lah aparat bekerja. Rezim yang melahirkan orang-orang yang tidak peduli halal dan haram demi memuaskan nafsu duniawinya. Rezim yang membawa kerusakan.

Kondisi ini sangat berbeda dengan masa kekhilafahan dulu. Polisi dalam negara Islam adalah alat kekuasaan untuk menjaga keamanan dalam negeri. Keberadaannya tentu sangat penting. Baik yang bersifat pencegahan maupuan penindakan. Beberapa tindakan yang dianggap bisa mengancam keamanan dalam negeri adalah: (1) Murtad dari Islam; (2) Memisahkan diri dari negara; (3) Menyerang harta, jiwa dan kehormatan manusia; (4) Penanganan Ahl ar-Raib.

Polisi juga harus mempunyai pribadi Islami dalam menjalankan tugasnya. Institusi Khilafah tidak segan-segan memecat kepala kepolisian yang rusak. Mereka yang melampaui batas, ketika melakukan eksekusi. Mereka yang tidak menggunakan bukti. Seperti ketika Khalifah al-Muqtadir Billah yang mencopot Kepala Kepolisian Baghdad Muhammad bin Yaqut, dan tidak boleh menduduki jabatan di pemerintahan, karena perangai yang buruk dan kezalimannya.

Dengan adanya kejadian naas yang menimpa saudara kita dari laskar FPI, menjadi bukti bagi kita tidak amanahnya aparat hari ini. Mengkhianati rakyat dan bekerja untuk "atasannya" semata. Hal ini tentu membuat kita semakin yakin akan kerusakan sistem kapitalisme yang saat ini bercokol. Juga membuat kita semakin yakin bahwa hanya Islam lah yang bisa memanusiakan manusia.

Semoga Allah segerakan pertolongan-Nya untuk kita melanjutkan kehidupan Islam, Aamiin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar