Recent Posts

Total Tayangan Halaman

Labels

Pesan Sekarang Juga!

Cara Ngirim Tulisan

Cara mengirim tulisan ke Pena Pejuang : 1. Kirim tulisan, bisa dalam bentuk tulisan wa, bisa juga dalam format docx. 2. Sertakan dengan gamb...

Tragis, Balita Meninggal Saat Mengemis

Minggu, 13 Desember 2020



Oleh: Erna Ummu Azizah

Kisah memilukan dialami seorang ibu berinisial NA (32) di Kota Bekasi. Ia kehilangan anaknya yang berusia 2 tahun untuk selamanya. Tragisnya, puteranya itu meninggal dunia dalam gendongannya. Peristiwa memilukan itu terjadi saat bocah itu dibawa ibunya untuk mengemis di Pasar Bantar Gebang, Kota Bekasi, pada Kamis (26/12) siang. (detikNews, 29 Nov 2020)

Sang ibu diketahui baru menyadari anaknya itu meninggal setelah melihat wajah putranya sudah pucat pasi. Ia mencoba membangunkan anaknya, tetapi bocah malang itu bergeming. Mengetahui anaknya tidak bernyawa, sang ibu pun menangis histeris. Sontak warga di pasar pun mendatanginya.

Polisi juga datang mencari tahu peristiwa apa yang terjadi saat itu. Polisi kemudian membawanya ke rumah sakit. Diduga korban meninggal dunia karena sakit. Sang anak diketahui sakit sejak 4 hari sebelumnya. Sang ibu sudah berusaha minta tolong ke warga, tapi karena warga juga pas-pasan jadi tidak bisa apa-apa. Hal ini pun diakui Pemkot Bekasi sebagai kelalaian pihaknya dalam menangani warga miskin.

Hati ibu mana yang tidak menangis melepas kepergian putera yang dicintainya tepat di depan matanya. Terbayang betapa hancurnya hati sang ibu. Terlebih saat puteranya terpaksa dibawa mengemis dalam keadaan sakit. Hingga akhirnya meregang nyawa dalam kondisi tak semestinya.

Kejadian ini mungkin bukan yang pertama kalinya, entah berapa banyak kasus serupa terulang menyesakkan dada. Jerat kemiskinan yang menghantui masyarakat membuat nyawa seakan tak berharga. Jangankan untuk berobat, sekedar untuk mengganjal perut pun begitu berat.

Terlebih saat kondisi pandemi seperti sekarang ini. Penguasa yang diharapkan pun seolah menutup mata. Mereka lebih disibukkan dengan urusan harta dan tahta. Wajar jika rakyat semakin menjerit. Karena beban hidup kian sulit. 

Beginilah hidup di sistem kapitalis. Penguasa hanya ada saat butuh suara. Namun setelah berkuasa, mereka lupa amanah dan janjinya. Ibarat habis manis sepah dibuang. Padahal, penguasa itu adalah pemimpin yang mestinya mengurus dan mengayomi rakyat. Karena itu adalah amanah yang pertanggungjawabannya berat dunia akhirat.

Sungguh, umat begitu merindukan penguasa yang amanah seperti Kholifah Umar bin Khattab. Kisah-kisah heroik kepemimpinannya tercatat dalam tinta emas sejarah peradaban Islam. Teringat kisah beliau dengan ibu pemasak batu. Kisah ini sangat terkenal yang menggambarkan bagaimana sosok pemimpin sejati yang begitu dicintai.

Kholifah Umar bin Khattab kala itu tengah memimpin umat Islam menjalani tahun yang disebut Tahun Abu. Saat itu Daulah Khilafah Islam tengah dilanda paceklik akibat musim kemarau panjang yang membuat tanah-tanah di sana tandus.

Suatu malam, Kholifah Umar mengajak seorang sahabat bernama Aslam untuk mengunjungi kampung terpencil di sekitar Madinah. Langkahnya terhenti di dekat sebuah tenda lusuh. Suara tangis seorang gadis kecil dan adiknya mengusik perhatian Sang Kholifah. Didapatinya seorang ibu yang tengah memasak batu.

Ternyata ibu itu memasak batu untuk menghibur anaknya yang sedang kelaparan. Lalu ibu itu berkata "Sungguh Umar bin Khattab tidak pantas jadi pemimpin. Dia tidak mampu menjamin kebutuhan rakyatnya". 

Kholifah Umar pun bergetar, bahkan menitikkan air mata mendengar perkataan tersebut. Ibu itu tidak tahu yang ada di hadapannya adalah Kholifah Umar bin Khattab. Aslam sempat hendak menegur wanita itu. Tetapi, Kholifah Umar mencegahnya. Lalu keduanya bersegera kembali ke Madinah.

Sesampai di Madinah, Kholifah langsung pergi ke Baitul Mal dan mengambil sekarung gandum juga sebongkah daging. Tanpa mempedulikan rasa lelah dan malam yang dingin, Kholifah Umar mengangkat sendiri karung gandum tersebut di punggungnya. Aslam segera mencegah, "Wahai Amirul Mukminin, biarlah aku yang memikul karung itu," kata Aslam.

Dengan nada tinggi Umar berkata "Aslam, jangan jerumuskan aku ke dalam neraka. Kau akan menggantikan aku memikul beban ini, apakah kau mau memikul beban di pundakku ini di hari pembalasan kelak?". Aslam pun tertunduk, dan akhirnya Kholifah sendirilah yang memikul karung gandum tersebut, bahkan beliau sendiri yang memasak makanan untuk ibu itu dan anak-anaknya. Masya Allah..

Keseharian Sayyidina Umar dan para Kholifah setelahnya memang benar-benar mencerminkan kesadaran ruhiyah yang sangat tinggi. Keimanan dan ketakwaan menuntun mereka menjadi pemimpin amanah yang begitu dicintai rakyatnya.

Alhasil, rakyat yang ada di bawah kepemimpinan mereka bisa merasakan hidup sejahtera dan mulia. Itulah ketika sebuah negeri diterapkan sistem Islam secara kaffah di bawah naungan Khilafah Rasyidah. Tidak seperti saat ini, banyak rakyat yang hidup menderita. Kemiskinan, pengangguran, dan beban hidup yang berat mewarnai keseharian mereka.

Sudah saatnya kita campakkan sistem kapitalis dan segera beralih ke sistem Islam yang terbukti selama berabad-abad mampu mensejahterakan. Sehingga tak ada lagi cerita balita tiada akibat kelalaian penguasa. Wallahu a'lam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar