Recent Posts

AS Bebaskan Aturannya, Angin Surga Bagi LGBT Dunia

Rabu, 27 Januari 2021




Oleh: Rut Sri Wahyuningsih
Institut Literasi dan Peradaban

Apa kabar Presiden Joe Biden? Di hari pertama ia resmi menjadi Presiden Amerika Serikat ke-46, Joe Biden membatalkan sejumlah kebijakan pendahulunya, Donald Trump, yang banyak mengundang kontroversi tak lama setelah dia dilantik pada Rabu, 20 Januari 2021.

Belasan perintah eksekutif ia tandatangani untuk mencabut sejumlah kebijakan Trump. Salah satunya kebijakan LGBT, Biden mencabut kebijakan Trump yang melarang individu transgender masuk militer AS.

Pada masa Presiden Barack Obama pada 2016 mengizinkan orang trans secara terbuka melakukan pengabdian di militer dan menerima pelayanan medis sesuai dengan gender mereka.Namun era Donald Trump, penerimaan orang transgender dibekukan meski membiarkan yang telah direkrut tetap bertugas (CNN Indonesia.com, 27/1/2021).

Akankah ini angin segar bagi kaum trans di dunia, mengingat selama ini perjuangan mereka mati-matian untuk mendapatkan pengakuan dunia. Berita mereka timbul tenggelam namun data atau kasus yang melibatkan mereka tak pernah reda.

Seperti misalnya artis Elliot Page (sebelumnya Ellen page) yang terus menjadi sorotan publik. Setelah di awal Desember ia mengumumkan bahwa dirinya transgender dan Januari ini bercerai dari istrinya Emma Portner (Liputan6.com, 27/1/2021).

Namun penerimaan dunia terkait perubahan kepribadian ini semakin lama semakin menguat, seringkali disamakan dengan kekuatan mengekspresikan diri. Banyak orang yang menganggap mereka adalah pahlawan bagi sebagian yang lain yang hingga kini masih mengalami keterkungkungan dengan dirinya sendiri, karena merasa berada di jasad yang salah maupun celaan masyarakat konvensional yang masih belum seratus persen menganggap mereka normal.

Bagaimana dengan dunia timur? Inilah liberalisme yang disebarkan begitu massif sebagai gaya hidup, meskipun tidak secara terus terang namun penerimaan terhadap seseorang yang tingkahnya mirip perempuan meskipun dia pria atau sebaliknya semakin marak. Bahkan dianggap sebagai kesenangan. Berbagai even dianggap semakin seru dan menaikkan rating jika ada mereka.

Padahal Indonesia , salah satu negara dengan penduduk mayoritas Muslim. Namun situs yang tersedia bagi kaum trans membentuk komunitas sangatlah banyak. Tak nampak upaya pemerintah untuk mengatasi ini. Padahal efeknya sangatlah berbahaya. Sebab situs ini selalu bergandeng renteng dengan situs porno.

Dunia sedang sakit, terutama negeri-negeri kaum Muslim. Mereka tak lagi mampu menolak sebuah mudharat akibat pemikiran rusak sebab dibiarkannya sekularisme yang melahirkan liberalisme dan kapitalisme. Generasi muda hari inipun tak luput dari upaya degradasi pemikiran sehat dan menghargai tubuhnya.

Seperti yang baru saja terjadi di SMAN 2 Padang, terkait ada dugaan pemaksaan berjilbab bagi siswi non Muslim. Inilah bukti rusaknya sistem interaksi sosial di masyarakat kita. Sebagai lembaga pendidikan tentu menanamkan akidah dan ketakwaan siswanya adalah kewajiban. Bahkan seharusnya masuk dalam kurikulum yang berlaku bagi semua siswa, Muslim maupun non Muslim.

Bukan kemudian membuat guncangan seakan syariat Allah adalah pilihan. Padahal sebetulnya jika diterapkan yang terjadi adalah maslahat. Sebagaimana yang dipraktikkan Rasulullah dan khalifah-khalifah selanjutnya, masyarakat beragam lain tidak akan dicampuri urusan akidah dan ibadahnya, namun ketika mereka harus berinteraksi di ruang publik harus tunduk dengan aturan Islam. Dan tidak ada persoalan, justru kemuliaan perempuan terjaga dan kriminalitas bisa diminimalisir.

Sementara hari ini, tindak kriminal dengan pelaku remaja tak terhitung lagi ragam dan jumlahnya. Hukum rimba seperti bullyingpun menjadi trend. Kemendikbud pun diam tak bergeming. Tetap berjalan di jalur belajar merdeka yang samasekali tak menyentuh asas dan tujuan pendidikan berkualitas.

Bukankah kita menginginkan kesejahteraan dan hidup yang lebih berkualitas? Selama liberalisme dibiarkan bercokol di benak-benak kaum Muslim maka selama itu pulalah tak akan pernah terwujud. Apa yang dilakukan oleh AS sebagai kampiun politik demokrasi lambat laiun akan diamini oleh negara pembebek, seperti Indonesia. Jadi, ini sekaligus bukti, sekalipun berganti presiden, AS tetaplah musuh bagi dunia Islam. Wallahu a'lam bish showab

Tidak ada komentar:

Posting Komentar