Recent Posts

Benarkah GeNose menjadi Solusi?

Minggu, 31 Januari 2021



Oleh : Wilujeng Sri Lestari, S. Pd. I



Hampir satu tahun pandemi terjadi. Kematian akibat covid semakin bertambah. Berbagai upaya sudah dilakukan. Mulai program 4T (Testing, Tracing, Tracking dan Treatment) untuk mencegah meluasnya penularan COVID-19, bahkan alat uji untuk mendeteksi seseorang dari corona, seperti Rapid Test Antibody dan Rapid Test Antigen-Swab telah dilakukan.

Terbaru, telah ditemukan alat pendeteksi covid-19 buatan anak negeri dinamakan GeNose. Alat pendeteksi Covid-19 dengan hembusan napas yang dibuat oleh peneliti Universitas Gajah Mada (UGM). Alat ini diklaim dapat mendeteksi Covid-19 hanya dalam waktu 3 menit. Sedangkan biaya tes GeNose antara Rp 15.000 hingga Rp 25.000 dan akurasinya saat ini 95 persen. (Kompas.com, 31/01/2021).

Meskipun ditemukannya GeNose adalah sesuatu yang sepatutnya disyukuri. Apalagi di tengah biaya tes menggunakan alat pendeteksi lain yang tidak bisa dikatakan murah bagi sebagian kelompok masyarakat. Namun akankah alat yang akan tersedia 5 Februari nanti bisa memberikan pengaruh banyak dalam penyelesaian pandemi yang terjadi? Atau justru bisa jadi GeNose menjadi ladang bisnis bagi kapitalis sebagaimana yang sudah sering terjadi.

Jika kita lihat dari jumlah kasus positif virus Corona (Covid-19) di Indonesia, bertambah 13.802 pasien pada Jumat (29/1/2021). Sehingga saat ini total kasus Covid-19 di Indonesia menjadi 1.051.795 kasus. (TribunNews.com, 29/01/2021).

Dari angka ini bisa dikatakan jumlah kasus covid selama hampir satu tahun ini bukannya menurun, tapi semakin bertambah.

Belum lagi tenaga kesehatan yang harus meninggal dalam menangani kasus covid ini. Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menyebut sebanyak 647 tenaga kesehatan (nakes) di Indonesia meninggal dunia karena terpapar virus corona (Covid-19). Perinciannya, 289 dokter, 27 dokter gigi, 221 perawat, 84 bidan, 11 apoteker, dan 15 tenaga lab medik. (CNNIndonesia, 28/1/2021)

Butuh Solusi Tuntas.

Segala upaya telah dilakukan untuk mengatasi pandemi ini. Berbagai alat deteksi covid diluncurkan. Protokol kesehatan digalakkan. Bahkan terakhir vaksinasi juga akan diterapkan secara luas. Namun covid tak kunjung teratasi. Kasusnya malah bertambah tinggi. Apa yang salah dalam negeri ini?

Dari awal terjadinya wabah, sudah terlihat ketidakseriusan dalam menanganinya. Ungkapan orang Indonesia tidak kena corona karena makan nasi kucing salah satunya. Belum lagi ketidakpatuhan masyarakat dalam menerapkan protokol kesehatan menambah panjang deretan kasus covid-19.

Bukannya lockdown, negara malah memberlakukan PSBB. Itupun tak berlangsung lama. Dengan dalih pemulihan ekonomi, new normal pun diterapkan. Tak ayal, covid semakin tak terkendali. Belum lagi kurangnya edukasi, menjadikan rakyat juga abai. Menganggap corona adalah konspirasi.

Bagaimana mengatasi wabah, hanya Islam yang bisa kita jadikan rujukan. Islam akan memberlakukan lockdown atau karantina wilayah. Dengan memisahkan yang sakit dengan yang sehat. Bagi wilayah yang terdampak berat, diberlakukan karantina. Negara akan menjamin dan memenuhi kebutuhan bagi rakyat yang dikarantina. Bagi wilayah terdampak sedang/ringan, karantina hanya diberlakukan ke tempat yang menjadi pusat sebaran infeksi. Bagi wilayah yang tidak terdampak wabah, kegiatan ekonomi masyarakat tetap berjalan.

Islam akan memberikan edukasi kepada masyarakat sehingga akan berhati-hati terhadap wabah. Tak lupa negara akan memberikan jaminan kesehatan terbaik buat masyarakat. Itupun gratis, karena Islam menjadikan segala yang berkaitan dengan masyarakat adalah bagian dari pengurusan penguasa terhadap rakyat. Dana yang diperoleh negara Islam bukan dari utang, namun diambil dari baitul mal.

Itulah solusi Islam dalam mengatasi wabah. Selama sistem yang diterapkan adalah kapitalisme dimana materi atau manfaat adalah orientasi atas segala hal. Maka kesehatan akan terus tergadaikan demi kepentingan segelintir orang. Menjadikan aktivitas pengurusan urusan masyarakat menjadi tidak optimal karena peran negara hanya sebatas regulator.


Wallahu'alam bis'howab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar