Recent Posts

Total Tayangan Halaman

Labels

Pesan Sekarang Juga!

Cara Ngirim Tulisan

Cara mengirim tulisan ke Pena Pejuang : 1. Kirim tulisan, bisa dalam bentuk tulisan wa, bisa juga dalam format docx. 2. Sertakan dengan gamb...

Dakwah Keluarga di Tengah Wabah

Sabtu, 23 Januari 2021


Oleh : Neno Salsabillah
(Penggiat Literasi & Owner Hijab Wafa)

Sudah setahun kita semua menghadapi kondisi yang tak biasa. Dari mulai aktivitas di luar yang mulai dibatasi dan juga pemakaian masker saat keluar rumah. Semua merasakan di belahan dunia lainnya, tidak terkecuali Indonesia. 

Semua berdampak, baik kesehatan, ekonomi, pendidikan, pariwisata dan lain-lain. Banyak kebiasaan yang berubah, yang terkadang kita sulit menerima dan melaksanakannya. 

Mungkin seperti saya seorang ibu, dengan kondisi sekolah di rumah otomatis kita harus berupaya seoptimal mungkin mengajarkan mereka di rumah. Meski Guru menjelaskan dan memberikan soal via daringdaring,  namun karna kondisi kelasnya di rumah, emakpun harus turut aktif membimbingnya. 

Mengapa demikian? Karena kondisi saat ini sudah banyak anak-anak seusia mereka yang memiliki gadget. Tidak jauh penggunaan gadget tersebut untuk bermain game atau aplikasi lainnya yangbkurnag bermanfaat. Karena memang seusia mereka belum paham penggunaan gadget sesungguhnya. 

Maka dari itu sebagai orang tua saya pribadi memahamkan, bahwa gadget ini digunakan untuk sekolah. Untuk menerima tugas dari guru dan mengumpulkan segera. Bukan saat Umi pinjamkan HP malam disalahgunakan, download game dan asik bermain. Main sesekali boleh, namun tidak membuat kita lalai. 

Karenanya harus dikontrol satu persatu, gantian meminjam HP untuk mengerjakan soal-soal. Alhamdulillah dengan kondisi saat ini, orang tua jadi banyak belajar. Bukan hanya sabar namun juga ilmu yang berbeda dari setiap kelas. Waktu bersama anak pun lebih banyak, berdiskusi santai tentang nasihat dan juga pemahaman Islam. 

Cara penyampaian ke anak-anak memang berbeda dengan orang dewasa. Kala kita menyampakain amal ma'ruf nahi munkar dengan usia remaja biasanya seru dengan tema hijrah, singglelillah, jomblo fisabilliah, cinta setelah halal dan tema-tema lain yang memang kekinian. 

Untuk remaja zaman old alias orang tua lebih kepada sakinah dalam keluarga, mendidik anak dalam Islam, parenting, keberkahan umur, dan tema-tema khas lainnya yang terkait rumah tangga.
 
Lalu bagaimana penyampaian kepada anak-anak? Memang tidak mudah namun bukan berarti sulit. Dunia anak-anak lebih suka dengan cerita, karenanya orang tua harus rajin-rajin mengingatkan mereka membaca tentang nabi-nabi, Rasulullah my idol, sahabat -sahabat Rasulullah yang luar biasa dan hal terkait kisah-kisah Islam lainnya. 

Mendampingi dengan berkisah sederhana sebelum tidur, menggambarkan sosok yang dicintai Allah SWT. Seperti apa yang disukai dan dibenci Allah. Mencontoh kewajiban  apa yang dilakukan oleh Rasul dan para sahabat. Sehingga mereka dicintai Allah dan dijamin masuk syurga. Maka anak-anak pun menyimpan dalam memorinya. Semakin terus kita ceritakan, pahamkan dan motivasi agar mencontoh  yang dilakukan Rasulullah. 

Hal kecil seperti saling menyayangi, saling berbagi, saling menolong dan saling mendoakan. Meski realita kadang sering berantem abis itu baikan. Yah... begitulah anak-anak. Namun marahan mereka pun hanya sebentar nggak lebih dari beberapa menit setelah itu main bersama lagi. 

Dengan menanamkan kepada mereka sejak dini tentang kewajiban dakwah atau amal ma'ruf nahi munkar. Maka mulai tumbuh dalam diri mereka, ketika melihat sesuatu yang tidak sesuai dengan Islam. Insya Allah mereka akan melarang, protes ataupun bertanya. 

Seperti tentang tabarruj (bersolek). Kita memahamkan bahwa umi boleh pakai merah bibir, ataupun merah di pipi. Tapi hanya di rumah saja, hanya boleh diliat Abi dan kalian. Dari situ mereka langsung nangkep. Bahwa umi cantiknya hanya untuk Abi dan mereka. 

Nah suatu ketika, saat saya menjemput mereka dengan motor yang kapasitasnya agak overload. Dengan membonceng 4 anak. Fatih anak ke 4 berkata agak sedikit keras. 

"Umi kok ibu itu bibirnya merah kaya warna cabe, kan nggak boleh ya mi?" celetuknya, saat berpapasan dengan seorang ibu-ibu yang sedang berjalan. 

"Hmm... mungkin ibunya belum paham" jawabku singkat. Karena sedang fokus mengendarai motor.Yah begitulah polosnya anak, seperti fatih saat itu yang masih berusia 6 tahun. Anak-anak belum paham, apakah perkataannya menyinggung atau menyakiti perasaan orang lain. Karena mereka begitu polos menyampaikan maklumat sabiqoh (informasi awal) dari uminya. 

Masya Allah memori anak itu luar biasa, mereka masih bersih. Apa yang kita tanam, maka akan tumbuh. Tugas orang tualah menanamkan yang baik pada mereka. Memahamkan bahwa tugas kita sebagai manusia bukan hanya ibadah mahdih saja namun juga aktivitas lainnya seperti dakwah. 

Membiasakan mereka dari kecil untuk menyampaikan yang hak dan batil secara ma'ruf. Dakwah itu mernagkul bukan memukul. Tidak bisa memaksa, hanya Allah perintahkan untuk menyampaikan dan mengajak dalam kebaikan. Hasilnya biarlah Allah yang putuskan. 

Dakwah memang dibutuhkan keberanian. Seperti Fatih tadi, hanya saja dengan seusianya belum mampu menyampaikan dengan bijak. Masih dalam proses, namun sudah ada keberanian. Karena sejatinya dakwah mutlak butuh keberanian. Tanpa keberanian, pengembangan dakwah bisa gugur di tengah jalan. 

Itulah sunatullah dakwah. Dakwah adalah jalan yang sulit dan juga terjal. Banyak ujian dan cobaan. Akan selalu dihadang dan dimusuhi oleh para pendukung kebatilan. Baik dari golongan kafir, munafik maupun fasik. 

Oleh karena itu, setiap keluarga harus saling bahu-membahu terutama Umi dan Abi dalam mendidik dan  mengasuh anak-anak. Karena bukan hanya nafkah saja  yang dipenuhi namun kasih sayang dan pendidikan Islam  juga harus terpenuhi. Agar kelak generasi kita adalah garda terdepan dalam melanjutkan estafet perjuangan yang mulia ini. Aamiin... Allahuakbar 
.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar