Recent Posts

Eksploitasi Alam, Buah Busuk Sistem Kapitalis Sekuler

Rabu, 27 Januari 2021



Oleh : Siti Saodah, S. Kom 

(Aktivis Muslimah dan Pemerhati Remaja)

 

Tahun baru masyarakat Indonesia disambut dengan bencana yang banyak menimpa negeri khatulistiwa. Mulai dari bencana di udara dengan jatuhnya pesawat Sriwijaya Air di Perairan Kepulauan Seribu. Bencana banjir yang kini melanda Kalimantan serta gempa yang menghantam Sulawesi. Tak cukup itu saja kini di berbagai daerah lain pun mengalami banjir disebabkan curah hujan yang cukup tinggi.

 

Bencana Alam Di Awal Tahun

Data menyebutkan sekitar 1500 rumah warga di Kalsel (Kalimantan Selatan) yang tersebar di kecamatan Pengaron dan Kabupaten Banjar bahkan ketinggian air mencapai 2-3 meter (www.kompas.com).  Sementara di Sulbar (Sulawesi Barat) dilanda gempa berkekuatan 6,2 Magnitudo di kedalaman 10 Km berpusat di timur laut Majene. Kekuatan gempa dirasakan sampai Palu, Sulawesi Tengah dan wilayah Sulawesi Selatan. Sementara informasi terakhir dari BNPB di Majene terdapat 8 warga meninggal dunia, sekitar 637 orang mengalami luka-luka dan 15.000 lainnya mengungsi (m.jpnn.com).

 

Eksploitasi Alam Tanpa Batas

Bencana alam yang melanda Indonesia bukan tanpa sebab, pasalnya banyak alam yang di eksploitasi tanpa batas. Sepanjang tahun 2009 sampai 2011 terjadi peningkatan luas perkebunan sebesar 14 persen dan terus meningkat di tahun berikutnya sebesar 72 persen dalam 5 tahun papar M. Jefri Raharja sebagai Staf Advokasi dan Kampanye Lingkungan Hidup (Walhi). Direktorat Jenderal Perkebunan (2020) mencatat, luas lahan perkebunan sawit di Kalimantan Selatan mencapai 64.632 hektar.

Untuk jumlah perusahaan sawit, pada Pekan Rawa Nasional I bertema Rawa Lumbung Pangan Menghadapi Perubahan Iklim 2011, tercatat 19 perusahaan akan menggarap perkebunan sawit di lahan rawa Kalsel dengan luasan lahan mencapai 201.813 hektar (www.kompas.com). Bukan hanya pembukaan lahan sawit yang mengakibatkan gundulnya hutan Indonesia. Namun salah satunya adalah pembukaan lahan pertambangan yang berdampak banyak bagi lingkungan sekitar. Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) mencatat terdapat 4.290 Izin Usaha Pertambangan (IUP) atau sekitar 49,2 persen dari seluruh Indonesia. Jefri menambahkan bahwa bukaan lahan tambang meningkat 13 persen hanya dalam waktu 2 tahun (www.kompas.com).

Maraknya pembukaan lahan baik kelapa sawit dan pertambangan semakin menambah parah kerusakan alam Indonesia. Ditambah tidak ada aturan jelas terkait eksploitasi alam. Hingga para kapital berbondong-bondong mengeksploitasi alam Indonesia tanpa batas dan menyebabkan banyak kerusakan. Hutan kini telah beralih menjadi lahan meraup untung para kapital sekuler.

Jefri pun menyayangkan kondisi hutan di Kalimantan yang kini beralih menjadi lahan kelapa sawit dan pertambangan. Pembukaan lahan atau perubahan tutupan lahan juga mendorong laju perubahan iklim global. Kalimantan yang dulu bangga dengan hutannya, kini hutan itu telah berubah menjadi perkebunan monokultur sawit dan tambang batu bara,” katanya lagi (www.kompas.com). Belum lagi kasus pencemaran lingkungan akibat pertambangan, perampasan lahan, kekerasan dan kasus pelanggaran HAM lainnya ini akan selalu mengiringi dalam sistem kapitalis sekuler saat ini.

 

Buah Busuk Sistem Kapitalis Sekuler

Bencana alam yang melanda negeri ini  merupakan dampak buruk dari pengelolaan sumber daya alam yang salah. Padahal alam adalah sebagai penyeimbang dari ekosistem makhluk hidup. Jika alam digunakan tanpa ada batasan dan aturan yang jelas maka yang terjadi adalah kerusakan hingga menimbulkan bencana alam. Seakan alam memberikan pertanda bahwa ia kini sudah semakin tua dan membutuhkan perawatan.

Alam membutuhkan perhatian manusia agar ia dapat terus memberikan manfaat bagi kehidupan orang banyak. Namun akibat ulah sekelompok orang yang demi meraup untung semaksimal mungkin maka mereka rela mengorbankan hajat hidup orang banyak. Mereka adalah para kapital yang dengan tega mengeksploitasi alam, mengeruk, mengambil kemudian ia jual dengan harga yang tinggi. Kemudian penguasa memberikan kemudahan dalam perijinan pendirian perusahaan yang ia mengeruk hasil bumi dan alam.

Wajar jika para kapital dengan mudah mengambil kekayaan alam disebabkan penerapan sistem kapitalis sekuler. Sistem yang hanya mementingkan keuntungan materi dengan mengabaikan aturan agama. Menjadikan kapital rakus dan merusak alam. Sistem yang dibuat manusia jelas banyak sekali kelemahan karena manusia merupakan makhluk terbatas dan lemah.

 

Islam Mengatur Pengelolaan Sumber Daya Alam

Allah SWT berfirman dalam Qs. Ar – Rum : 41 sebagai berikut :

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

 

Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).

Ayat tersebut menggambarkan bagaimana Allah sudah memperingatkan bahwa manusia sendirilah yang akan merusak alam. Sifat manusia yang tak pernah puas menjadikan alam semakin rusak. Belum lagi para kapital yang senantiasa mencari cara demi meraup untung banyak walaupun harus melakukan hal yang melanggar syarah.

Islam dalam pengaturan sumber daya alam memiliki cara yang sudah ditentukan syarah. Pertama kepemilikan umum seperti hutan, barang tambang, air, padang rumput dan api tidak boleh dimiliki oleh korporasi,  perorangan ataupun disewakan. Keuntungan dari hasil pengelolaan sumber daya alam tersebut digunakan untuk kesejahteraan rakyat. Kedua negara akan memberikan aturan ketat dan hukuman terhadap para pelaku yang melanggar pengelolaan sumber daya alam seperti pencemaran lingkungan. Ketiga negara tidak akan bekerjasama dengan pihak asing (kafir harbi) untuk mengelola sumber daya alam.

Semua aturan tadi dapat dapat diterapkan jika aturan islam mampu diterapkan secara sempurna dalam bernegara. Khalifah yang akan memimpin negara dengan ketakwaan penuh terhadap Allah SWT.

Waalahualam bisshowab

Tidak ada komentar:

Posting Komentar