Recent Posts

Gugurnya Sang Pahlawan Medis Tertinggi Se-Asia

Jumat, 15 Januari 2021


Oleh : Durrotul Hikmah 
(Aktivis Dakwah Remaja)

Hanyalah padamu tuhan kami mohon perlindungan, dari ancaman bahaya virus yang makin mewabah, berilah inayah untuk menghentikan. Sepenggal lagu yang diciptakan oleh Rhoma Irama yang berjudul virus Corona. Lagu yang pantas untuk menceritakan kondisi hari ini, dimana virus yang bernama Corona itu semakin hari semakin menjadi-jadi, bahkan satu persatu tenaga medis ambruk akibat virus Corona atau kerap disebut dengan Covid-19. Seperti di beritakan di berbagai media bahwa kematiannya berjumlah besar, bahkan menjadi kematian tertinggi se-Asia dan masuk lima besar didunia.


Ketua Tim Mitigasi Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PBIDI) Adib Khumaidi mengatakan, selama periode Maret-Desember 2020 terdapat 504 petugas medis dan kesehatan yang wafat akibat terinfeksi Covid-19. Jumlah ini meliputi 237 dokter dan 15 dokter gigi, 171 perawat, 64 bidan, 7 apoteker, dan 10 tenaga laboratorium medis. Jawa Timur menjadi provinsi dengan jumlah kematian tenaga kesehatan dan medis tertinggi, disusul DKI Jakarta dan Jawa Tengah (kompas.com, Sabtu, 2/1/2021).


Inisiator Pandemic Talks, Firdza Radiany, mengatakan jumlah tenaga kesehatan di Indonesia yang meninggal karena Covid-19 lebih besar dari jumlah kematian warga di 6 negara Asia Tenggara. "Jumlah perawat atau nakes yang meninggal di Indonesia ini jumlahnya jauh lebih besar dari kematian Covid-19 warga Singapura, Thailand, Vietnam, Kamboja, Brunei, Laos," kata Firdza dalam webinar. Firdza mengatakan, data tersebut menunjukkan bahwa penanganan pandemi Covid-19 di Indonesia belum maksimal atau sangat buruk. Bahkan, positivity rate atau tingkat penularan di Indonesia konsisten 14-15 persen selama beberapa bulan. "Padahal standar WHO itu maksimal 5 persen," katanya.(Tempo.co ,Kamis, 3/12/2020).


Sungguh sangat miris, ditambah lagi bergugurannya para pahlawan yang juga ikut berjuang dalam menangani Covid-19, bahkan angka kematiannya sudah mencapai kelima besar, maka dengan gugurnya sang pahlawan medis maka pertahannya pun juga akan semakin lemah.

Sungguh tidak bisa dibayangkan kalau tenaga medis terus saja berguguran, dan pasiennya terus bertambah saja, maka pekerjaan tenaga medis harus lebih ekstra, hingga mengalami kelelahan baik secara fisik maupun emosi. Keadaan inilah yang membuat daya tahan tubuh melemah dan rentan terjangkit Covid-19 dan resikonya dapat menimbulkan gejala yang parah dan dapat menyebabkan kematian.

Kurangnya kesadaran masyarakat dalam menghadapi virus berbahaya, terbukti banyaknya yang tidak taat pada protokol kesehatan. Alhasil tenaga medis pun juga ikut berkorban dengan nyawa mereka sendiri. Negara kemana aja? Sibuk mengurusi bangku kekuasaan, sampai-sampai nakes pada berjatuhan, bayangkan saja kematian nakes tertinggi se Asia.

Sistem Demokrasi sekuler lah yang melahirkan penguasa yang zalim dan tata aturan yang selalu bertolak belakang dengan kenyataan, bahkan nyawa rakyat pun juga jadi taruhannya. Sistem yang hanya berdasarkan materi semata, mereka buta akan kekuasaan dengan melangsungkan pilkada beberapa bulan lalu yang dikerumuni banyak orang, belum lagi kurangnya kesadaran dari mereka untuk mematuhi protokol kesehatan. Akibatnya, tenaga medis pun ikut terkena imbas dari kesalahan mereka sendiri. Namun apalah daya memang itulah demokrasi yang hanya bisanya mencari kekuasaan, akan tetapi lupa bagaimana perjuangan tenaga medis dalam menangani Corona ini.

Dalam Islam nyawa manusia itu sangatlah berharga, khilafah akan selalu berupaya dalam menjaga nyawa manusia, Seperti Khalifah Umar bin Khaththab yang menangis setiap malam karena khawatir akan beratnya hisab atas rakyat yang menjadi tanggung jawabnya. Pada zaman Pertengahan, hampir semua kota besar Khilafah memiliki rumah sakit.  Di Cairo, rumah sakit Qalaqun dapat menampung hingga 8000 pasien.  Rumah sakit ini juga sudah digunakan untuk pendidikan universitas serta untuk riset. 

  Rumah Sakit ini juga tidak hanya untuk yang sakit fisik, namun juga sakit jiwa.  Di Eropa, rumah sakit semacam ini baru didirikan oleh veteran Perang Salib yang menyaksikan kehebatan sistem kesehatan di Timur Tengah. Sebelumnya pasien jiwa hanya diisolir dan paling jauh dicoba diterapi dengan ruqyah.


Meski demikian, negara membangun rumah sakit di hampir semua kota di Daulah Khilafah.  Ini adalah rumah-rumah sakit dalam pengertian modern.  Rumah sakit ini dibuat untuk mempercepat penyembuhan pasien di bawah pengawasan staf yang terlatih serta untuk mencegah penularan kepada masyarakat. Semua rumah sakit di Dunia Islam dilengkapi dengan tes-tes kompetensi bagi setiap dokter dan perawatnya, aturan kemurnian obat, kebersihan dan kesegaran udara, sampai pemisahan pasien penyakit-penyakit tertentu.


Apalagi coba yang bisa digambarkan oleh Islam, begitu sempurnanya Islam mengatur umatnya, apalagi dalam menangani virus Corona yang berbahaya ini. Itulah perbedaan sistem demokrasi dan sistem Islam, dimana sistem demokrasi yang hanya ingin mencari kekuasaan semata tanpa memikirkan nyawa rakyat, tapi berbeda dengan Islam yang sangat sempurna dalam menangani permasalahan rakyat. Jelas karena sesungguhnya Islam itu berasal langsung dari pencipta, bukan buatan manusia semata.


“Siapa saja yang menyadari bahwa setiap bencana (musibah) pasti akan berakhir, ia akan benar-benar sabar saat bencana itu turun.” (Imam al-Mawardi, Adab ad-Dunya’ wa ad-Din,1/370).         
                                                                                                                    
Wallahu alam bis shawab

Tidak ada komentar:

Posting Komentar