Recent Posts

Total Tayangan Halaman

Labels

Pesan Sekarang Juga!

Cara Ngirim Tulisan

Cara mengirim tulisan ke Pena Pejuang : 1. Kirim tulisan, bisa dalam bentuk tulisan wa, bisa juga dalam format docx. 2. Sertakan dengan gamb...

Kemandirian Pangan hanya bisa diwujudkan dengan Syariat Islam

Jumat, 08 Januari 2021


Oleh:Esnaini Sholikhah, S.Pd

Awal tahun baru 2021 kita dihadapkan pada langkanya produk olahan tahu dan tempe. Betapa tidak, makanan kaya protein dengan harga ekonomis ini biasa dikonsumsi oleh mayoritas masyarakat Indonesia. Tiba-tiba sempat menghilang dari pasaran, dan kini menjadi barang langka.

Harga tahu dan tempe yang meroket, disebabkan tingginya harga kedelai impor sebagai bahan bakunya. Para produsen tahu dan tempe sempat mogok kerja, sebagai protes dari kondisi ini.

Imbasnya, karena tingginya harga kedelai impor mengakibatkan keuntungan para produsen tahu dan tempe menurun.

Kelangkaan ketersediaan tahu dan tempe dipasaran, juga berdampak pada penjual gorengan dan pedagang warteg.

*Harga Kedelai Tinggi,Sumber Masalah Produksi?*

Tahu dan tempe merupakan makanan bergizi dan diminati seluruh lapisan masyarakat. Selain rasanya yang gurih dan lezat, harganya juga terjangkau semua kalangan.

 Kandungan gizi yang terkandung didalamnya, juga tidak bisa diremehkan. Tak hanya sumber protein, melainkan juga memiliki kandungan vitamin dan mineral yang sangat penting untuk kesehatan tubuh manusia. Tempe juga memiliki kandungan yang luar biasa, seperti menangkal radikal bebas, probiotik,mengendalikan kolesterol, dan meningkatkan kesehatan tulang.

Jika tahu dan tempe menjadi barang mahal, apalagi yang tersisa untuk masyarakat kecil?

 Sedangkan daging dan ikan juga sudah semakin susah untuk dikonsumsi, karena harganya semakin tak terjangkau oleh mereka. 

*Impor Kedelai, Biang Kenaikan Harga*

Impor bahan pangan bukan masalah baru bagi Indonesia. Setiap kelangkaan pangan yang muncul akibat minimnya ketersediaan bahan dipasaran, pemerintah akan mengambil solusi impor untuk mengatasinya. Lantas apakah tepat mengambil kebijakan ini?

Ketiadaan upaya pemerintah untuk serius melakukan swasembada pangan sebagai jargon saat pemilu menjadikannya sebagai negara yang selalu bergantung pada impor. Seperti problem yang selalu berulang, jika harga kedelai melambung, maka akan berdampak secara langsung pada kemampuan Indonesia mengimpornya, sehingga ketersediaan stok pangan nasional menipis.Sementara potensi negeri yaitu lahan pertanian yang luar biasa diabaikan begitu saja.

Pemerintah tidak menyentuh pemberdayaan potensi pertanian negeri ini,sebagai solusi memenuhi stok pangan nasional.

 Mereka lebih memilih cara instan, yaitu impor untuk memenuhi pasokan pangan.

Fakta tersebut membuktikan, bahwa cengkeraman kapitalisme global begitu kuat dan Indonesia tidak berdaya dengan segala perjanjian WTO yang menjadikannya negara yang selau bergantung pada pangan luar negeri.

Lalu adakah sistem yang mampu membuat Indonesia dan negeri-negeri muslim mandiri pangan?

 Islam pernah memiliki sejarah kegemilangan swasembada pangan.

*Meneladani Konsep Agraria ala Nabi*

Ketahanan Pangan adalah masalah yang sangat vital bagi kekuatan sebuah negara.  Oleh karena itu, negara tidak boleh bergantung pada negara lain.

 Negara seharusnya memberi subsidi besar pada para petani agar mereka memproduksi pangan, dengan biaya bibit maupun pupuk dengan harga yang murah, sehingga para petani sebagai pahlawan yang berjasa dibidang pangan mendapat keuntungan besar yang pada akhirnya berdampak pada naiknya tingkat kesejahteraan para petani sekaligus menjadi peluang lapangan pekerjaan yang menarik generasi muda jika nilai ekonomisnya tinggi, sedangkan saat ini pekerjaan petani nyaris ditinggalkan para pemuda karena tidak bernilai dan dianggap tidak memiliki masa depan yang baik.

Berbicara pangan, pasti tak bisa dilepaskan dari ketersediaan lahan pertanian, alat pertanian dan petani. Petani tanpa lahan pertanian, seperti kusir tanpa delman. Tanpa lahan pertanian yang memadai sebagai lapangan pekerjaannya, petani akan tamat dalam sejarah.

Banyak kita jumpai saat ini lahan-lahan produksi yang dipagari atau diberi tanda milik si Fulan, tapi terbengkalai karena tidak diberdayakan potensinya.

 Sementara disisi lain, banyak petani yang tidak memiliki lahan garapan untuk bercocoktanam.

 Mereka hanya menjadi buruh tani di negeri sendiri, atau terpaksa menjual lahannya karena tingginya biaya produksi yang tidak didukung dengan hasil panen yang sesuai mengakibatkan para petani merugi maupun alasan penggusuran proyek besar negara seperti pembangunan tol dan infrastruktur lainnya.

Nabi SAW mencontohkan bagaimana menciptakan politik pertanian yang berkeadilan. Beliau mengklasifikasikan kepemilikan harta serta menghidupkan tanah mati (tanah yang terbengkalai, tanpa dikelola) untuk dikelola dan dimanfaatkan sebesar-besarnya demi kemaslahatan masyarakat.

*Solusi praktis Islam menciptakan kemandirian pangan:*

1. Hentikan impor, berdayakan ekonomi sektor pertanian.
Sejak menjamurnya sektor industri, pertanian kian tergusur. Banyak lahan yang disulap menjadi kawasan industri dan real estate. Dampaknya, lahan pertanian sebagai lumbung pangan semakin terkikis

2. Galakkan Kebijakan Intensifikasi dan Ekstensifikasi Pertanian
Intensifikasi pertanian dengan meningkatkan produktifitas lahan yang sudah tersedia, dengan penyebarluasan teknologi terbaru, membantu sarana produksi seperti penyediaan bibit unggul , pupuk dan sarana pendukung pertanian lainnya dengan mudah dan murah.
Adapun Ekstensifikasi Pertanian dapat dilakukan dengan: a) membuka lahan baru dan menghidupkan lahan yang mati, b) setiap pemilik lahan pertanian diperintahkan mengelolanya, jika ia kesulitan modal maka negara akan membantunya dengan suntikan modal yang diambil dari baitul mal.

3. Kebijakan Distribusi Pangan yang adil dan merata
Islam melarang penimbunan barang dan permainan harga dipasar. Tujuannya menjaga kestabilan agar barang tidak berpusat pada satu golongan tertentu saja dan stabilitas harga pangan tetap terjaga, karena ketersediaan barang yang cukup dipasaran. 
Kebijakan distribusi pangan dilakukan juga dihitung berdasarkan  kebutuhan pangan perkepala, sehingga akan diketahui secara pasti berapa banyak kebutuhan yang harus dipenuhi negara  untuk setiap kepala keluarga.

 Dengan mengadopsi kebijakan pangan ala Rasul SAW dalam sistem Islam, kemandirian pangan akan segera dapat diwujudkan.

 Sebaliknya, jika kita tetap mengambil ideologi kapitalisme sebagai solusi kemandirian pangan semua hanya pepesan kosong.

Wallahu ‘alam bisshowab

Tidak ada komentar:

Posting Komentar