Recent Posts

Total Tayangan Halaman

Labels

Pesan Sekarang Juga!

Cara Ngirim Tulisan

Cara mengirim tulisan ke Pena Pejuang : 1. Kirim tulisan, bisa dalam bentuk tulisan wa, bisa juga dalam format docx. 2. Sertakan dengan gamb...

Kematian Nakes Tertinggi, Bagaimana Bisa Terjadi?

Selasa, 19 Januari 2021


Oleh Melly Puspita

Wabah pandemi COVID-19 di tanah air tak juga kunjung reda. Jumlah pasien terjangkit COVID-19 makin bertambah setiap harinya. Lebih miris, angka kenaikan kasus positif COVID-19 selaras dengan  tingginya jumlah tenaga kesehatan yang meninggal karena pandemi COVID-19. Padahal jika kondisinya terus seperti ini, bagaimana mungkin rakyat dapat berjuang dan bertahan dari serangan COVID-19 sementara garda terdepan semakin tumbang?


Ketua Tim Mitigasi Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) Adib Khumaidi mengatakan bahwa kematian tenaga medis dan kesehatan di Indonesia tercatat paling tinggi di Asia bahkan masuk ke dalam 5 besar di dunia. Adib pun menuturkan bahwasannya sejak Maret hingga akhir Desember 2020 sebanyak 504 petugas medis dan kesehatan yang meninggal akibat terinfeksi COVID-19. Lebih lanjut ia mengungkapkan sepanjang Desember 2020 kematian nakes dokter naik lima kali lipat dari awal pandemi (nasional.kompas.com, 2/1/2021).


Senada dengan PB IDI, Inisiator Pandemic Talks, Firdza Radiany mengatakan, jumlah tenaga kesehatan indonesia yang meninggal akibat COVID-19 lebih besar dari jumlah kematian warga di 6 negara Asia Tenggara. Menurutnya data tersebut menunjukkan bahwa penanganan pandemi COVID-19 di Indonesia belum maksimal atau sangat buruk. Bahkan, tingkat penularan di Indonesia konsisten 14-15% ,  jauh dari standar maksimal WHO yaitu 5% (kompas.com 3/12/2020).


Lebih lanjut Firdza mengemukakan bahwa kondisi itu terjadi karena pemerintah tidak bisa maksimal mencapai standar  3T, yaitu testing, tracing dan treatment. Ia pun menyororoti pelacakan yang buruk di Indonesia dimana rasio pelacakan kontak positif COVID-19 hanya 1 dibanding 3 orang. Menurutnya pelacakan yang buruk ini mengakibatkan penyebab naiknya angka harian COVID-19. Dan ironisnya, naiknya angka harian kasus positif COVID-19 justru berbanding lurus dengan tingginya angka kematian tenaga kesehatan Indonesia.


Padahal jauh-jauh hari Epidemiolog dari Griffith University Australia, Dicky Budiman menyoroti tingginya kasus kematian tenaga medis dokter di Indonesia. Menurutnya Indonesia mengalami kerugian besar akibat dari tingginya angka kematian tenaga kesehatan (kompas.com, 31/8/2020).


Dicky menuturkan berdasarkan data Bank Dunia, jumlah dokter di Indonesia merupakan jumlah terendah kedua di Asia Tenggara, yaitu sebesar 0,4 dokter per 1.000 penduduk. Itu artinya, Indonesia hanya memiliki 4 dokter yang melayani 10.000 penduduknya. Sehingga, kehilangan 100 dokter sama dengan 250.000 penduduk tidak memiliki dokter. Namun sungguh mengenaskan! dikala kita berperang marathon melawan pandemi, malangnya kita justru kehilangan banyak tenaga medis. Ini merupakan sinyal serius yang menunjukan betapa lemahnya Indonesia dalam program pengendalian pandemi.


Memang, sudah menjadi rahasia umum bagaimana penanganan pandemi COVID-19 sejak awal masuk ke Indonesia. Seperti, Buruknya pelacakan orang yang terpapar, kemudian diterapkannya “New Normal” disaat ruang publik masih sangat berbahaya. Seperti yang terlihat, bahwasanya pilkada tetap diselenggarakan demi mempertahankan kekuasaan meskipun nyawa rakyat menjadi taruhan.


Ya, begini adanya apabila kita hidup pada aturan yang dibuat oleh manusia. Kondisi negeri yang begitu terpuruk mengkonfirmasi bahwasannya pemerintah dari awal tidak serius menangani pandemi hingga pada akhirnya membuat dampak yang jauh lebih buruk. Hal ini tidak lain akibat dari bercokolnya sistem kapitalis-sekuler. Dimana segala urusan dipisahkan dari agama dan menjadikan asas manfaat dalam segala hal, termasuk dalam menangani kesehatan masyarakat.


Sistem kapitalis-sekuler melahirkan pemimpin yang berjiwa perhitungan dalam mengatur negara. Kesehatan yang seharusnya menjadi hak dasar rakyat dan harus dipenuhi oleh negara justru dikomersilkan. Bahkan tak jarang keselamatan rakyat menjadi taruhannya.


Dengan pertimbangan untung rugi pemerintah enggan memfasilitasi tes masal dengan biaya terjangkau bahkan gratis. Sehingga masyarakat menjadi tak terfilter antara mana yang sehat dan yang sakit. Apalagi pada Desember lalu aktivitas masyarakat meningkat. Tentunya hal ini berakibat makin meluasnya virus COVID-19 yang menjangkit masyarakat.  


Maka tidak heran ketika data yang ditunjukan menyebutkan bahwa pada bulan Desember angka kematian Nakes meningkat lima kali lipat sedari awal pandemi akibat dari peningkatan aktivitas dan mobilitas masyarakat. Seperti, diadakannya Pilkada, berlibur dan aktivitas berkumpul bersama orang lain (kompas.com, 2/1/2021). Dengan demikian, tingginya angka kematian nakes menjadi hal yang tidak dapat dihindari.


Miris! Nyawa garda terdepan dalam melawan pandemi tak bernilai. Jika saja dari awal pemerintah sigap dan tegas dalam menanggulangi pandemi COVID-19, tentu penyebaran virus akan terkendali dan jumlah kematian Nakes pun akan bisa ditekan.


Namun nampaknya hal tersebut sulit tercapai jika sistem kapitalis-sekuler masih menggurita dalam negeri. Sistem buatan manusia yang menafikan peran Sang Pencipta dalam membuat aturan meniscayakan menimbang aturan sejalan kepentingan diri dan golongan. Sehingga tidak mungkin tercapai solusi terbaik dan menyeluruh dalam segala hal, termasuk menangani pandemi COVID-19.


Dalam menangani pandemi, Islam mengutamakan menyelamatkan nyawa rakyat dibanding dengan keberlangsungan ekonomi kapitalis yang sarat akan pemodal. Hal ini karena syariat Islam menempatkan negara sebagai penanggung jawab urusan umat, dimana keselamatan rakyat menjadi prioritas negara. Seperti halnya sabda Nabi SAW “Sungguh, hilangnya dunia lebih ringan bagi Allah dibandingkan terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak” (HR. Nasai 398, Tirmidzi 1455).


Dengan demikian jelas bahwa Islam menuntut negara berperan aktif dan berupaya semaksimal mungkin mengatasi pandemi. Negara sepatutnya menunjukkan sikap siaga dan sigap sejak awal pandemi muncul, dan kemudian bersegera melakukan tindakan pencegahan dan pengobatan untuk setiap warga.


Dari sini tentulah nyawa rakyat akan bisa diprioritaskan dan nyawa para tenaga kesehatan pun tidak harus menjadi tumbal. Oleh karenanya peran negara begitu penting dalam menyelamatkan negeri ini dari kelangkaan jumlah tenaga medis, yang sejatinya diperuntukkan bagi kepentingan hajat hidup masyarakat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar