Recent Posts

Total Tayangan Halaman

Labels

Pesan Sekarang Juga!

Cara Ngirim Tulisan

Cara mengirim tulisan ke Pena Pejuang : 1. Kirim tulisan, bisa dalam bentuk tulisan wa, bisa juga dalam format docx. 2. Sertakan dengan gamb...

Kredit Luar Negeri Untuk Perempuan Indonesia, Benarkah Solusi Pemberdayaan Untuknya?

Senin, 25 Januari 2021



Oleh : Ummu Hanif, anggota Lingkar Penulis Ideologis

International Development Finance Corporation (DFC) menggelontorkan jaminan kredit sebesar US$35 juta untuk memobilisasi investasi US$100 juta guna mengurangi sampah plastik di laut Asia Tenggara. Chief Executive Officer DFC, Adam Boehler, mengatakan hal tersebut telah dimulai melalui pemberian jaminan kredit sebesar US$35 juta melalui Ocean Fund, di mana Tridi Oasis, perusahaan asal Jakarta yang bergerak dalam bidang daur ulang botol plastik, menjadi salah satu penerima manfaat.

DFC, kata dia, juga berkomitmen mendorong lebih banyak investasi untuk membangun rantai nilai daur ulang sampah yang sekaligus juga dapat membuka lapangan kerja di Indonesia. Melalui prakarsa ini, DFC bertujuan untuk memobilisasi modal dan memberi insentif kepada sektor swasta untuk mencapai dampak terukur dan berkelanjutan bagi pemberdayaan perempuan secara ekonomi. (www.cnnindonesia.com, 14/01/2021)

Berbicara tentang perempuan, sebagai bagian dari warga negara, dia sebenarnya punya hak untuk diurusi dan dipenuhi keperluannya oleh negara. Sesungguhnya, Indonesia bukan negara miskin yang tidak punya kekayaan alam. Tambang emas di wilayah timur Indonesia, Papua, adalah tambang emas terbesar di dunia. Pada 2019, produksi emas Indonesia mencapai 160 ton. Tambang batu bara, pada 2018 produksinya sebanyak 549 juta ton, menduduki peringkat keempat secara global. Belum lagi dengan cadangan gas di blok Cepu dan Natuna, juga komoditas hasil perkebunannya yang melimpah.

Namun sungguh disayangkan, sejak lahirnya, Indonesia tidak berdaulat dan mandiri secara hakiki. Pembangunan yang didanai utang luar negeri dan dengan Repelitanya yang notabene adalah konsep pembangunan arahan asing, tetap berlanjut hingga kini. Meski demikian, jumlah utang luar negeri yang sudah mencapai angka US$413,4 miliar atau sekitar Rp5.858,29 triliun pada Oktober 2020 lalu, ternyata diakui pemerintah masih berada di ambang batas wajar.

Maka selayaknya kita merasa sangat sedih terhadap nasib negeri kita ini. Sebagai negeri mayoritas penduduk beragama Islam, justru banyak mempraktikkan kebijakan yang bertentangan dengan keyakinan Islam. Akibatnya, banyak terjadi salah pengelolaan dan menghasilkan keburukan. Sebagaimana firman Allah SWT dalam qur’an surat thaha ayat 124 yang artinya :
“Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.

Maka pemberdayaan perempuan melalui program hutang luar negeri, sungguh jauh dari kesejahteraan perempuan itu sendiri. Utang luar negeri memiliki beberapa dampak yang perlu kita waspadai. 

Sudah dipahami, sebelum utang diberikan, negara-negara donor harus mengetahui kapasitas dan kapabilitas sebuah negara yang berutang dengan cara mengirimkan pakar-pakar ekonominya untuk memata-matai rahasia kekuatan/kelemahan ekonomi negara tersebut dengan dalih bantuan konsultan teknis atau konsultan ekonomi. Ini jelas berbahaya karena berarti rahasia kekuatan dan kelemahan ekonomi Indonesia akan terkuak sekaligus dapat dijadikan sebagai dasar penyusunan berbagai persyaratan pemberian pinjaman yang sangat mencekik leher.

Selanjutnya, sudah jamak diketahui pula, bahwa sebelum dana dikucurkan, telah terjadi deal – deal tertentu sebagai syarat terkucurnya dana. Dengan kata lain, tujuannya adalah menjadikan negara-negara penerima bantuan tunduk di bawah dominasi negara pemberi pinjaman, untuk kemudian dijadikan sapi perahan dan alat untuk membela kepentingannya.

Selain itu, hutang luar negeri tidak lepas dari ketentuan adanya bunga. Padahal kita ketahui Bersama, hutang dengan adanya bunga, telah jamak menghantarkan kepada kesengsaraan dan kebangkrutan.

Dan lepas dari banyaknya bahaya hutang luar negeri, ada hal lain yang perlu juga kita waspadai, khususnya bagi kita para perempuan. Kenapa perempuan menjadi bidikan kucuran dana? Bukankah dalam islam justru perempuan hidup selalu dalam tanggungan. Kenapa kucuran dana tidak diberikan kepada kepada keluarga? Adakah agenda lain untuk mengeluarkan para perempuan dari kodrat dan kewajiban utamanya. Sunggung, jika kita mau berpikir lebih jernih, kita akan temukan bahwa hutang luar negeri justru menjauhkan perempuan dari kebahagiaan hakiki.
Wallhu a’lam bi ash showab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar