Recent Posts

Membangun Ketahanan Keluarga Dengan Islam

Minggu, 03 Januari 2021


Oleh: Dede Yulianti 

(Pengurus Kajian Wanita Salehah Bogor)


Apa yang kita bayangkan dalam kehidupan berumahbtangga dan berkeluarga. Kehidupan yang tentram penuh ketenangan, diliputi kasih sayang, saling menjaga dan melindungi. Indah dan menyenangkan. Namun kenyataannya mengapa jauh dari harapan. Bahkan dalam cerita fiksi di sinetron saja, bangunan keluarga harmonis jarang dipertontonkan. Ada apa gerangan?

Kejadian miris dan memilukan, justru menghiasi berita di negeri ini. Fenomena retaknya hubungan suami istri yg mengakibatkan tingginya angka perceraian. Angka perceraian meningkat di masa pandemi. Kasus perceraian yang masuk di pengadilan agama 80% diajukan oleh pihak istri. Peningkatan perceraian ini diprediksi akan terus terjadi di tahun 2021.

Fenomena kekerasan terhadap anak bahkan hingga menghilangkan nyawa. Di Nias ibu bunuh tiga anak karena himpitan ekonomi. Mereka bisa makan hanya tiga hari sekali. Lalu ibu bunuh anak kelas 1 SD karena susah diajari belajar daring. Sungguh mengiris hati. Kebutuhan hidup tidak terpenuhi, himpitan ekonomi, keluarga jauh dari kata sejahtera. Bangunan pondasi keluarga rapuh, keluarga harmonis hanya jadi impian, harapan tinggal harapan.

Seribu satu persoalan keluarga, adakah solusinya?

Padahal Allah Swt yang memberikan kehidupan, telah memastikan dalam al-Qur'an surat ar Rum bahwa kehidupan suami istri adalah untuk menciptakan ketentraman, sakinah, mawadah warahmah. Adakah ayat suci tadi hanya sebatas pemanis di selembar surat undangan pernikahan.

Akar masalah dan gejala persoalan harus bisa dipetakan agar solusinya tepat. Tidak salah memilih obat. Gejala tersebut, di awali dengan landasan berumahtangga sebatas cinta tanpa melibatkan Sang Pencipta. Aturan Allah hanya dipakai saat aqad ijab kabul semata, sementara dalam kehidupan rumahtangga buta aturan syariat.Tidak paham hukum-hukum berkeluarga, hak dan kewajiban dalam rumah tangga. Serta tidak kenal teladan Rasulullah Saw. dalam memperlakukan keluarga. Akhirnya keluarga muslim tak jauh dari cerita sinetron yang menyedihkan. Bahkan lebih tragis. Hingga menyakiti fisik dan psikis orang yang sejatinya harus dilindungi. 

Lebih dari itu ada hal penting yang harusnya disadari oleh kita. Sesungguhnya kondisi ini tak semata-mata akibat kesalahan individu. Namun ada faktor yang jauh lebih dahsyat yang menjadi akar penyebab jauhnya manusia dari nilai-nilai agama. Badai inilah yang sejatinya menerpa setiap manusia saat ini. Lebih berbahaya dari wabah Corona. 

Wabah sekular kapitalisme yang bercokol di dunia saat ini hampir satu abad lamanya. Yang mengharamkan agama turut mengatur kehidupan masyarakat dan negara. Ekonomi dikuasai kapitalis. Emas di Papua yang menghasilkan 240 kg/hari. Bayangkan pendapatan PT Freeport dari emas di Papua lebih besar 2 kali lipat dari APBN Indonesia. Sementara negeri ini harus berhutang dengan bunga triliunan rupiah untuk membiayai negara. Rakyatnya dicekik pajak. Sementara pejabatnya menghamburkan uang hasil pinjaman itu. Dana bansos digelapkan hingga triliunan rupiah.

Apa hubungannya dengan keluarga? Jelas ada. Pengaturan ekonomi negara yang kacau balau, berimbas pada kehidupan keluarga. Beban berat tak sanggup lagi sampai emosi meledak. Makan tiga hari sekali, dengan empat orang anak. Menghilangkan nyawa mereka terasa lebih mudah.

Bayangkan dari 1 SDA emas saja, berapa banyak nyawa manusia terselamatkan. Andai tidak dikuasai asing. Tapi dikembalikan pada pemiliknya, yaitu rakyat Indonesia. Sekali lagi, sistem demokrasi kapitalis lah yang melegalkan perampokan ini terjadi. 

Tenaga kepala keluarga terkuras, habis lapangan pekerjaan diambil tenaga asing. PHK massal di tengah pandemi. Stres kebutuhan hidup tak terpenuhi. Boro-boro berpikir untuk mendidik istri dan anak menjadi muslim yang baik. 


Begitupula istri, menjalankan peran dunia terbalik. Tulang rusuk sekaligus menjadi tulang punggung. Waktu habis mencari sesuap nasi, di rumah pun mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Anak rewel susah diajarkan. Sempurnalah sistem hidup demokrasi kapitalis menciptakan karakter ibu yang emosional dan tertekan. Hubungan persahabatan dalam rumahtangga pun jauh panggang dari api. Tingkat stres yang tinggi membuat pertemuan pasangan hanya menjadi luapan emosi dari beratnya beban kehidupan. 

Ketahanan Keluarga Buah Penerapan Aturan Pencipta

Aturan Illaihi yang maha sempurna, jelas menginginkan manusia bahagia. Bukan sekadar isapan jempol semata. Sebab telah dibuktikan dalam kehidupan Rasulullah Saw hingga masa kekhilafahan. Saat ekonomi, pendidikan, politik, keluarga, sosial seluruhnya diatur syariat, terwujudlah manusia bebas stres. Kekayaan alam haram dikuasai swasta. Hasilnya pada masa Umar bin Abdul Aziz tak ada satu pun orang yang menjadi mustahik, penerima zakat. Sebab standar hidup layak telah tercapai. Bahkan para pemuda didorong untuk menikah. Dipermudah urusannya. 


Masalah keluarga diperhatikan bahkan diurusi oleh Khalifah. Di masa Rasulullah saw. Hindun mengadukan perihal suaminya yang pelit. Padahal suaminya berkecukupan. Maka permasalahan keluarga tersebut pun tak berlarut-larut. Rasulullah saw. memberi solusi boleh mengambil harta suaminya sebatas yang dibutuhkan. 

Di masa kekhilafahan Umar bin Khattab, beliau setiap malam berkeliling dari rumah ke rumah memastikan rakyatnya dalam kondisi aman, kenyang dan bahagia. Pernah suatu ketika beliau mendengar rintihan kegalauan seorang perempuan yang merindukan suaminya. Khalifah pun memutuskan batasan waktu seorang suami pergi berjihad meninggalkan istrinya. Lalu kisah yang sudah masyhur seorang ibu yg memasak batu untuk anak-anaknya. Khalifah sendiri yang memanggul bahan makanan, memasak dan memberikannya pada anak-anak tersebut.

Tidak cukup sampai di sana. Khalifah Umar pun memberi tunjangan bagi setiap bayi  yang telah disapih. Lalu ada anak yang menangis karena disapih sebelum waktunya, si ibu berharap agar diberi tunjangan. Umar akhirnya memberi tunjangan pula pada bayi yang masih disusui. Masya Allah, hanya di masa kekhilafahan Islam ibu digaji saat menyusui. 

Dalam pendidikan juga begitu. Khalifah menjaga akidah, nyawa, kehormatan, keamanan, harta dan seluruh kemaslahatan rakyat. 

Begitulah berlangsung selama masa kekhilafahan. Sebab tugas utama khalifah adalah menerapkan syariat Islam.

Dalam pendidikan, Khalifah bertanggungjawab menanamkan akidah Islam kepada umat. Fasilitas pendidikan diberikan cuma-cuma. Setiap diri dididik untuk memahami tanggung jawabnya. Laki-laki diwajibkan mencari nafkah. Istri dan janda sampai kapan pun tidak diwajibkan mencari nafkah. Alhasil, fitrah ibu terjaga.

Oleh karena itu, solusi mendasar dan menyeluruh membangun ketahanan keluarga adalah dengan pengamalan aqidah hingga syariah Islam. Dengan penegakkan sistem Islam yaitu khilafah Islam. Di samping karena menerapkan syariat Islam telah diwajibkan Allah Swt. 

Saatnya kita kembali pada sl-Qur.'an dan sunah, sebagai petunjuk yang di dalamnya tak ada keraguan. Sementara ancaman-Nya, barangsiapa berpaling dari peringatan Allah akan diberi kehidupan yang sempit dan dikumpulkan di hari akhirat dalam keadaan buta. Di sini lah peran setiap perempuan yang ingin keluar dari benang kusut permasalahan keluarga, untuk berjuang segenap tenaga mengembalikan kekhilafahan. Caranya dengan dakwah membangun kesadaran umat. 

Wallahu'alam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar