Recent Posts

Total Tayangan Halaman

Labels

Pesan Sekarang Juga!

Cara Ngirim Tulisan

Cara mengirim tulisan ke Pena Pejuang : 1. Kirim tulisan, bisa dalam bentuk tulisan wa, bisa juga dalam format docx. 2. Sertakan dengan gamb...

Nasib Nakes Tangani Covid-19, Belum ada Solusi Tuntas

Kamis, 14 Januari 2021
Oleh : Rahmawati (Muslimah Kendari)

Jumlah tenaga medis yang meninggal dunia selama masa pandemi covid-19 kian bertambah. Seperti dikutip dari Kompas.com, melalui ketua Tim Mitigasi Pengurus Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) Adib Khumaidi mengatakan bahwa kematian tenaga medis dan kesehatan di Indonesia tercatat paling tinggi se Asia. Selain itu, Indonesia juga masuk dalam lima besar kematian tenaga medis dan kesehatan di seluruh dunia. 

“Sejak Maret hingga akhir Desember 2020 terdapat total 504 petugas medis dan kesehatan yang wafat akibat terinfeksi covid-19. Dari 504 petugas tersebut terdiri dari 237 dokter dan 15 dokter gigi, 171 perawat, 64 bidan, 7 apoteker, 10 tenaga laboratorium medis,” ujar Adib dikutip dari siaran pers PB IDI, Sabtu (2/1/2021).

Beliau mengungkapkan di Indonesia, Jawa Timur masih menjadi provinsi dengan jumlah kematian tenaga kesehatan dan tenaga medis tertinggi, tercatat ada 46 dokter, 2 dokter gigi, 52 perawat, 1 tenaga laboratorium medis yang wafat. Kemudian disusul DKI Jakarta dimana ada 37 dokter, 5 dokter gigi, 24 perawat, 1 apoteker, 1 tenaga laboratorium medis yang meninggal dunia. Selanjutnya, jawa timur yang mencatat 31 dokter, 24 perawat, 3 tenaga laboratorium medis yang wafat.

Adib merinci, para dokter yang wafat tersebut terdiri dari 131 dokter umum, 101 dokter spesialis serta 5 residen yang seluruhnya berasal dari 25 IDI Wilayah (provinsi) dan 102 IDI Cabang (Kota/Kabupaten). Adapun keseluruhan data dirangkum dari data Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI), Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI), Ikatan Bidan Indonesia (IBI), Persatuan Ahli Teknologi Laboratorium Medik Indonesia (PATELKI) dan Ikatan Apoteker Indonesia (IAI).

Diawal menyebarnya wabah covid-19 ini, sangat meresahkan. Bagaimana tidak, korban terus berjatuhan sementara solusi tepat tidak pernah diterapkan. Sampai saat ini, data yang ada menunjukkan bahwa seolah pemerintah abai dalam menjaga nyawa tenaga kesehatan yang gugur. Alhasil, negara rugi akibat tragedi ini karena pertarungan melawan covid-19 belum usai namun tenaga kesehatan sudah mencapai angka kematian yang cukup tinggi.

Walaupun demikian, pemerintah mengeluarkan kebijakan yang berlawanan dengan keadaan masyarakat seperti membuka tempat pariwisata, mengizinkan masyarakat menggunakan kendaraan umum, serta membuka pasar bahkan mengizinkan dilaksanakannya pilkada. Lebih parahnya, ditengah gentingnya para tenaga medis dalam menangani pasien malah kekurangan perlengkapan seperti Alat Pelindung Diri (APD) dan fasilitas yang memadai.

Sungguh miris, kondisi nakes yang memprihatinkan dan terus berjatuhan menggambarkan kecerobohan penguasa dalam menangani penyebaran virus ini. nyawa nakes seolah tidak berharga karena ketika sistem sekuler yang berperan maka keyakinan atau agama tidak dijadikan sebagai acuan untuk mencari solusi dari permasalahan yang terjadi.  

Boleh dikatakan bahwa sistem yang bercokol di negeri saat ini melahirkan rezim yang zalim, yang menganggap nyawa rakyat tidak lebih penting dari kepentingan yang ingin mereka capai. Sistem ini membentuk pribadi penguasa yang mengutama materi, seperti pemberlakuan new normal yang semua itu tidak lain agar kepentingan ekonomi berjalan sebagaimana biasanya. Bandingkan dengan sistem Islam, tidak ada kepentingan yang diutamakan selain menjaga nyawa rakyat, karena Islam mengganggap bahwasanya nyawa satu orang lebih berharga dibandingkan dengan dunia dan seisinya.

Sejarah peradaban menunjukkan bahwa Islam mampu memberikan layanan yang terbaik sampai pasien sembuh serta menyediakan fasilitas kesehatan dan tenaga medis yang lihai. Sistem pendidikan yang berdiri dalam Daulah akan menghasilkan tenaga medis yang berkualitas dan berlimpah serta pendidikan juga tidak akan diberikan beban bagi tiap individu dalam pembiayaannya bahkan pendidikan gratis dan murah karena dijamin oleh negara. 

Inilah gambaran bagaimana sistem Islam pernah diterapkan, kesehatan rakyat diprioritaskan. Sehingga saat ini yang dibutuhkan adalah penerapan sistem Islam yang dapat menjamin terpenuhinya kebutuhan primer rakyat oleh negara. Wallahu a’lam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar