Recent Posts

Peran Ibu Yang Tergadaikan

Minggu, 10 Januari 2021


Oleh: Khusnawaroh

(Pemerhati Umat)

 


Ibu adalah kaum perempuan dipandang sebagai bagian penting demi tegaknya agama. Maka, tidak ada yang lebih diharapkan selain tampilnya sosok perempuan yang shalehah dan sanggup menjaga kodrat, maupun martabatnya dalam kehidupan sehari-hari.

 

Selain Ayah, sosok ibu juga memiliki  peran yang begitu mulia tiada tara yang senantiasa berjuang untuk kebahagiaan sang buah hati. Lelah sudah pasti menghampiri disetiap waktunya, namun kelembutan, ketegasan dan kasih sayangnya melebur sebagai kekuatan untuk selalu membersamai mutiara hatinya. Ibu energi positifnya selalu terpancar walau terkadang terlihat rapuh. Tak ayal jika setiap saat tak bisa untuk tak mengingatmu dan berusaha menyayangi dan mendoakanmu, tak heran  jika di negeri ini pun menggelar peringatan hari ibu tuk mengenang jasa- jasanya. Seperti berita yang dilansir SURUMBA.com – Pemerintah Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara, menggelar peringatan Hari Ibu ke-92 tahun 2020 di Gedung Wakaka, Pasarwajo, Selasa (Desember 22, 2020).

Bupati Buton, La Bakry, pada awal sambutannya mengucapkan terima selamat Hari Ibu ke 92. Sejak dulu hingga sekarang, perjuangan kaum ibu tidak pernah berhenti dalam keluarga. “Olehnya kita yang masih  punya ibu maupun sudah meninggal hendaknya terus membangun silaturahim. Terus memastikan bahwa ibu kita dalam keadaan bahagia di manapun dia berada,” imbuhnya.

La Bakry mengatakan, peran ibu di masa lalu sangatlah berbeda dengan era digital sekarang. Perkembangan teknologi HP dengan game onlinenya selalu membuat orang tua kesulitan mengendalikan anak. Ini merupakan tantangan yang harus dihadapi.

Olehnya, Ketua DPD II Partai Golkar Buton ini mengimbau kepada kaum ibu untuk selalu mewariskan hal-hal positif kepada anak supaya generasi muda Buton ke depan dapat dikontrol dengan baik.

Tak dapat dipungkiri, peran ibu memang sangat besar yang merupakan anugerah terindah dalam kehidupan. Ibu merupakan gelar mulia yang diberikan oleh Allah Swt. Sebab, betapa banyak para wanita yang sedang dalam  penantian dengan segala usaha dan doa tuk memiliki gelar tersebut, bahkan ada pula  yang tidak diberikan kesempatan oleh Allah Swt. Tuk menjadi seorang Ibu dari anak- anaknya. Ada sebuah impian terbesar bagi  wanita dengan peran mulia yang disandangnya sehingga memang seorang ibu diwajibkan untuk mewariskan hal- hal positif kepada anak. Sebab anak adalah amanah yang dengan kesholehannya mampu menarik kedua orang tuanya ke surga. Pun dapat membawa negeri ini menjadi negeri yang lebih baik dengan generasi generasinya yang cemerlang.

Himbauan yang diberikan untuk para ibu agar membawa efek terbaik buat anak- anaknya memang sangatlah penting, walaupun sesungguhnya tidak hanya sekedar himbauan yang harus diberikan  untuk mendukung dan memotifasi, mengingat peran ibu yang sangat berpengaruh terhadap perkembangannya. tetapi  segala hal yang dapat mempersulit, atau merintangi terlaksananya peran mulia ibu juga harusnya dapat diberantas dengan baik. Apalagi di era modern  saat ini,

Tidak akan ada asap, bila tidak ada api. Begitulah pepatah mengatakan, artinya  segala sesuatu yang terjadi di dunia ini ada sebabnya.

Tak hanya keutamaan  keimanan dan ketakwaan kaum ibu  yang menjadi dasar untuk menjalankan perannya yang sangat mulia, namun peran masyarakat terlebih negara. Negara seharusnya mampu menjadi pelindung untuk menjalankan keagungan peran ibu tersebut agar dapat  menghasilkan generasi- generasi yang cemerlang  dan berakhlak mulia.

Tak dapat dipungkiri yang terjadi kebanyakan wanita yang hidup dizaman kapitalis seperti saat ini, lebih banyak  memilih bekerja diluar rumah dari pada mengurus rumah tangganya dan anak- anaknya dirumah, selain faktor kemiskinan yang melanda Semua ini terjadi karena pada sistem kapitalis seperti saat ini, uang adalah segalanya. Materilah tujuan utama hidupnya.

Bukan cuma ayah yang bekerja di luar rumah, seorang ibu pun berlomba-lomba mencari harta dengan bekerja meninggalkan anak-anaknya di rumah. Mereka merasa cukup menjadi ibu yang baik ketika dapat memenuhi semua kebutuhan anaknya dengan materi.

Sistem kapitalisme pun memelihara kondisi lingkungan materialistik dan konsumtif, hedonis,  salah satunya dengan meluncurkan gempuran serangan propaganda yang mendukung sistem melalui berbagai media, kecantikan perempuan dijadikan aset iklan, model, film, vidio porno dan lain-lain.  Kemolekan tubuh dan kecantikan wajah yang harus senantiasa glowing, serta pakaian. sehingga untuk memenuhi itu semua,  perempuan harus  berproduktif   memilih bekerja di luar rumah seakan  lebih tenang dan bahagia ketimbang harus dirumah mengurus anak dan suami. Selain masalah kemiskinan harusnya masalah seperti ini pun mampu untuk diredam dan tak pantas untuk ditumbuhkan. Sebab tugas ibu yang sesungguhnya bukan sekedar menyediakan materi bagi anak.

Tugas ibu adalah sebagai ummu warobatul bait (ibu pengatur rumah tangga). Dalam sistem kapitalis dengan Asas sekulernya, ibu bukan lagi sebagai pendidik utama dan pertama. Ibu bahkan tidak berperan lagi sebagai fitrahnya, mulai karena tuntutan ekonomi hingga tren gaya hidup yang membuat kaum ibu seolah harus produktif. Bahkan diera digital sekarang , seorang wanita yang hanya tinggal didalam rumah dan tidak menghasilkan uang dianggap tidak produktif dan menjadi omongan  dalam masyarakat, Angka perceraian pun semakin meningkat karena timbulnya konflik, salah satunya penghasilan istri yang lebih besar dibandingkan suaminya. Sebab  standar peran ibu adalah penghasil materi, bukan pendidik generasi.

Alhasil generasi saat ini pun banyak menjadi generasi yang rusak, gandrung bergaul bebas , miras, dan narkoba.  banyak anak-anak yang kurang mendapat perhatian dan kasih sayang orang tua, sehingga akan semakin marak pula kenakalan anak-anak atau remaja.

Ditambah pengaruh- pengaruh lingkungan, tayangan- tayangan yang tidak mendidik melalui film,vidio, game online , semakin lengkaplah pengaruh keburukan bagi anak- anak di negeri ini. Faktor kemiskinan yang semakin merajalela, sumber daya alam yang melimpah ruah harusnya mampu untuk menuntaskan dan dapat dimanfaatkan untuk mensejahterakan kaum ibu, agar peran ibu pun tak tergadaikan hanya untuk mencari materi.

Sayangnya, pemerintah di negeri-negeri muslim, termasuk Indonesia justru terkesan mengabaikan fenomena yang menimpa perempuan di dunia ini. Pemerintah bahkan mendukung kondisi yang mendzalimi perempuan padahal ini juga akan berimbas pada generasi muda dan negeri ini.  yah, inilah yang terjadi ketika kita berada dalam kepemimpinan sistem kapitalis sekuler yang telah nyata menjadikan ibu- ibu lari dari perannya.

 

Jika sistem kapitalis sekuler mencampakkan peran ibu, berbeda halnya dengan sistem Islam yang sangat menjaga dan melindungi peran ibu. Maka sungguh hanya sistem Islam yang mampu membebaskan kaum ibu dari keterpurukan. Betapa tidak kesejahteraan dalam kepemimpinan Islam sangatlah diutamakan termasuk kaum wanita. Bekerja bagi seorang wanita dalam pandangan Islam adalah mubah, sementara dalam sistem kapitalisme seolah menjadi wajib.  Islam menjamin kesejahteraan kaum wanita. Apabila ia tidak memiliki suami, maka wali atau saudara laki-lakinya yang berkewajiban menanggung nafkahnya. Sampai-sampai negara akan menanggungnya jika memang tidak ada seorang pun yang dapat menanggungnya. Artinya, dalam Islam kaum ibu begitu dimuliakan dan ditempatkan sesuai kodratnya.

 

Islam menjamin agar kaum ibu benar-benar dapat menjalankan tugas utama dirumahnya, sebagai wujud ketaatan kepada Rabbnya. Bahkan Islam juga memerintahkan kaum ibu untuk menimba sebanyak-banyaknya tsaqofah Islam sebagai ilmu dalam menjalani rumah tangga yang syakinah mawaddah warohmah serta dalam mendidik anak-anaknya dalam rangka untuk meraih  ridho Allah swt. Itulah kesempurnaan sistem Islam jika Islam dijadikan sebagai peraturan hidup, sangat menjaga, melindungi dan memuliakan manusia sesuai dengan fitrahnya, tak perlu diragukan apalagi ditakuti sebab telah dibuktikan oleh manusia pilihan, termulia, terhebat, Nabi Muhammad Saw.

Wallahua'lam bissawab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar