Recent Posts

Total Tayangan Halaman

Labels

Pesan Sekarang Juga!

Cara Ngirim Tulisan

Cara mengirim tulisan ke Pena Pejuang : 1. Kirim tulisan, bisa dalam bentuk tulisan wa, bisa juga dalam format docx. 2. Sertakan dengan gamb...

Rethinking Pain: Berkah dan Surga yang Didamba

Kamis, 21 Januari 2021


Oleh: Eka Dwi Novitasari


Luka bakar itu meluluhlantakkan raga seorang Letnan Sam Brown hingga ia harus mendapatkan perawatan medis berminggu-minggu di RS. Saat melaksanakan tour tugas pertamanya, kendaraan yang ia gunakan tak sengaja menginjak ranjau hingga membuat kendaraannya meledak. Brown pun menjalani perawatan luka bakar dengan mengonsumsi obat opiate (penghilang rasa sakit) dengan dosis tinggi.


Brown, satu dari ribuan bahkan puluhan ribu penderita luka bakar di Amerika Serikat yang mendatangi UGD bahkan dirawat di rumah sakit untuk menjalani pengobatan dan fisioterapi yang melelahkan. Tidak sedikit dari mereka diberikan opiate. Hingga menimbulkan ketergantungan akibat mengonsumsi secara terus menerus. Bahkan menimbulkan efek samping yang begitu parah. 


Untuk mengurangi penggunaan opiate yang sarat akan efek samping, ada satu cara yang dianggap ampuh. "Power of illution", untuk menghilangkan rasa sakit. Sebuah eksperimen di laboratorium unik di Universitas Washington Medical Center menjawab itu semua. Kotak hitam berisi aliran panas dipasangkan pada kaki subjek. Kemudian subjek akan memberikan respon rasa sakitnya dengan skala 1 sampai 10. Lalu, subjek yang dipapar kotak pemanas tersebut diminta memakai VR goggles (Virtual Reality Distraction). Subjek berinteraksi dengan dunia virtual. Ternyata, hasil yang ditunjukkan subjek luar biasa. Sakit yang dirasakan subjek cenderung menurun dengan VR goggles tersebut. Inilah pengalihan atensi.


Buku Cure, karya Jo Marchant benar-benar membuat saya takjub. Apalagi bagi saya yang sangat awam dunia medis. Menurut Jo, otak hanya memiliki kapasitas terbatas tentang atensi. Kita tidak bisa meningkatkan ataupun mengurangi atensi, tapi kita bisa memilih apa dan dimana atensi berada. 


Jika kita fokus pada rasa sakit maka akan meningkatkan pengalaman kita terhadap rasa sakit. Akan tetapi, jika kita berfikir terhadap yang lain, yakni sesuatu yang nyaman dan menyenangkan, maka rasa sakit tersebut akan memudar atau hilang.


Tentu, jauh sebelum Jo Marchant hadir bahkan berhasil mengulas atensi "rasa sakit" dalam bukunya yang berjudul Cure, Islam sudah khatam mengajarkan itu kepada seluruh dunia. Para pendahulu, orang-orang yang pertama kali memeluk Islam. Jatuh cinta pertama kali mereka pada Islam, mengalahkan sakit dan perihnya siksa dunia.


Bilal bin Rabbah, di bawah terik matahari, di atas gurun yang sangat gersang, di atas dadanya diletakkan batu besar yang melebihi kapasitas besar tubuhnya. Jika dibayangkan, betapa sakitnya itu. Tuannya menyiksanya hanya untuk memalingkan atensi Bilal dari Islam menuju sesembahan Latta dan Uzah. 


Tapi apa respond Bilal? Inilah perwujudan akidah Islam, telah menghujam kuat di dalam dada mereka. Bilal dengan tegas mengatakan "ahad..ahad..ahad". Meski dicambuk berkali-kali (masih dengan posisi batu di atas tubuhnya), ia tak gentar. Kata para ulama, jika saja bukan karena hanya kata "ahad" yang beliau dengarkan dari lisan Rasulullah saw. maka pasti ia sebutkan jua kesemua yang ia dengarkan.


Demikian juga dengan kelurga  Yasir. Ketika Sumayyah (sebelum digelari syahidah pertama itu) meludahi tuannya karena mencela Nabi saw.  hingga ia ditusuk dari mulut tembus sampai (maaf) kemaluan. Bayangkan betapa sakitnya itu. Yasir, pun demikian sekujur tubuhnya kesakitan, ketika diikat tangan kiri dan kanannya dan ditarik secara berlawanan. Hanya sebuah kalimat indah dari Rasulullah saw.; "sabarlah keluarga Yasir, surga menanti kalian", rasa sakit atas penderaan fisik yang mereka alami sirna seketika.


Kini, di belahan bumi sana, kita menyaksikan muslim dan muslimah dibantai, dirusaki aqidahnya, disiksa, dikekang haknya menempuh jalur pendidikan, hijabnya dibuka di depan umum dan dilecehkan. Di sini, kita melihat para ulama dipersekusi bahkan dibunuh, aktivis yang menyuarakan kebenaran dimasukkan dalam bui, giliran ulama suu dielus sayang bagai perlakuan ibu kepada anak kandungnya. 


Lebih lanjut, kita pula menyaksikan harta rakyat dirampas, masuk ke kantung-kantung mafia dan tikus berdasi. Anak kecil, ibu hamil, hingga lansia atau yang hanya ingin mendapatkan obat opiate dibiarkan terlunta-lunta tanpa perhatian.

Bukankah muslim ibarat satu tubuh? Jika satu anggota tubuh merasakan sakit, yang lain pun ikut merasakan. Sakit, perih hati, teriris melihat dan menyaksikan semua itu. Lalu apakah kita hanya diam saja, asyik menonton semuanya? 


Padahal Allah dengan tegas memperingatkan : "Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. " (TQS. At-Tahrim [66]:6).


Tidak cukup melindungi diri kita, Allah menyuruh kita pelihara keluarga kita pula dari panasnya api neraka. Bukankah muslim itu terikat satu ikatan kokoh melebihi ikatan keluarga? Itulah makanya Allah mewajibkan amar ma'ruf nahi munkar.


Maka dari itu, untuk menghentikan semua keperihan dan kesakitan yang menjangkiti negeri pun juga dunia, tiada lain kecuali dengan kembali kepada aturan ilahi. Islam rahmatan lil 'alamin.


Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: "Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan." (TQS. Al-A'raf [7]:96).

Wallahu a'lam bishshawab

1 komentar: