Recent Posts

Total Tayangan Halaman

Labels

Pesan Sekarang Juga!

Cara Ngirim Tulisan

Cara mengirim tulisan ke Pena Pejuang : 1. Kirim tulisan, bisa dalam bentuk tulisan wa, bisa juga dalam format docx. 2. Sertakan dengan gamb...

Rusuh Capitol Hill, Buruknya Wajah Demokrasi

Selasa, 12 Januari 2021



Oleh : Eri*


Dalam kesempatan pidatonya, Donald Trump menyatakan tak terima kekalahan dan merasa dicurangi atas hasil pemilu 3 November lalu, serta tidak percaya lagi terhadap legitimasi pemilu. Ini yang mendorong para pendukungnya berkumpul di Capitol Hill untuk menghambat jalannya sidang. Masa menolak penetapan Joe Biden sebagai Presiden Amerika Serikat (AS) dan berlangsusng ricuh.

'Unjuk rasa yang diadakan pendukung Presiden Donald Trump berujung ricuh. Massa mulai menyerbu gedung parlemen Amerika Serikat (AS), Capitol Hill, saat para anggota parlemen itu bersidang untuk menetapkan Joe Biden sebagai presiden AS berikutnya, Rabu (6/1/2021) sore waktu setempat'. (cnbcindonesia.com 7/1/21)

Bentrokan pun terjadi, masa memaksa untuk masuk ke dalam gedung Capitol Hill. Kericuhan yang sempet terjadi antara aparat keamanan memakan korban jiwa. 'Dikutip Forbes, otoritas Washington DC mengatakan bahwa tiga orang tewas di sekitar halaman Capitol karena keadaan darurat medis. Sementara seorang wanita, yang diidentifikasi sebagai wanita asal San Diego, Ashli Babbitt, ditembak di dalam Gedung Capitol setelah massa pro-Trump bentrok dengan kepolisian dan memaksa anggota parlemen untuk dievakuasi'. (cnbcindonesia.com 7/1/21)

Kerusuhan di Capitol telah menjadi sorotan dunia. Sejumlah pemimpin dunia mengencam aksi tersebut. Lewat akun media sosial, mereka menggambarkan kerusuhan itu sebagai peristiwa memalukan, menyedihkan bahkan mencoreng nilai demokrasi itu sendiri. Mereka menganggap, Presiden Amerika Serikat Donald Trump bertanggung jawab atas kerusuhan yang terjadi. 'Perdana Menteri Norwegia Erna Solberg menilai apa yang terjadi adalah serangan yang tidak dapat diterima oleh demokrasi di Amerika Serikat. "Presiden Trump bertanggung jawab untuk menghentikan ini. Gambar yang menakutkan, dan luar biasa bahwa ini adalah Amerika Serikat," cuitnya'. (tempo.co.id 7/1/21)

Perseteruan antara Trump dan Biden membuka tabir bobroknya sistem demokrasi. Upaya Trump dalam menolak kekalahannya dengan menggiring opini bahwa pemilu mengalami kecurangan, penipuan dan bermasalah. Pernyataan yang dilontarkan Trump bukan untuk membangun keseimbangan demokrasi Amerika, melainkan upaya  untuk delegitimasi pemilu. Ketidakpercayaan terhadap hasil pemilu terus dikembangkan sebagai strategi politik.  

Tudingan kecurangan pasca pemilu menjadi lagu lama setiap pesta demokrasi. Permasalahan tersebut bisa memicu konflik di tengah masyarakat yang berujung perpecahan. Pemilu yang curang dan banyak menelan korban, tanda demokrasi telah mati. Sistem cacat ini hanya akan melahirkan para pemimpin zalim. Pemimpin yang mengeluarkan kebijakan yang menyengsarakan rakyat dan selalu berpihak kepada korporasi. 

Terbukti, selama tahun 2020 para pemimpin dunia memaksa rakyatnya beradaptasi dengan 'new normal' di tengah-tengah pandemi yang kian menginfeksi jutaan orang. Kebijakan itu diberlakukan hanya untuk menyelamatkan kantong para korporasi. Selain itu, menciptakan Islamphobia untuk menghancurkan umat Muslim. Bahkan Barat memaksa negeri-negeri Muslim berdamai dengan Israel.

Pilpres AS salah satu bukti kegagalan demokrasi yang tidak membawa harapan nyata dan perubahan hakiki. Sayangnya, sistem cacat ini masih dipertahankan para pendukungnya. Membuai rakyat dengan menampilkan figur pemimpin yang sesuai harapan rakyat. Seorang Biden pun tidak akan mampu memperbaiki tatanan dunia yang telah rusak. 

Sudah saatnya umat menyegerakan ajal demokrasi yang telah sekarat. Mengganti dengan sistem pemerintahan yang sahih. Sistem pemerintahan yang mampu menyelesaikan problematika umat. Sistem yang menerapkan Islam secara kaffah sebagai aturan hidup, yakni Khilafah. 

Khilafah adalah sistem yang mempersatukan umat Muslim maupun non Muslim. Pada saat itu, kesejahteraan dan persatuan bukan lagi khayalan. Hukum-hukum Allah yang diberlakukan, sudah pasti membawa keberkahan hidup dan mengantarakan pula pada keadilan hakiki. Niscaya, hanya kebaikan yang akan memenuhi hidup umat seluruhnya.

Tak perlu lagi umat membuang waktu untuk tambal sulam sistem rusak demokrasi. Apalagi untuk mempertahankan sistem yang jelas membawa bencana bagi umat manusia. Hanya Khilafah, sistem hakiki yang bisa mewujudkan kedamaian, di negara Kapitalis Amerika sekalipun. 

Waallahu a'lam bisa shawwab.


*(Pemerhati Masyarakat)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar