Recent Posts

Total Tayangan Halaman

Labels

Pesan Sekarang Juga!

Cara Ngirim Tulisan

Cara mengirim tulisan ke Pena Pejuang : 1. Kirim tulisan, bisa dalam bentuk tulisan wa, bisa juga dalam format docx. 2. Sertakan dengan gamb...

Sistem Gagap, Cetak Generasi Tak Beradab

Jumat, 22 Januari 2021




Oleh: Nur Faktul



"Air susu dibalas air tuba", mungkin peribahasa ini tepat sekali untuk menggambarkan kondisi pemuda saat ini. Dimana adab kepada orangtua seringkali diabaikan, bahkan disepelekan. Tak jarang pula seorang anak tega melaporkan ibunya untuk perkara sepele, sebagaimana yang sedang viral di media sosial baru-
baru ini. Seorang anak melaporkan ibu kandungnya ke polisi di kabupaten Demak, Jawa Tengah. "Ditahan sejak kemarin di Polsek Demak kota", ujar kuasa hukum terlapor, Haryanto saat dihubungi Detik.com sabtu (9/1/2021). Haryanto menjelaskan bahwa sang anak merasa dianiaya ibunya ketika mengambil baju, namun baju tersebut telah dibuang ibunya. Karena emosi sang anak pun mendorong ibunya hingga jatuh, saat akan berdiri tak sengaja kuku jari si ibu melukai pelipis sang anak. Dari sinilah sang anak merasa jadi korban penganiayaan.

Tak cukup sampai di situ, di NTB seorang anak juga melakukan hal yang sama. Dengan tega melaporkan ibu kandungnya hanya karena harta warisan. Namun dari sebuah video yang sempat viral di Facebook dan YouTube, laporan ini ditolak oleh Kasat Reskrim Polres Lombok Tengah. AKP Priyo Suhartono menolak laporan sang anak yang ingin memenjarakan ibu kandungnya. Beliau menyarankan supaya masalah ini diselesaikan secara kekeluargaan. Di lansir dari Tribunnews.com Senin 29/6/2020. Astaghfirullah, sungguh miris melihat potret seorang anak di sistem saat ini. Rasa belas kasih kepada ibunya seolah tergadai oleh materi. Retaknya hubungan di dalam keluarga seringkali menjadi alasan timbulnya KDRT, yang akhirnya membuat anak berani kepada orangtua ataupun sebaliknya orangtua yang lalai dalam mendidik anaknya. Pun demikian, sulitnya ekonomi yang terjadi di masa pandemi turut andil menjadi penyebabnya. Kurangnya pemahaman tentang islam kaffah, membuat banyak keluarga muslim saat ini mudah goyah dan rentan mengalami keretakan ketika ditimpa ujian. Sehingga wajar, jika mendapati problem keluarga, solusi yang diambil adalah percekcokan bahkan sampai perceraian.

Sungguh masalah yang terjadi di dalam keluarga muslim saat ini, tak lepas dari sistem yang diterapkan oleh penguasa hari ini. Sistem sekuler kapitalis yang menjauhkan agama dari kehidupan, menjadikan umat islam saat ini tak lagi mengenal aturan islam yang berasal dari Allah dzat pencipta manusia. Gaya hidup hedonisme yang diajarkan melalui media media, menjadi corong bagi umat Islam saat ini. Sehingga kehidupan kita pun hanya tersibukkan untuk mengumpulkan pundi-pundi uang demi membeli sebuah kebahagiaan sebagaimana yang telah diajarkan. Jangan tanyakan adab apalagi halal dan haram, semua rela dilakukan demi materi yang diinginkan. Ditambah sulitnya memenuhi kebutuhan primer sandang, pangan, papan, pendidikan dan kesehatan, semakin memperparah beban mental dan kondisi umat Islam saat ini. Siapa lagi yang menjadi korbannya jika bukan pemuda muslim? Sebab sistem inilah yang memaksa dan menjadikan pemuda muslim kehilangan arah tujuan hidupnya. Pemuda sebagai generasi penerus bangsa, terbombardir dari segala arah oleh gaya hidup bebas yang menuhankan kesenangan duniawi semata. Lalu siapa yang mampu menghentikan, jika bukan penguasa dengan segala kebijakannya??


Di dalam sebuah peradaban, sumber daya manusia sangat menentukan. Negara yang mampu membangun manusia unggul, maka ia sedang menyiapkan masa depan cerah bagi peradaban. Di dalam Islam Allah telah menetapkan seperangkat aturan untuk manusia, agar dalam kehidupan tidak menimbulkan kerusakan. Islam mewajibkan negara untuk memenuhi kebutuhan primer rakyatnya orang per orang, bukan sekedar tebang pilih yang tidak mampu. Menyediakan lapangan pekerjaan untuk para pencari nafkah dan mendorong para ibu menjalankan tugasnya sebagai pengatur rumahtangga. Memudahkan bahkan menggratiskan biaya pendidikan bagi seluruh rakyat, sehingga mendorong para orangtua dan anak semangat dalam menuntut ilmu.

Negara juga harus mengatur media sosial agar apa yang ditampilkan di dalamnya mendukung kebijakan negara, serta memberikan sanksi secara tegas jika ada yang melanggarnya. Semua tayangan yang bertentangan dengan islam seperti memicu timbulnya zina, kekerasan, rusaknya moral, kebebasan bertingkah laku dan yang semacamnya, akan diberangus dari akar akarnya dengan aturan islam. Dengan demikian para pemuda tidak akan mengkonsumsi pemahaman yang akan merusak fitrahnya sebagai manusia. Para pemuda justru akan terdorong untuk belajar islam kaffah dan mengamalkan di dalam kehidupannya. Orangtua pun tidak akan terbebani dengan mahalnya biaya pendidikan dan juga akan tenang dengan kurikulum yang diajarkan.

Di dalam sistem Islam keluarga akan menjalankan fungsinya, menjadi tempat pulang yang nyaman bagi anggota keluarga. Dan hubungan diantara mereka pun berlandaskan keridhoan Allah bukan sekedar materi untung rugi seperti di sistem kapitalis saat ini. Dengan sistem Islam yang diterapkan oleh negara, maka akan terbentuklah keluarga yang melahirkan generasi cerdas nan cemerlang yang berkepribadian Islam. Yang siap menjadi penerus peradaban masa depan. Bukankah sekarang sudah saatnya, Islam tampil sebagai peradaban unggul di pentas dunia menggantikan sistem demokrasi saat ini? Tentu hal ini dimulai dari generasi mudanya. Pemuda, jadilah promotor kebaikan Islam, pelopor perubahan dan pionir kebangkitan. Indonesia akan berkah dengan sistem Islam yaitu Khilafah. Wallahu a'lam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar