Recent Posts

Toleransi Ajaran Islam Bukan Soal Pencitraan

Rabu, 13 Januari 2021

 

Oleh: Ina Siti Julaeha S.Pd.I

Pengajar dan aktivis Muslimah

 

Presiden Joko Widodo memutuskan pergantian Menteri Agama pada kocok ulang atau reshuffle kabinet kali ini. Penunjukan Yaqut Cholil Qoumas untuk menggantikan Fachrul Razi mengisi jabatan Menteri Agama tersebut diumumkan pada Selasa (Jakarta, CNN Indonesia 22/12).

 

Namun sayangnya belum genap sebulan dilantik, persoalan agama sudah mulai terjadi. Menag Yaqut mengatakan soal agama adalah inspirasi bukan aspirasi, lalu melegalkan aktivitas agama kaum Syiah dan Ahmadiyah, juga mengucapkan selamat hari natal dan bicara soal Yesus. Baik  sebelum maupun sesudah diangkat  menjadi Menag, pernyataan Yaqut Cholil Qoumas sering kali mengundang perhatian khalayak. Sebab membuat kontroversi di tengah umat Islam. Hingga mendapat kritik tajam dari seorang publik figur mantan anggota Komnas HAM Natalius Pigai.

Sebagaimana yang dilansir Suara.com - Eks anggota Komnas HAM, Natalius Pigai mengkritik ucapan natal yang disampaikan oleh Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas atau Gus Yaqut. Natalius mengklaim tak membutuhkan ucapan natal dari Gus Yaqut.


Kritik tersebut disampaikan oleh Natalius melalui akun Twitter miliknya @nataliuspigai2. Dalam cuitannya, ia mengunggah foto tangkapan layar sebuah artikel yang mewartakan Gus Yaqut memberikan ucapan natal."Saya tegas! Tidak butuh ucapan natal, baik 'tidak tulus' juga 'berlebihan' dari luar Kristiani," kata Natalius seperti dikutip Suara.com, Minggu (27/12/2020).

Natalius meminta agar Gus Yaqut menjalankan agamanya sendiri dengan benar, tak perlu memberikan ucapan selamat natal kepada umat Kristiani."Jalankan saja agamamu dengan benar," ungkapnya. Itulah pernyataan menohok dari mantan anggota HAM Natalius Pigai menyikapi pernyataan Menag RI. (suara.com 27/12/20)

Pernyataan yang seharusnya menjadi perenungan mendalam bagi siapa saja yang membaca cuitan beliau. Benar apa yang disampaikan mantan anggota HAM tersebut. Seseorang kerap melakukan sebuah pencitraan  agar menuai pujian orang, meskipun hal itu justru terkesan berlebihan/lebay. Padahal sejatinya setiap orang pasti membutuhkan sikap teguh dalam menjunjung sebuah idealisme. Bukan keyakinan mencla mencle kemana saja  arahnya. Apalagi soal keyakinan yang menjadi hal yang paling berharga dan penting pada setiap manusia.

Sistem demokrasi begitu melegalkan kebebasan beragama. Dengan pandangan yang semu dan keliru mengagnggap semua agama benar. Tidak perduli hal tersebut bisa menyesatkan dan membawa dampak buruk bagi umat Islam. Racun demokrasi begitu mendewakan kebebasan beragama. Asas sekulerisme menjadi landasan bahwa kehidupan dunia tidak terkait dengan persoalan agama menjadi racun yang sangat mematikan di tubuh kaum muslimin. Padahal dengan alasan apapun, dalam hal berakidah umat Islam harus mengikuti prinsip teguh yang dicontohkan Rasulullah SAW. Prinsip yang kuat dalam mempertahankan keyakinan Islam, dengan tetap toleransi dengan non muslim.

Padahal memang sepatutnya, untuk mendapatkan kebaikan hidup, muslim harus menjalankan ajaran agamanya dengan baik. Sebab hal ini menjadi perhatian dan mendorong orang kafir sehingga mereka berbondong-bondong masuk Islam. Sejarah khilafah pun telah membuktikan bahwa dengan penerapan syariat Islam secara kaffah, masyarakat yang hidup di dalamnya memperoleh banyak keadilan. Bahkan kecondongan orang kafir untuk memeluk Islam pun sangat kuat. Sebab mereka melihat, merasakan dan menyaksikan secara nyata bentuk penerapan Islam yang membawa rahmat dan keadilan juga kebaikan untuk semua makhluk.

Selain itu ajaran Islam telah mengajarkan untuk bertoleransi. Toleransi bukan soal bermanis  muka dan terlibat aktif atau bahkan membenarkan syirik dengan alasan menghargai kaum minoritas. Sebab istilah toleransi sendiri yakni tasamuh artinya membiarkan orang  kafir beribadah sesuai kepercayaan mereka. Tanpa mengganggu, apalagi ikut serta. Telah jelas syariat Islam mengatur persoalan toleransi yang benar.

Dalam surat alkafirun Allah berfirman : Bagimu Agamamu dan Bagiku Agamaku  (Q. S al-Kafirun ayat 6). Jika melihat kepada asbabunuzul dari turunnya ayat, maka kita dapati bahwa Rasulullah SAW pernah diminta untuk beribadah secara bergantian dengan Tuhan orang kafir selama setahun. Namun Allah SWT menurunkan surat ini kepada Rasulullah sebagai sikap dan prinsip kuat sebagai seorang muslim yakni tetap berpegang teguh pada kebenaran Islam. Tidak sedikit pun bernegosiasi dalam hal akidah.

Dalam sejarah Islam, mulai dari kepemimpinan Rasulullah SAW hingga para khilafah yang melanjutkan kepemimpinannya, toleransi beragama selalu dijaga dengan baik. Di masa Rasulullah aturan interaksi antara muslim dan non muslim tertuang secara adil sebagaimana tercantum dalam piagam Madinah. Piagam Madinah mengatur interaksi umat Islam dan di luar Islam tanpa kezaliman, juga tanpa harus mengotori syariat Islam dengan pluralisme. Bertoleransi adalah sebuah keharusan. Sebab syariat Islam tidak memaksakan beragama kepada siapa pun. Jadi persoalan menghargai hak ibadah untuk orang di luar Islam sudah menjadi hal yang dianjurkan. Tanpa harus menghinakan syariat Islam itu sendiri. Apalagi dengan misi pencitraan yang menyesatkan umat. Toleransi beragama tetap dijaga dengan baik oleh para khalifah selama 13 abad memimpin hingga 2/3 dunia. Khilafah Islamiyah dengan menerapkan aturan Islam, telah mampu menjadi peradaban yang menebar kebaikan di seluruh dunia dengan tetap bersikap adil kepada warga non muslim.

Menarik apa yang dikatakan oleh Karen Armstrong: There was no tradition of religious persecution in the Islamic empire (Tidak ada tradisi persekusi agama dalam imperium [Khilafah] Islam).” (Karen Armstrong, Holy War: The Crusades and Their Impact on Today’s World, McMillan London Limited, 1991, hlm. 44).

Seorang orientalis Inggris, T.W. Arnold, pernah menuliskan tentang kebijakan Khilafah Ustmaniyah terhadap warganya yang non-Muslim. Arnold menyatakan, “The treatment of their Christian subjects by the Ottoman emperors—at least for two centuries after their conquest of Greece—exhibits a toleration such as was at that time quite unknown in the rest of Europe (Perlakuan terhadap warga Kristen oleh pemerintahan Khilafah Turki Utsmani—selama kurang lebih dua abad setelah penaklukan Yunani—telah memberikan contoh toleransi keyakinan yang sebelumnya tidak dikenal di daratan Eropa).”

Ia pun mencatat bahwa keadilan Khilafah Islamiyah membuat warga Kristen penduduk Syam lebih memilih hidup di bawah kekuasaan Khilafah dibandingkan dipimpin oleh Kaisar Romawi. Padahal Kaisar Romawi beragama Kristen (Arnold, The Preaching of Islam: A History of the Propagation of the Muslim Faith, hlm. 134).

Khilafah Islamiyah di bawah  kepemimpinan sang khalifah mengajarkan bahwa Islam menghormati dan menghargai perbedaan keyakinan. Oleh karena itu, umat Islam Tidak bisa berbicara toleransi dengan sudut pandang sekuler. Melainkan merujuk kepada sumber ajaran Islam yakni Al-Quran dan Hadis. Bukan dengan standar ganda demokrasi yang rusak, dan asas pluraslisme agama yang membawa umat pada jurang kesesatan dan kesyirikan. Naudzbubillah.

Wallahu a’lam BIshawwab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar