Recent Posts

Total Tayangan Halaman

Labels

Pesan Sekarang Juga!

Cara Ngirim Tulisan

Cara mengirim tulisan ke Pena Pejuang : 1. Kirim tulisan, bisa dalam bentuk tulisan wa, bisa juga dalam format docx. 2. Sertakan dengan gamb...

Bukan Bencana Biasa

Senin, 22 Februari 2021



Oleh : Rany ( Enterpreneur )


Berbagai bencana yang terjadi di Indonesia belakangan ini ternyata tidak hanya karena faktor cuaca dengan curah hujan yang tinggi. Namun faktor ekologi juga turut menjadi penyebabnya. 

Berdasarkan data Global Footprint Network tahun 2020, Indonesia mengalami defisit ekologi sebanyak 42%. Angka ini menunjukkan, konsumsi terhadap sumberdaya lebih tinggi daripada yang saat ini tersedia dan akan menyebabkan daya dukung alam terus berkurang.

“Kebijakan pembangunan ekonomi di Indonesia masih belum memperhatikan modal alam secara serius," sebut guru besar IPB University dari Departemen Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM), Prof Dr Akhmad Fauzi, dilansir dari laman IPB University.

Akhmad menyampaikan, saat ini indeks modal alam Indonesia masih rendah yaitu di urutan 86. Padahal negara tropis umumnya ada di peringkat 10 besar urutan index modal alam.
Terdapat kerusakan yang cukup masif pada alam di Indonesia. Kerusakan alam ini misalnya disebabkan oleh alih fungsi lahan. Laju pencemaran lingkungan khususnya air juga tinggi. Selain itu keberagaman alam juga sudah semakin berkurang. Hal ini membuat perekonomian nasional kita melemah.

"Mengabaikan modal alam berakibat memperbesar angka ketimpangan ekonomi,” beber Akhmad.

Hal itu juga yang ditekankan olehnya dalam diskusi yang diselenggarakan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Jawa Barat, Jumat (5/2). Akhmad menegaskan, bahwa pembangunan ekonomi tidak bisa dilepaskan dari kelestarian lingkungan. Selain itu, kearifan lokal yang ada di masyarakat juga harus diperhatikan dengan baik.

“Biasanya pembangunan yang menyertakan kearifan lokal masyarakat akan selaras dengan kelestarian lingkungan. Sehingga penting bagi Indonesia untuk melakukan upaya dalam memperbaiki paradigma pembangunan ke arah yang lebih berkelanjutan," seru Akhmad. (m.mediaindonesia.com)

Dari pemaparan beliau, tidak salah jika hal tersebut terjadi karena eksplorasi sumber daya alam secara besar-besaran. Dalam sistem kapitalis saat ini, tentu hal tersebut merupakan hal yang biasa saja terjadi. Bahkan tidak mungkin akan semakin besar persen kerusakan ekologi jika hal ini diabaikan begitu saja. 

Berbanding terbalik dengan Islam. Sebagai ideologi, Islam jelas membuat aturan terperinci untuk mengelola sumber daya alam dengan memanfaatkannya tanpa harus merusaknya. Bahkan tidak segan-segan aturan Islam akan memberikan sanksi bagi siapapun yang sudah merusak alam. 

Kalau sudah seperti ini, akankah kita akan terus mempertahankan sistem yang sudah sakit sejak awal lahirnya ini?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar