Recent Posts

Total Tayangan Halaman

Labels

Pesan Sekarang Juga!

Cara Ngirim Tulisan

Cara mengirim tulisan ke Pena Pejuang : 1. Kirim tulisan, bisa dalam bentuk tulisan wa, bisa juga dalam format docx. 2. Sertakan dengan gamb...

Derita Kaum Muslim tanpa Khilafah

Sabtu, 27 Februari 2021


Oleh: Widdiya Permata Sari*


Rajab 1442 Hijriah menyimpan sejarah penting tentang cerita kelam bagi kaum Muslimin di dunia. Tepatnya, sudah seratus tahun kita hidup tanpa khilafah yang menegakan syariat Islam di negeri ini.

Awal mula khilafah tegak yaitu pada tahun 622 Masehi Rasulullah dan para sahabat hijrah ke Yatsrib untuk membebaskan kaum muslimin dari siksaan dan hinaan kafir Mekah, kemenangan demi kemenangan mulai tergapai satu demi satu sehingga menjadikan umat muslim yang berkelas dan terbebas dari tindasan musuh-musuh muslim dan tidak lagi menjadi rakyat jelata yang hidup di bawah kekuasan dzalim kafir Quraisy.

Kemudian mulailah hukum-hukum Islam diterapkan diberbagai penjuru dunia dan menjadikan setiap negara menjadi negara yang diridhai Allah SWT. Dan akhirnya estapet kekuasaan Rasulullah di berikan pertama kepada khulafa Ar-Rasyidin dilanjutkan oleh khilafah Bani Umayyah diteruskan khilafah Bani Abbasiyah hingga akhirnya sepertiga bumi ini berada dalam genggaman kaum muslim.

Namun setelah peristiwa Isra Mikraj, pada 27 Rajab umat Islam diliputi pilu mendalam karena perisainya telah dihancurkan, yaitu Khilafah Islamiah, tepatnya pada 27 Rajab 1342 H atau 3 Maret 1924 M
Khilafah yang berpusat di Turki Utsmani dihapuskan Mustafa Kemal Ataturk laknatullah ‘alaih. “Sah”-lah, aturan Allah Swt. tak lagi menjadi landasan dalam mengatur umat manusia.

Mustafa Kemal Attaturk bertindak radikal guna menghancurkan perdaban Islam. Mustafa, sebagai Presiden Republik Turki yang sekuler, bertindak diktator dalam menjalankan pemerintahan. Ia menetapkan ideologi Negara menganut paham sekularisme. Atas dasar ideologi Negara ini, dia mengumumkan akan mengambil langkah-langkah kebijaksanaan untuk mencapai cita-citanya demi kepentingan Negara Turki Sekuler.

Di antaranya ia mengambil langkah, menghapus syariah Islam dan tidak ada lagi jabatan kekhalifahan, mengganti hukum-hukum Islam dengan hukum-hukum Italia, Jerman, dan Swiss, menutup beberapa masjid dan madrasah, mengganti agama Negara dengan sekularisme, mengubah azan ke dalam bahasa Turki, melarang pendidikan agama di sekolah umum, melarang kerudung bagi kaum wanita dan pendidikan terpisah, mengganti naskah-naskah bahasa Arab dengan bahasa Roma, pengenalan pada kode hukum Barat, pakaian, kalender, serta Alfabet, mengganti seluruh huruf Arab dengan huruf Latin.

Kaum muslim kembali hidup sebagai rakyat jelata yang dibawah kekuasaan kafir dzalim dan musyrik bahkan mereka disiksa habis-habisan tanpa ampun oleh kaum kafir contohnya saja Rohingya, Uighur, India dan Palestina, ribuan kaum muslim dibantai semua tanpa ampun oleh kaum kafir Quraisy.

Namun setelah kaum muslim melihat kekejaman yang dilakukan terhadap saudara muslimnya mereka mulai menyadari kedzaliman negri ini, bahkan setelah Taqiyyuddin An Nabhani mulai menyadarkan semua kaum muslim dan mulai mengajak untuk menegakan khilafah agar menyelamatkan kaum muslim yang terjajah, perlahan umat dari seluruh penjuru negeri muslim mulai menyambutnya termasuk kaum muslim di negeri Indonesia dan mulai lah terdengar orang-orang muslim untuk menegakan kembali khilafah.

Karena sejatinya kaum muslimalah yang harus menegakan kembali khilafah dan menerapkan syariat Islam secara kaffah agar tidak adalagi kaum muslim yang terjajah oleh kaum kafir Quraisy.

15 KERUGIAN AKIBAT TIADA KHILAFAH

Pertama, Keridhaan Allah SWT. Keridhaan Allah SWT dapat dicapai dengan mengikuti seluruh hukum dan aturan-Nya dengan penuh ketaatan sebagaimana dipraktikan oleh nabi kita Muhammad saw.

Kedua, Hilangnya Imam atau Khalifah atau Amirul Mukminin,  banyak yang hilang ketika kaum muslim kehilangan legitimasi kepemimpinan ini dan kehilangan lainnya menyusul seperti bola salju.

Ketiga, Hilangnya rasa aman dan jaminan keamanan yang menyebabkan ketakutan.

Keempat, Hilangnya ilmu pengetahuan, pendidikan dan kepedulian yang lahir dari kepibadian Islam. Hal ini disebabkan oleh begitu dominannya kebodohan dan buta hurup yang diakibatkan oleh kemiskinan dan kepribadian yang goyah.

Kelima, Hilangnya kekuatan dan Jihad yang disebabkan kelemahan dan kekalahan.

Keenam, Hilangnya kekayaan yang disebabkan kemiskinan.

Ketujuh, Hilangnya pencerahan dan pedoman yang benar yang disebabkan kegelapan dan pedoman yang salah.

Kedelapan, Hilangnya kehormatan dan martabat yang disebabkan penghinaan.

Kesembilan, Hilangnya kedaulatan dan ketergantungan dalam membuat keputusan politik akibat ketundukan kepada negara-negara penjajah kafir barat dan timur.

Kesepuluh, Hilangnya keadilan yang disebabkan penindasan dan ketidakadilan.

Kesebelas, Hilangnya keimanan dan keikhlasan yang disebabkan pengkhianatan penempatan orang yang salah pada tempat yang salah.

Kedua belas, Hilangnya sikap dan moral yang terpuji yang menyebabkan kejahatan dan sikap yang tercela.

Ketiga belas, Hilangnya negeri-negeri Islam dan tempat tinggal, tidak hanya Palestina tetapi juga Andalusia (sekarang yang disebut Portugal dan Spanyol), wilayah yang luas di Asia Tengah dan Timur Jauh, Kosovo, Bosnia, Kashmir dan yang lainnya, yang menyebabkan jutaan imigran, gelombang pengungsi dan pendeportasian.

Keempat belas, Hilangnya tempat suci dan akibatnya adalah kaum muslim dilarang shalat di Masjid Al-Aqsa selama 50 tahun sampai saat ini. Kami juga menyesalkan untuk mengatakannya pada Anda bahwa dua masjid lainnya pun yaitu Masjid Al-Haram dan Masjid Al-Nabawi tidak di dalam kondisi yang diinginkan.

Kelima belas, Hilangnya kesatuan dan integritas yang diakibatkan terpecahnya negeri kaum muslim menjadi 56 bagian yang tidak sah, dan AS tengah bekerja keras menciptakan bagian ke 57 di Palestina, ke 58 di gurun Afrika barat dan ke 59 di Timor Timur.

*(Komunitas Muslimah Perindu Syurga)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar