Recent Posts

Total Tayangan Halaman

Labels

Pesan Sekarang Juga!

Cara Ngirim Tulisan

Cara mengirim tulisan ke Pena Pejuang : 1. Kirim tulisan, bisa dalam bentuk tulisan wa, bisa juga dalam format docx. 2. Sertakan dengan gamb...

Ilusi Mendamba Keluarga Harmonis

Minggu, 14 Februari 2021

 


(Sumber gambar: Pinterest) 


Oleh: Fatimah Azzahra, S. Pd


Bagaimana rasanya digugat oleh anak sendiri dengan meminta hak waris padahal orangtuanya masih hidup? Marah? Kesal? Kecewa? Semua jadi satu. Hal yang terasa tak mungkin terjadi tapi jaman sekarang sudah tak aneh lagi. 


Gugat menggugat antara orangtua dan anak menjadi fenomena yang berkali-kali ditemui jaman sekarang. Salah satunya fenomena anak di Bandung, yang menggugat orangtuanya sebesar 3M. Sang anak menyewa lahan untuk warung sejak 2012 silam. Tapi, sang ayah memintanya pindah, dan mengembalikan uang sewa karena lahan akan dijual. Tak terima, sang anak pun menggugat ayahnya dan meminta hak waris, padahal ayahnya masih hidup. 


Korban Kapitalisme


Miris. Tapi inilah potret nyata keluarga dalam sistem kapitalisme. Materi menjadi pusat arah pandang, pikiran dan pertimbangan dalam bertingkah laku. Termasuk bersikap kepada sesama keluarga. 


Orangtua bangga jika anaknya sukses berharta benda. Anak menuntut orangtua memberikan materi tak terhingga. Sedihnya, mereka tak peduli dari mana harta itu datang, tak peduli cara menjemputnya, bahkan tak peduli lagi halal haram. Walau harus menyakiti keluarga sendiri, tak peduli lagi. 


Lahirnya anak-anak yang durhaka pada orangtua tak lahir dengan sendirinya. Ketiadaan didikan, bimbingan, dan teladan dari orangtua berperan sangat besar bagi kondisi anak. Sistem kapitalisme menghimpit keluarga, mempersulit kehidupan kita semua. Terpaksa ataupun tidak, sadar atau pun tidak, akhirnya anak-anak kehilangan bimbingan, teladan. 


Masalah demi masalah datang menyapa. Negara pun abai mengayomi rakyatnya, memenuhi kebutuhan sandang, pangan, papan, pendidikan, kesehatan, keamanan. Rakyat diminta tidak manja, berusaha sendiri memenuhi kebutuhannya. Stresslah masyarakat yang ada.


Hal ini diperparah dengan menancapnya pemikiran busuk liberalisme menimbulkan perilaku bebas pada sesama. Sikap hormat pada orangtua dianggap kuno dan kolot. 


Standar perbuatan yang berasal manfaat pun menghiasi kehidupan jaman ini. 


Islam Melahirkan Keluarga Harmonis


Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda, "Sungguh terhina, sungguh terhina, sungguh terhina.” Ada yang bertanya, “Siapa, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, ”(Sungguh hina) seorang yang mendapati kedua orang tuanya yang masih hidup atau salah satu dari keduanya ketika mereka telah tua, namun justru ia tidak masuk surga.” (HR. Muslim no. 2551)


Islam agama yang mulia, sesuai fitrah kita sebagai manusia. Menempatkan posisi sebagaimana mestinya. Islam adalah agama yang sempurna. Ia ajarkan pula bagaimana kita bersikap sebagai anggota keluarga. 


Sungguh, islam memuliakan kedudukan orangtua. Dalam islam, salah satu jalan ke surga ada pada ridho orangtua. Maka, dulu para sahabat berlomba dalam berbakti pada orangtua. Bahkan ada kisah sahabat yang menggendong orangtuanya, menyuapinya, menyiapkan minum dan makanannya. 


Tentu hal yang sama terjadi dengan sikap orangtua pada anak. Orangtua pun berbakti pada anaknya dengan mendidiknya, membimbingnya di jalan ketakwaan, keimanan. 


Ini lahir jika keimanan menancap dalam diri, ketakwaan terhujam dalam hati. Takkan terlahir dalam sistem yang menjauhkan agama dari kehidupan seperti sekarang ini. 


Tak hanya itu, masyarakat pun memiliki peran untuk saling mengingatkan dalam kebaikan dan mencegah kemunkaran. Jika ada saudaranya, tetangganya yang berbuat keliru, melanggar hukum syara, berbuat tidak sepatutnya, maka masyarakat akan bersegera mengingatkannya. Sehingga masalah tidak berlarut-larut atau bertambah besar. 


Negara pun punya peran besar dalam hal ini. Dalam islam, negara berkewajiban menjaga aqidah masyarakat. Maka, negara harus menerapkan kurikulum pendidikan, menyediakan tontonan yang bisa memperkuat keimanan dan ketakwaan masyarakat pada Allah. 


Islam juga mewajibkan negara memenuhi kebutuhan pokok dan dasar masyarakat, bisa jadi digratiskan atau berbayar tapi dengan harga yang sangat terjangkau. Sehingga orangtua tidak akan stress, bisa menyediakan waktu untuk membersamai anak-anaknya. 


Islam juga mewajibkan negara untuk memfilter pemikiran dan budaya yang masuk. Yang tak sesuai dengan islam tak akan dibiarkan menyebar di tengah masyarakat, seperti gaya hidup bebas, hidup semau gue, enggan diatur atas nama kebebasan. Maka, takkan terbesit jika kewajiban berbakti pada orangtua adalah suatu penjajahan, ketidakadilan. 


Masyaallah, begitu indahnya aturan dalam islam. Masihkah kita meragukannya? Sudah saatnya kita kembali pada islam, agar keluarga harmonis bukan cuma ilusi semata. 


Wallahu'alam bish shawab. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar