Recent Posts

Total Tayangan Halaman

Labels

Pesan Sekarang Juga!

Cara Ngirim Tulisan

Cara mengirim tulisan ke Pena Pejuang : 1. Kirim tulisan, bisa dalam bentuk tulisan wa, bisa juga dalam format docx. 2. Sertakan dengan gamb...

Islam Solusi Paling Tepat Atasi Banjir

Senin, 22 Februari 2021


Oleh Aas Asiyah 



"Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)." (QS. Ar-Rum 30: Ayat 41)


Awal tahun 2021 ini ditandai dengan banyaknya bencana alam yang terjadi, mulai dari banjir, longsor, gempa bumi dan masih banyak lagi.

Salah satunya bencana banjir yang kerap terjadi setiap musim penghujan tiba. Hampir seluruh wilayah di Jawa Barat terendam banjir diantaranya banjir yang melanda Subang dan Karawang menyebabkan puluhan ribu masyarakat mengungsi.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebutkan banjir di Subang, Jawa Barat tersebar di 21 kecamatan. Laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Subang tercatat 42.084 kk dengan 129.535 jiwa terdampak banjir Subang yang terjadi sejak 7 Februari 2021. (Republika.co.id 13/02/2021)

Sedangkan di Karawang, banjir merendam 11.044 rumah yang tersebar di 39 desa, 17 kecamatan sekitar Karawang.
Terdapat 12.650 keluarga yang terdampak bencana banjir. Sebanyak 8.648 orang atau 3.625 keluarga mengungsi ke sejumlah tempat yang aman karena rumah mereka terendam banjir. (Republika.co.id 13/02/2021)

Curah hujan yang tinggi bisa menyebabkan banjir, tapi faktor penyebab lain bencana banjir ini adalah ulah campur tangan manusia yang gagal menjaga kelestarian lingkungan. 

Daerah resapan air yang semakin kurang karena banyaknya pembukaan lahan dan penambangan secara ilegal dan berlebihan. Selain itu pencemaran sungai dengan banyaknya sampah menjadi salah satu penyebab terjadinya banjir. 

Wakil Gubernur Jawa Barat Uu Ruzhanul Ulum mengungkapkan penyebab banjir di Subang, Jawa Barat, salah satunya karena adanya penambangan liar di Sumedang. Hal ini ia ungkapkan saat mendampingi Wapres Ma'ruf Amin menyerahkan bantuan ke korban banjir. (Tirto.id 13/02/2021)

"Air datang dari beberapa kabupaten, dari Majalengka, Sumedang dan Garut. Setelah kami teliti ternyata di aliran dan hulu sungai, beberapa kabupaten itu, di Sumedang ada penambangan liar," ujar Ruzhanul di Subang, Jawa Barat. (Tirto.id 13/02/2021)

Bencana banjir tidak hanya sekali atau dua kali terjadi di Indonesia, banjir sudah menjadi langganan bencana saat musim penghujan tiba khususnya di daerah Pulau Jawa. Tetapi pemerintah dan masyarakat seakan tak pernah belajar dari peristiwa banjir yang sudah sering kali terjadi. Bukannya menambah daerah resapan hujan, ini malah semakin merusak lingkungan. 

Salah satunya mengeksploitasi hutan yang merupakan daerah resapan utama saat hujan turun. Pembukaan lahan yang secara berlebihan untuk perkebunan kelapa sawit, dan pembangun sarana prasarana yang semuanya hampir dilakukan dengan segala macam alat berat, inilah yang berdampak pada rusaknya hutan. Tanah yang seharusnya mudah untuk meresap air hujan kini langsung mengalir ke pemukiman karena tidak tertahan lagi oleh bagian-bagian pohon. Ini lah yang menyebabkan tingginya air di pemukiman.

Selain itu jika pemanfaatan hasil hutan oleh masyarakat sekitar hanya seputar penggunaan untuk tempat tinggal, bahan makanan, dan bahan obat-obatan, pemanfaatan ini tidak akan mengganggu ekosistem hutan.

Tapi pada faktanya banyak hutan yang sekarang di kelola oleh pihak swasta yang mana tentu mereka berpikir bagaimana meraup keuntungan yang sebesar-besarnya dengan modal sekecil mungkin. Dan banyak dari mereka yang secara berlebihan mengambil kekayaan hutan, tetapi kewajiban menanam kembali pun hanya dilakukan sekadarnya. Alhasil banyak menyebabkan hutan alam tidak dapat lagi kita jumpai dalam luasan yang luas.

Jika kita cermati, semua ini terjadi karena kebijakan negara, baik yang menyangkut pengelolaan tata ruang maupun tata wilayah, serta terkait berbagai kebijakan eksploitasi alam atas nama pembangunan yang melibatkan pihak swasta yang cenderung profit oriented dan abai terhadap aspek penjagaan dan kelestarian lingkungan. 

Inilah yang terjadi ketika negara diatur oleh sistem kapitalisme. Negara nampak kurang serius dalam mengatasi masalah bencana hingga tuntas, sebab masih terbelit dengan berbagai kepentingan, khususnya para pemilik modal.

Yang membuat miris adalah dampak dari bencana yang terjadi khususnya banjir kini masih banyak yang belum teratasi secara tuntas. Pada akhirnya rakyat yang menjadi korban dari semua ini, mereka merasakan sulitnya menata ulang kehidupan di tengah situasi perekonomian yang sulit dan dampak dari pandemi juga tidak bisa diabaikan. 

Dalam Islam sendiri, terkadang bencana memang dianggap sebagai bentuk ujian untuk meningkatkan keimanan seseorang. Tetapi tak menutup kemungkinan, adakalanya bencana juga akibat dari kejahilan dan dosa-dosa yang diperbuat manusia.

Oleh karena itu, ketika bencana terjadi salah satunya banjir, yang pertama harus dilakukan adalah muhasabah diri dan memohon ampun kepada Allah SWT. Tapi tentunya hanya dengan muhasabah saja tidak cukup, kita harus menyadari apakah yang kita lakukan terhadap alam sekitar sudah menjaga dengan betul atau malah merusak.

Penerapan Islam secara kaffah dipastikan akan mencegah munculnya sikap mengeksploitasi dan destruktif. Karena Islam menjaga setiap perilaku seseorang, baik terhadap orang lain maupun terhadap alam sekitar dengan syariatnya. 

Para penguasa pun akan selalu terjaga dari pengurusan yang menimbulkan mudarat. Syariat Islam telah tegas mengatur segala aspek kehidupan, termasuk soal kepemilikan harta dalam bentuk kekayaan alam dan bagaimana memanfaatkannya.

Islam juga melarang adanya eksploitasi dan eksplorasi alam sekitar seperti yang telah terjadi pada sistem sekarang. Selain itu Islam membatasi setiap pengelolaan lingkungan agar tidak terjadinya ketidakseimbangan ekosistem sekitar.

Dalam Islam, para penguasa akan selalu memastikan setiap pembangunan yang ada dan pengelolaannya ditujukan hanya untuk kemaslahatan umat. Para pemimpin dalam Islam paham bahwa amanah kepimimpinanya bukan hanya untuk urusan dunia tetapi juga urusan akhirat.

Sedangkan solusi Islam sendiri untuk mengatasi banjir adalah dengan membangun bendungan-bendungan untuk menampung curahan air sungai, air hujan dan lain sebagainya. Lalu memetakan daerah rawan banjir akibat rob serta resapannya tanahnya yang kurang, dan melarang masyarakat untuk membangun pemukiman di sekitar daerah tersebut.

Untuk daerah yang sebelumnya yang belum pernah terkena banjir, tapi karena sebab tertentu terkena banjir, Islam akan melakukan penanganan terhadap daerah tersebut semaksimal mungkin. Tetapi jika tidak memungkinkan, maka Islam akan mengevakuasi masyarakat di daerah tersebut ke tempat yang lebih aman dengan memberikan ganti rugi sebagai kompensasi untuk mereka.

Selain solusi diatas Islam juga membentuk badan khusus untuk penangan bencana alam lalu mensosialisasikan kepada masyakarat tentang pentingnya menjaga kebersihan lingkungan, dan kewajiban untuk memeliharanya. Islam juga menyediakan 

Untuk korban banjir sendiri, Islam menyediakan tenda, makanan, minuman, pakaian dan pengobatan yang layak lalu memastikan para korban agar tidak kekurangan satupun dari aspek diatas.

Solusi di atas adalah gambaran kecil dari sempurnanya sistem Islam dalam menangani setiap permasalan umat, salah satunya untuk penangan banjir ini. Dengan kebijakan yang dilakukan, insyaa allah bisa mengatasi masalah banjir secara tuntas. Wallahu A'alam bish shawab

Tidak ada komentar:

Posting Komentar