Recent Posts

Kado Musibah, Tuntut Sistem Bermuhasabah

Jumat, 05 Februari 2021




Oleh: Nur Faktul


"Anak menjerit-jerit asap panas membakar, lahar dan badai menyapu bersih. Ini bukan hukuman, hanya satu isyarat bahwa kita mesti banyak berbenah. Memang bila kita kaji lebih jauh dalam kekalutan, masih banyak tangan yang tega berbuat nista". Sepenggal syair lagu dari Ebiet G. Ade diatas, seolah menggambarkan keadaan kita saat ini. Dimana masyarakat lebih banyak menangis tersebab bencana yang datang bertubi-tubi secara berurutan. Awal tahun yang miris memang, di tengah wabah Covid-19 yang justru memasuki phase II ini, musibah seolah menjadi kado tragis bagi rakyat. Adanya musibah yang terjadi tidak lepas dari ulah jahil manusia ketika mengelola alam. Tanpa memperhitungkan dampak kerusakan, yang ada bagaimana mengeruk keuntungan sebesar-besarnya. Astaghfirullah.


Seperti yang kita dengar baru-baru ini, sejumlah daerah di Kalimantan Selatan terendam banjir. Setidaknya ada 1.500 rumah warga di Kecamatan Pengaron, Kabupaten Banjar Kalsel kebanjiran. Ketinggian air mencapai 2-3 meter. Diduga salah satu penyebabnya adalah hujan deras yang mengguyur daerah tersebut. Dua daerah terparah yaitu Kabupaten Banjar dan Kabupaten Tanah Laut. Saat dikonfirmasi, Staf Advokasi dan Kampanye Lingkungan Hidup (Walhi) Kalsel, M. Jefri Raharja menegaskan banjir tahun ini lebih parah dari tahun-tahun sebelumnya. "Iya lebih parah dari 2020 kemarin, Hari ini (Kamis) terutama", ujarnya kepada Kompas.com, Kamis (14/1/2021). Jefri mengatakan, selain karena curah hujan yang tinggi masifnya pembukaan lahan secara terus-menerus juga turut andil dari bencana ekologi yang terjadi di Kalimantan selama ini. "Fakta ini dapat dilihat dari beban izin konsensi hingga 50 persen dikuasai tambang dan sawit", katanya lagi.


Musibah banjir di Kalsel hanyalah salah satu dari sekian banyak bencana yang terjadi. Di Indonesia, dominasi banjir ada 95 kejadian, tanah longsor (25), puting beliung (12), gempa bumi (2). Ratusan bencana alam ini mengakibatkan 80 korban jiwa, 858 korban luka luka, dan 405.854 orang terdampak dan akan mengungsi (tirto.id 18/01/2021). Sungguh sangat miris mendengar banyaknya bencana yang melanda, sedangkan di sisi lain kita pun masih berusaha keras memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Namun, memang tidak bisa dipungkiri bahwasannya sebagian bencana yang terjadi murni kejadian alam yang tidak ada campur tangan manusia. Sebagaimana gempa, angin, gunung meletus terjadi atas kehendak Allah. Tapi sebagian yang lain seperti banjir dan tanah longsor, tentu ini akibat ulah tangan manusia yang serakah dalam mengelola lahan.


Sebagai seorang muslim, tentunya kita tidak boleh larut dalam kesedihan.
Dalam menghadapi musibah kita harus meyakini bahwa apa yang terjadi adalah ketetapan Allah, yang harus disikapi dengan sabar dan ikhlas. Bagi para korban, ketika bersabar maka musibah tersebut akan menjadi penggugur dosa baginya. "Tidaklah suatu musibah menimpa seorang muslim melainkan Allah akan menghapus dosa (orang itu) dengannya, bahkan dosa yang menyakitkannya sekalipun" (HR. Al Bukhari).
Syariat mengajarkan, langkah utama dalam menghadapi bencana adalah bertaubat. Karena salah satu terjadinya bencana pada suatu negeri disebabkan banyaknya maksiat yang dilakukan manusia. Di dalam islam, SDA tidak boleh dieksploitasi oleh swasta, ia harus dikelola oleh negara dan hasilnya dikembalikan kepada rakyat. Lahan dikelola sesuai fungsinya, tidak boleh dialih fungsikan dengan dalih menghasilkan keuntungan yang besar namun justru merusak. Dengan demikian, maka banjir dan longsor yang seringkali terjadi di musim penghujan akan mudah diminimalisir. Sistem islam berasal dari sang pencipta manusia, maka wajar jika diabaikan justru menimbulkan kerusakan manusia dan juga alam.


Tidak cukup hanya orang per orang yang bertaubat dan bermuhasabah. Namun sistem yang diterapkan oleh penguasa masih berlaku maksiat. Maka sudah seharusnya penguasa pun segera bertaubat dan bermuhasabah diri, untuk kembali menerapkan sistem islam. Bukan malah melegalkan hegemoni asing atas negeri ini, dengan dalih investasi untuk mensejahterakan rakyat. Sebab kemaksiatan terbesar adalah dicampakkannya islam sebagai aturan kehidupan manusia. Sungguh, jika negeri ini mau menerapkan sistem islam secara kaffah dalam bingkai Daulah Khilafah Islamiyah maka keberkahan akan melimpah ruah dari langit dan bumi. Wallahu a'lam bis shawab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar