Recent Posts

Total Tayangan Halaman

Labels

Pesan Sekarang Juga!

Cara Ngirim Tulisan

Cara mengirim tulisan ke Pena Pejuang : 1. Kirim tulisan, bisa dalam bentuk tulisan wa, bisa juga dalam format docx. 2. Sertakan dengan gamb...

Ketika Perisai Itu Hilang

Sabtu, 13 Februari 2021



Oleh: Eka Dwi



 Judul buku: Longing for the Lost Caliphate    

Penulis : Mona Hassan 

Penerbit : Princeton University Press, AS

Tebal : xv + 390 halaman


Berabad-abad lamanya, Islam pernah berjaya. Sejak berdirinya negara pertama di Madinah, yang dianggap sebagai role model negara terbaik. Abad ke-7. Saat Rasulullah diangkat sebagai seorang pemimpin negara, hingga abad ke-20, ketika Kemal Attaturk merebut kekuasaan Islam. Memusnahkan kekhalifahan. Kurang lebih 13 abad lamanya, khilafah telah membersamai ummat islam, sebagai pemimpin dunia dan lambang persatuan umat Islam.


Khilafah, terus eksis selama 13 abad dan hanya absen pada dua masa. Di masa itupun menyimpan duka mendalam bagi umat muslim. Mereka  tidak pernah menduga peristiwa itu akan terjadi. Abad 13 dan abad 20, masa dimana umat muslim sedang diuji. 


Abad ke-13, tepatnya pada tahun 1258, Bangsa Mongol berhasil menyerang Baghdad. Negeri muslim itu diporak-porandakan hingga hancur tak tersisa. Bani Abbasiyah, kekhalifahan di masa itu berhasil diduduki oleh bangsa Mongol. Dunia berduka. Tetapi semangat umat Islam tak gentar, untuk terus mengembalikan posisi khilafah. 


Lalu, abad ke-20, tepatnya pada tahun 1924, benteng terakhir umat Islam, di Turki Utsmani berhasil dirobohkan oleh Kemal Attaturk. Khilafah saat itu dihapuskan untuk terakhir kalinya. Pada 3 Maret 1924, alamat perisai umat Islam telah hilang.


Seorang peneliti dan juga sejarawan, Mona Hassan, mencoba menguak reaksi muslim dunia akan kejadian tak terduga yakni runtuhnya khilafah di dua masa tersebut. Lewat sebuah bukunya yang berjudul "Longing For The Lost Caliphate". Mona Hassan adalah seorang ilmuwan, yang bukan pro khilafah, tapi semua penelitiannya dilakukan secara obyektif. Maka tidak salah jika buku beliau menjadi bahan refensi para sejarawan.


Abad ke-13, ketika Mongol menyerbu wilayah Baghdad, derita kehilangan oleh umat Islam dituliskan seorang aktivis literasi, matematikawan, dan juga ahli agrikultural. Ia bernama Zahir Al-Din Ibn Al-Kazaruni. Baghdad dibantai kurang lebih selama 40 hari. Baghdad bak lautan darah, seluruh penduduk dibunuh kecuali menyisakan 17 orang yang masih hidup untuk menemani khalifah. Ummat islam begitu menderita.


Demikian juga di abad ke-20, pada tahun 1924, khilafah dihapuskan. Khalifah Abdul Majid II diasingkan. 


Upaya membangkitkan kembali khilafah terus dilakukan umat Islam. Hal ini berangkat dari dalil wajibnya khilafah. Begitu pula Mona Hassan. Sepanjang penelitiannnya, ia tidak menemukan kecuali khilafah adalah sebuah kewajiban yang pasti dan kewajiban jamaah.


Mona Hassan mengutip beberapa penjelasan ulama dari referensi klasik. Misal, dari Ibnu Khaldun, mengatakan bahwa menunjuk pemimpin/khalifah adalah kewajiban, yang diketahui dari nash syar'i. Juga kesepakatan para sahabat sepeninggal Rasulullah Saw untuk mengangkat Abu Bakar r.a dan khalifah-khalifah pengganti berikutnya. Inilah yang dikenal sebagai ijma' sahabat.


Juga, mengutip dari penjelasan Imam Qurtubi dalam kitab al-Qurtubi. Ketika beliau menafsirkan surah al-Baqarah : 30

"Dan ingatlah ketika Rabbmu berkata pada malaikat, sesungguhnya Aku hendak menjadikan khalifah di muka bumi.....". Maksud dari ayat ini adalah asal untuk mengangkat imam dan khalifah.


Inilah dalil yang menguatkan umat Islam. Bahkan ketika Turki Utsmani runtuh, Indonesia sebagai salah satu wilayah dengan ummat muslim mayoritas juga merespons.


Meski saat itu Indonesia sedang didominasi oleh Belanda, umat Islam tidak gentar memberikan reaksi dan aspirasi kepada dunia untuk mempertahankan khilafah islamiyah yang benar. Terbukti, ketika Utsmani terjebak dalam perang dunia II, lalu sekutu mengalahkan Ustmani dengan menduduki Istanbul. Ummat muslim Indonesia menertawakan sekutu dan mengatakan bahwa mereka tidak hanya melawan khilafah dengan menduduki Istanbul, tapi berurusan dengan kaum muslim dunia (Van Bruinessen, “Muslims of the Dutch East Indies and the Caliphate Question”, hal.264).


Ketika Khalifah Abdul Majid II diasingkan, para wartawan mendatangi kediaman khalifah untuk meminta keterangan atas penghapusan khilafah. Sehari sebelum itu, muslim di Mesir, India dan tidak terkecuali di Indonesia mengirim sebuah telegram yang berisi bela sungkawa atas hancurnya Ustmani.


Berbagai konferensi diagendakan secara beruntun sebagai upaya mengembalikan khilafah. Ormas Islam sedunia ikut berpartisipasi. Di Indonesia, tepatnya di Surabaya, kota bersejarah dimana pembahasan khilafah itu dimulai. Ormas Islam seperti Sarekat Islam, Muhammadiyah, dan Al-Irsyad bersama ulama mengadakan pertemuan khusus untuk mendiskusikan terkait pengiriman delegasi konferensi di Cairo saat itu. 


Hari demi hari, pertemuan diadakan dan cukup alot, hingga tahun 1926, lahirlah Nahdatul Ulama sebagai komite khilafah untuk memecahkan dilema khilafah. Dari banyak pertemuan tersebut, kita mengenal nama Raden Umar Said Tjokroaminoto dan H. Fakhrudin. Mereka yang begitu menggebu-gebu dalam menyukseskan pengiriman delegasi. Ditunjuklah Kiai Asnawi dan Kiai Bisri Sjansuri untuk berangkat ke Cairo. Namun, sebab kendala logistik, keduanya gagal mengikuti konferensi.


Demikianlah respons umat Islam yang begitu besar terhadap khilafah. Ketika khilafah runtuh, mereka sadar akan pentingnya khilafah, maka berupaya untuk mengembalikan khilafah. Hingga kini pun, umat Islam masih terus berupaya. Namun apa mau dikata, pembenci khilafah masih sangat kuat mencengkram umat Islam untuk tidak bangkit. Untuk tetap tertidur  dan mereka berusaha untuk tidak akan membangunkannya.


Tapi bagi yang yakin akan janji Allah, bahwa khilafah adalah keniscayaan, maka ia tak akan gentar menghadapi kondisi apapun, sesulit apapun, se-mencekam apapun.


"Kenabian akan terjadi di tengah kalian seperti yang dikehendaki Allah. Kemudian Allah menghapusnya (menggantikannya) jika menghendaki menghapusnya. Kemudian akan ada khilafah (yang tegak) di atas manhaj kenabian, lalu khilafah itu menjadi seperti yang dikehendaki Allah. Kemudian Allah menghapusnya jika menghendaki menghapus. Kemudian akan ada kerajaan yang menggigit (mulkan adlan), lalu kerajaan itu menjadi seperti yang dikehendaki Allah. Kemudian Allah menghapusnya jika menghendaki menghapus. Kemudian akan ada kerajaan diktator (mulkan jabariyyan), lalu kerajaan itu menjadi seperti yang dikehendaki Allah. Kemudian Allah menghapusnya jika menghendaki menghapus. Kemudian akan ada (lagi) Khilafah yang berjalan di atas manhaj kenabian. Kemudian Rasulullah Saw terdiam" (HR. Ahmad).


Di periode akhir nanti, khilafah akan kembali, mengikuti metode kenabian. Maka bersiaplah untuk menyambutnya.


Wallahu a'lam bishshawab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar