Recent Posts

Total Tayangan Halaman

Labels

Pesan Sekarang Juga!

Cara Ngirim Tulisan

Cara mengirim tulisan ke Pena Pejuang : 1. Kirim tulisan, bisa dalam bentuk tulisan wa, bisa juga dalam format docx. 2. Sertakan dengan gamb...

Kurikulum Darurat: Darurat Ganti Sistem

Senin, 15 Februari 2021

 

(Sumber gambar: Pinterest) 


Oleh: Fatimah Azzahra, S. Pd

"PJJ berlangsung selama 10 bulan, siswa berpotensi alami learning loss. "(Kompas.com, 31/1/2021)

Tak bisa dipungkiri, pembelajaran jarak jauh yang dilaksanakan di tengah pandemi ini sangat berdampak bagi kualitas pendidikan saat ini. Bahkan, generasi saat ini sampai disebut sebagai generasi corona. Karena banyak sekali kendala dan hambatan yang dihadapi ketika melakukan pembelajaran jarak jauh. Pembelajaran pun terasa sangat tidak optimal.

Learning loss menjadi salah satu dampak pembelajaran jarak jauh beserta kendalanya. Berkurangnya pengetahuan, keterampilan peserta didik karena pembelajaran tidak bisa berlangsung secara optimal. Sementara, aspek kesehatan juga tak bisa disepelekan.

Dampak psikososial pun dirasakan para peserta didik karena stress dengan tuntutan pendidikan, berkurangnya interaksi dengan teman, hingga KDRT yang terjadi dalam rumah. Kemenag dan Kemendikbud pun meluncurkan kurikulum darurat untuk menanggapi hal ini.

Kurikulum Darurat

Kurikulum darurat ini ibarat obat, tak dipakai selamanya. Hanya dalam rangka merespon fenomena yang terjadi di dunia pendidikan akibat pandemi. Kurikulum ini menekankan pada pengembangan karakter, akhlak mulia, ubudiyah dan kemandirian siswa. Aspek kompetensi dasar dan inti tetap diperhatikan dalam skala tertentu.

Bak tambal sulam, inilah potret sistem pendidikan kapitalisme sekulerisme di tengah pandemi. Sangat terlihat kelabakan, ketidaksiapan dalam melaksanakan pendidikan. Sebelum pandemi saja sistem pendidikan saat ini menimbulkan masalah bagi generasi. Karena memisahkan agama dari kehidupan, tujuan pendidikan yang duniawi. Sehingga melahirkan generasi yang tak sesuai fitrahnya dalam kebaikan. Mereka bisa saja jadi pintar tapi miskin moral.

Bukan Ganti Kurikulum

Berkali-kali kita ganti kurikulum, tak hanya saat pandemi, tidak pandemi pun kita biasa ganti kurikulum bersama dengan bergantinya menteri pendidikan. Tapi, permasalahan pendidikan dan generasi tak jua selesai. Kali ini pandemi menghantam keras pendidikan negeri ini. Hasilnya, semakin menguak kerapuhan kapitalisme dan sekulerisme, khususnya pada sistem pendidikannya.

Pergantian kurikulum bukan solusi atas permasalahan learning loss atau pendidikan lainnya. Masalah sudah ada karena tujuan pendidikan yang keliru. Kurikulum mendikbud menekankan menghasilkan generasi pada arah kapitalistik, belajar agar bisa bekerja. Sementara kemenag hanya menekankan pada aspek ubudiyah, fokus ibadah.

Ketidaknyambungan ini melahirkan generasi yang taat ibadah, fokus pada materi, tanpa internalisasi kemuliaan ilmu dalam diri. Wajar jika para peserta didik terbebani dengan pendidikan yang ada.

Kepribadian Islam dan Keutamaan Ilmu

Islam sebagai agama yang sempurna punya formula tepat mengatasi semua permasalahan kehidupan, termasuk permasalahan dalam pendidikan saat pandemi.  Pertama islam menetapkan tujuan pendidikan bukan untuk mencari materi. Pendidikan dalam islam bertujuan mencetak generasi unggul, khairu ummah.

Siswa siswi akan dididik dengan kurikulum yang berlandaskan aqidah islam. Sehingga setiap pembelajarannya akan membuat mereka semakin beriman dan bertakwa. Semakin taat pada Allah.

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Salah satu tanda kebahagiaan dan kesuksesan adalah tatkala seorang hamba semakin bertambah ilmunya maka semakin bertambah pula sikap tawadhu’ dan kasih sayangnya. Dan semakin bertambah amalnya maka semakin meningkat pula rasa takut dan waspadanya."

Islam pun mendorong umat untuk menuntut ilmu dengan keutamaan para pencari ilmu, menganalogikan majelis ilmu sebagai taman-taman surga, ditinggikan beberapa derajat. Maka, semakin berlomba orang untuk mencari ilmu.

Islam pun memastikan bahwa ilmu yang sudah didapat harus diaplikasikan. Karena itu, islam mendorong ilmu untuk amal, juga disebarkan. Kesadaran akan hisab bagi ilmu yang tidak diaplikasikan akan memotivasi diri setiap hari. Wajar jika dulu kaum muslim berlomba menjadi manusia yang bermanfaat bagi yang lain dengan mengoptimalkan kontribusi seluruh potensi dirinya. Kita kenal Ibnu Haitsam, Al Khawaritzmi, Maryam Al Astrulabi, Fatimah Al Fihri, Ibnu Khaldun, dan masih banyak lagi. Merekalah potret ideal yang lahir dari rahim pendidikan dalam islam.

Sungguh masalah pendidikan saat ini, learning loss atau bahkan menjadi great loss, ini karena penerapan sistem kapitalisme sekulerisme yang jauh dan menjauhkan kita dari Sang Pencipta Alam semesta. Sudah saatnya kita kembali pada kemuliaan, keagungan dengan penerapan aturan yang datang dari Allah swt, yakni Islam. Islam yang sudah terbukti kegemilangannya dan solutif dalam menangani semua masalah kehidupan.

Wallahu'alam bish shawab.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar