Recent Posts

Total Tayangan Halaman

Labels

Pesan Sekarang Juga!

Cara Ngirim Tulisan

Cara mengirim tulisan ke Pena Pejuang : 1. Kirim tulisan, bisa dalam bentuk tulisan wa, bisa juga dalam format docx. 2. Sertakan dengan gamb...

Menanti Abad Khilafah, Mengakhiri Pandemi

Jumat, 05 Februari 2021



Oleh : fatimah Ubaidillah (nama pena)

 

Pandemi covid-19 kasusnya tak juga menurun, namun terus bertambah hingga  muncul varian baru karena tidak ada karantina virus. Bahkan, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan, pandemi Covid-19 tidak akan menjadi pandemi terakhir. WHO juga menuturkan upaya untuk meningkatkan kesehatan manusia “ditakdirkan” tanpa mengatasi perubahan iklim dan kesejahteraan hewan.

 

Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus mengutuk siklus “berpandangan sempit dan berbahaya” dari membuang uang tunai pada wabah, tetapi tidak melakukan apa pun untuk mempersiapkan kemungkinan pandemi berikutnya. Dia mengatakan, sudah waktunya untuk belajar dari pandemi Covid-19. “Sudah terlalu lama, dunia telah beroperasi dalam siklus kepanikan dan pengabaian,” katanya, seperti dilansir Channel News Asia. (Minggu,20/12/2020/Sindonews.com).

 

Covid-19 sudah berlangsung lama, bahkan sampai merusak ekonomi dunia, tetapi masih belum bisa diatasi dengan sistem sekuler. Ketika covid-19 semakin meningkat, bertambah juga dengan varian-varian virus baru, wabahnya kini menyebar ke penjuru dunia, berbagai solusi sudah ditempuh tetapi belum juga mendapatkan hasil yang nyata, ini bukti bahwa sistem kapitalis sekuler gagal dalam mengatasi wabah covid-19.

 

Banyaknya korban yang meregang nyawa, angka kematian pun meningkat, belum lagi banyak sekali informasi yang simpang siur antar masyarakat, membuat masyarakat bingung untuk memilih informasi mana yang benar dan informasi mana yang salah, membuktikan bahwa hilangnya kepercayaan masyarakat kepada pemerintah yang seharusnya menjadi andil media terpercaya

 

Sistem kapitalis sekuler tidak sebanding dengan sistem Islam, karena hanya sistem Islamlah yang mampu memberikan solusi atas permasalahan manusia. Seperti halnya di pemerintahan Khalifah Umar ketika diuji Allah dengan suatu  musibah wabah ‘Thaūn Amwās yang menyerang wilayah Syam di mana wabah ini dikabarkan telah menghantarkan kematian tidak kurang dari 30 ribu rakyat. Bukan saja warga negara biasa, bahkan penyakit ini pun menyerang beberapa sahabat Khalifah Umar seperti Abu Ubaidah, Muadz bin Jabal, dan Suhail bin Amr yang mengantarkan pada wafatnya mereka.

 

Sekalipun ditimpa  bencana besar, namun Khalifah Umar tidak kehilangan kendali. Beliau tetap menunjukkan karakternya sebagai seorang pemimpin yang bersegera menyelesaikan masalah rakyat yang menjadi tanggung jawabnya. Wabah tersebut dihadapi dengan solusi yang menyelesaikan.

 

Adapun kunci kesuksesan sistem Khilafah dalam menangani wabah pandemi yaitu memadukan antara Akidah dengan Syariah. Kesempurnaan Islam tergambar dari aspek akidah yakni keimanan terhadap Allah Swt, Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, para Nabi dan Rasul, hari kiamat, dan iman pada takdir baik dan buruk semua terjadi dengan ilmunya Allah.

 

Keimanan ini tidak hanya terukir dalam hati, bukan sebatas diucapkan dengan lisan, namun dinampakkan dalam wujud perbuatan yang menunjukkan pada ketaatan terhadap syariat yang telah diturunkan Allah Swt pada Rasulullah saw. Termasuk di dalam menghadapi serangan wabah yang mengancam jiwa. Keimanan yang kuat ditunjukkan oleh Khalifah Umar bin Khaththab dengan para sahabatnya tatkala menghadapi wabah, mereka langsung meyakini bahwa semua terjadi karena kekuasaan Allah Swt.

 

Dalam menangani masalah wabah, khalifah Umar tidak berhenti hanya menyerahkannya pada takdir Allah saja, namun justru bersegera terikat kepada ketentuan syariat yang telah dicontohkan oleh   baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Kebijakan yang diambil khalifah bukan semata mengandalkan kecerdasan dan kemampuan manusiawinya, tetapi disandarkan pada apa yang sudah diperintahkan oleh Rasulullah Saw.

 

Sebagai buktinya adalah kegembiraan khalifah Umar dan rasa syukurnya atas pernyataan Abdurrahman bin ‘Auf yang menegaskan bahwa keputusan Umar sudah sesuai dengan ketetapan Rasulullah saw. Ibnu Hajar menceritakan kisah ini di dalam Fathu al-Bârî bahwa Umar Ra. keluar ke Syam, ketika tiba di Syargh, sampai kepadanya bahwa wabah terjadi di Syam. Lalu Abdurrahman bin ‘Awf memberitahunya bahwa Rasulullah saw. bersabda,

 

«إِذَا سَمِعْتُمْ بِهِ بِأَرْضٍ فَلَا تَقْدَمُوا عَلَيْهِ، وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلَا تَخْرُجُوا فِرَارًا مِنْهُ»

 

“Apabila kamu mendengar wabah berjangkit di suatu negeri, janganlah kamu datangi negeri itu. Dan apabila wabah itu berjangkit di negeri tempat kamu berada, maka janganlah keluar dari negeri itu karena hendak melarikan diri.”

 

Imam Bukhari meriwayatkan dari Ibn Umar RA, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Seorang imam yang berkuasa atas masyarakat bagaikan penggembala dan dia bertanggung jawab atas gembalaannya (rakyatnya).”

 

“Siapa saja yang dijadikan Allah mengurusi suatu urusan kaum muslimin lalu ia tidak peduli akan kebutuhan, keperluan, dan kemiskinan mereka, maka Allah tidak peduli akan kebutuhan, keperluan, dan kemiskinannya.”

 

Seperti itulah fakta nyata yang ditunjukkan oleh Khalifah Umar. Beliau rela membatalkan kunjungan resminya ke Syam dan memutuskan kembali ke Madinah guna menghindarkan paparan wabah yang sedang merajalela di negeri itu menyebar kepada penduduk di tempat lain. Pilihan ini tentu saja akan memiliki risiko sehingga sebagian sahabat Muhajirin sempat mengingatkannya:

 

“Anda telah keluar untuk suatu urusan penting. Karena itu kami berpendapat, tidak selayaknya Anda akan pulang begitu saja.”

 

Namun beliau tetap yakin dengan langkah yang telah ditetapkannya. Nyawa dan keselamatan rakyat menjadi pertimbangan utama dibandingkan urusan lainnya.

 

Di bawah ri’ayah pemerintahan seperti inilah kesejahteraan dan masa depan rakyat akan terselamatkan sekalipun didera berbagai musibah dan ujian. Mereka percaya bahwa pemimpinnya tidak akan berlepas tangan. Pemerintahnya tidak mungkin mengorbankan nasib mereka atas dasar pertimbangan ekonomi, apalagi menukarnya demi kepentingan segelintir pengusaha.

 

Begitulah cara Islam dalam menyelesaikan masalah, memberikan solusi bukan hanya sekedar dengan materi, tetapi juga dengan keimanan. Menyatukan antara akidah dan syariah sehingga dapat memecahkan permasalahan umat. Seharusnya pemimpin saat ini berkaca pada sejarah Islam yang mampu menyelesaikan permasalahan umat sampai tuntas, sehingga bukan sistem kapitalis sekuler yang diterapkan, tetapi sistem Islamlah yang pantas untuk diterapkan.


 



 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar