Recent Posts

Total Tayangan Halaman

Labels

Pesan Sekarang Juga!

Cara Ngirim Tulisan

Cara mengirim tulisan ke Pena Pejuang : 1. Kirim tulisan, bisa dalam bentuk tulisan wa, bisa juga dalam format docx. 2. Sertakan dengan gamb...

Moderasi Kian Menjadi, Angkat Non Muslim Jadi Guru Madrasah

Selasa, 09 Februari 2021


(Oleh : Rantika Nur Asyifa)

Atas nama moderasi, kebijakan Kemenag membuka peluang guru Kristen mengajar di sekolah Islam. Harus difahami, guru bukan hanya menyampaikan materi tapi juga menanamkan kepribadian. Maka peluang guru non muslim mengajar madrasah adalah pintu pendangkalan akidah bagi generasi islam.

Analis Kepegawaian Kementerian Agama (Kemenag) Sulsel, Andi Syaifullah mengatakan, kebijakan penempatan guru beragama kristen di sekolah islam atau madrasah sejalan dengan Peraturan Menteri Agama (PMA) Republik Indonesia. Tentang pengangkatan guru madrasah khususnya pada Bab VI pasal 30.

"Tidak disebutkan bahwa harus beragama islam," terang Andi Syaifullah, dikutip dari laman resmi Kementerian Agama Sulawesi Selatan, Sabtu 30 Januari 2021.
"Kan guru non muslim yang ditempatkan di madrasah ini akan mengajarkan mata pelajaran umum, bukan pelajaran agama. Jadi saya pikir tidak ada masalah. Bahkan ini salah satu manifestasi dari moderasi beragama, dimana islam tidak menjadi ekslusif bagi agama lainnya," ungkapnya, (suarasulsel.id, 30/01/2021).

 Diangkatnya non Muslim sebagai guru pelajaran umum madrasah di Sulsel dengan alasan “salah satu manifestasi dari moderasi beragama,” sebagaimana dinyatakan Analis Kepegawaian Kementerian Agama (Kemenag) Sulsel Andi Syaifullah, dinilai perlu dikritisi.

“Kalau ini dikaitkan dengan moderasi beragama, justru ini yang perlu dikritisi,” ujar Mudir Ma’had Khadimus Sunnah Bandung Ajengan Yuana Ryan Tresna (YRT) kepada Mediaumat.news, Senin (01/02/2021).
Sebab, lanjutnya, Islam itu ya Islam apa adanya, ketaatan kepada Islam itu seutuhnya dan tidak perlu dimoderasi.

Menurutnya, pandangan-pandangan untuk memoderasi Islam itu sebenarnya adalah rasa rendah diri di hadapan agama lain sehingga Islam disesuaikan dengan keadaan atau dibuat moderat. “Nah poinnya justru di situ, bagian dari kampanye atau upaya membangun moderasi beragama itu yang jadi persoalan,” tegasnya.

Ia menegaskan, kegiatan pembelajaran di sekolah itu bukan hanya tatap muka di kelas, tetapi juga pelajaran di luar kelas terkait keteladanan, akhlak dan seterusnya. Maka yang paling ideal itu Muslim diajar juga oleh Muslim, supaya murid bisa melihat bagaimana profil dari gurunya, akhlaknya dan ketaatannya kepada Allah.
 

Wallahu a’lam bisshawab []

Tidak ada komentar:

Posting Komentar