Recent Posts

Total Tayangan Halaman

Labels

Pesan Sekarang Juga!

Cara Ngirim Tulisan

Cara mengirim tulisan ke Pena Pejuang : 1. Kirim tulisan, bisa dalam bentuk tulisan wa, bisa juga dalam format docx. 2. Sertakan dengan gamb...

Wacana Radikalisme "Digoreng" Lagi

Senin, 08 Februari 2021


Oleh : Reka (Ibu Rumah Tangga dan Aktivis Dakwah Islam Kaffah)


Radikalisme. Lagi-lagi menjadi wacana yang senantiasa hangat bahkan panas diperbincangkan di kalangan elite politik terutama pemerintahan. Adanya menghasilkan kebijakan-kebijakan yang menggambarkan dengan sedemikian rupa bagaimana berbahayanya radikalisme bagi negeri ini. Memang dari awal, kabinet kerja kepresidenan saat ini, memiliki tujuan utama yakni menangkal radikalisme. Kalau kita lihat, negeri ini memiliki segudang permasalahan yang perlu langkah cepat dan tepat dari pemerintah untuk mengatasi nya, tetapi menangkal radikalisme ternyata masih menjadi agenda genting untuk diselesaikan.
Bagaimana kita lihat semacam adanya peringatan keras bagi ASN (Aparatur Negeri Sipil) yang terafiliasi dengan organisasi radikalisme diwacanakan akan di pecat dari jabatannya. Begitu yang disampaikan oleh Anggota DPR Cucun.

Anggota Komisi III DPR RI Cucun Ahmad Syamsurijal menegaskan ASN yang terlibat radikalisme harus dipecat. Hal itu menurutnya perlu dilakukan untuk memberikan punishment dan efek jera, dalam rangka memberantas radikalisme di kalangan ASN, termasuk pada lingkungan kampus. Dalam hal penanganan dan pencegahan radikalisme, pihaknya juga bekerja sama dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika untuk menghilangkan konten-konten di media sosial yang memunculkan benih-benih ajaran radikal. (TIMESINDONESIA).

Selama ini radikalisme bagaikan alat yang tajam yang di arahkan kepada muslim atau ajaran Islam yang tidak sesuai dengan keinginan penguasa. Radikalisme menjadi wacana yang selalu "digoreng". Sayangnya, Islam selalu menjadi pihak tertuduh, bagaimana sebuah ajaran Islam semisal jihad dan khilafah disebut berbahaya dan dipandang radikal dalam sistem kapitalisme sekarang. Bagaimana di negeri mayoritas muslim, para ulama dengan berbagai delik hukum dicoba untuk dipersekusi dengan dibui. Namun dipihak yang lain, ada kelompok yang jelas-jelas mengancam negara semisal OPM, tidak disebut teroris atau radikalis. Seolah radikalis dan teroris hanya layak untuk orang dan ajaran Islam.

Bagaimana nestapa dan kesulitannya kaum muslim hidup dibawah aturan yang bukan berasal dari agama mereka, hidup dibawah aturan hidup yang dibuat oleh manusia dan berasal dari pemikiran manusia, untuk mengamalkan seluruh ajaran Islam menjadi sulit bahkan dituduh memecah belah bangsa.

Agenda menangkal radikalisme sudah menjadi rahasia umum merupakan agenda Barat yang diikuti oleh pemimpin negeri-negeri kaum muslim yang membebek kepada negara adidaya. Barat tidak akan pernah rida apabila Islam mampu memimpin dunia seperti dahulu ketika Islam memiliki sistem khilafah. Maka radikalisme merupakan agenda untuk tetap mempertahankan hegemoni Barat di negeri kaum muslim. Maka dari itu saatnya pemimpin dan kaum muslim di negeri muslim tidak terbuai dengan sistem yang merugikan Islam dan kaum muslim. Sudah selayaknya kita sebagai negeri mayoritas muslim menjadikan Islam sebagai sistem kehidupan. Wallahu a’lam bishshswab. []

Tidak ada komentar:

Posting Komentar