Recent Posts

Total Tayangan Halaman

Labels

Pesan Sekarang Juga!

Cara Ngirim Tulisan

Cara mengirim tulisan ke Pena Pejuang : 1. Kirim tulisan, bisa dalam bentuk tulisan wa, bisa juga dalam format docx. 2. Sertakan dengan gamb...

Agar Generasi Menjadi Mukmin Sejati

Jumat, 12 Maret 2021


Oleh: Hamnah B. Lin


          Sekian banyak orangtua yang mengeluhkan kondisi anaknya makin liar tak bisa diajak komunikasi karena kecanduan Gadget, hal ini diperparah dengan kondisi yang mengharuskan anak-anak untuk memegang HandPhone guna Sekolah Daring, sebagai akibat pandemi Covid-19 yang kian panjang, tanpa ada kepastian kapan akan berakhir.
          Hingga perilaku duduk sekian jam di depan Gadget tak bisa terelakkan, shalat sering di akhirkan, dengan orangtua semakin acuh, membaca Alquran jarang, hingga makin jauh dari gambaran generasi Mukmin yang sejati, yakni menjadi insan bertakwa kepada Allah SWT.
          Adalah idaman setiap orangtua, untuk bisa memiliki anak yang memiliki keimanan yang kokoh, pemahaman yang jelas dan pribadi yang bertakwa. Namun, tidak sedikit orangtua yang tidak memahami strategi pendidikan anak, deskripsi dan apa yang dicita-citakan, serta bagaimana proses pendidikannya. Oleh karena itu, orangtua harus memahami strategi mendidik anak agar perilakunya sesuai dengan tuntunan Islam dan menjadi mukmin sejati.
          Allah SWT menyebutkan ciri-ciri orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya (Mukmin sejati) dalam Al-Quran Surat al-Anfal 8: 2-4), yang artinya"Sungguh orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan bila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka, dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakal: (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rizky yang Kami berikan kepada mereka."
          Untuk membentuk anak menjadi Mukmin sejati, maka anak diajari tentang seluruh kewajibannya, dilatih melakukan dan dibiasakan. Diantaranya shalat dengan benar dan khusyuk, menyempurnakan shalat lima waktu, wudhu dengan benar, rukuk, sujud tuma'nina dan seterusnnya. Kemudian juga diajari bagaimana membelanjakan hartanya dalam ketaatan kepada Allah dan menunaikan zakat. Diajari puasa Ramadhan, makan makanan yang sehat dan halal, berbakti kepada orangtua, berakhlak mulia, berdakwah dan kewajiban-kewajiban yang lainnya.
         Agar anak terdorong untuk melakukannya, maka harus dikaitkan bahwa seluruh perbuatannya kelak akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah SWT. Dijelaskan juga bahwa amal ibadah dan semua kebaikan tidak ada yang sia-sia, semua akan membuahkan pahala hingga surga sebagai balasannya. Namun jika lalai dan banyak melakukan dosa, neraka ganjarannya. Anak juga sering diingatkan bahwa tujuan Allah SWT menciptakan manusia di dunia ini tidak lain hanya beribadah kepadaNya. Dunia hanya sementara, akhirat adalah kehidupan kekal. Dunia adalah tempat mencari bekal menuju kehidupan akhirat yang kekal. Ajarkan bahwa seluruh amal ibadahnya harus lurus niatnya karena Allah semata.
         Juga mengajarkan ayat-ayat Al-Quran, mulai dari surat-surat pendek beserta artinya, lalu jelaskan kandungannya, agar menyentuh akal dan hatinya, maka cara penyampaiannya harus sesuai kadar kemampuan anak. Tujuan memahamkan terjemah Al-Quran kepada anak-anak adalah untuk memahami kandungan Al-Quran. Saat dibacakan ayat-ayat tentang amal perbuatan sekecil apapun akan dibalas, kebaikan akan dibalas dengan surga dan kemaksiatan akan dibalas dengan neraka, maka tersentuhlan hatinya, mendorong dia untuk senantiasa dalam ketakwaan dan menjauhi kemaksiatan.
         Misalkan firman Allah SWT dalam surat al-Zalzalah  [99]: 7-8 yang artinya "Siapa saja yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun (sekecil apapun), niscaya dia akan melihat (balasan)-nya. Siapa saja yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrah pun (sekecil apapun), niscaya dia akan melihat (balasan)-nya pula." 
         Kemudian saat Al-Quran berbicara Allah sebagai Tempat Bergantung, "Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu."
         Dengan mendengarkan Al-Quran dan penjelasannya,  harapannya anak akan makin kuat keimanannya. Bertambahnya iman ini akan tampak pada lisan, senantiasa untuk ketaatan, hatinya semakin yakin bahwa hanya Islam yang menyelamatkan dirinya. 
        Kemudian anak juga harus dididik agar berusaha dengan keras untuk meraih prestasi-prestasi hidup dan ditanamkan mental yang kuat, yaitu sabar dan tawakal, karena tidak semua keinginan bisa dicapai. Dengan demikian anak akan memiliki kepribadian Islam yang kokoh, siap mengantarkannya mencapai sukses dunia akhirat. Inilah pribadi-pribadi Mukmin sejati, taat meraih Ridha dari Ilahi.
         Langkah-langkah diatas akan lebih efektif, tatkala semua elemen mengambil peran. Individu keluarga, masyarakat dan negara harus bahu membahu memiliki kesamaan cita-cita yang tertuang dalam aturan untuk mengatur seluruh elemen masyarakat menjadi masyarakat yang memiliki satu pemikiran, perasaan dan peraturan. Inilah aturan Islam yang akan mampu membangun tatanan baru menuju generasi Mukmin Sejati dambaan setiap insani.
          Kita harus mengambil peran untuk memahamkan kepada umat, kepentingan dari diterapkannya aturan Islam dalam naungan Khilafah Islamiyah. Khilafah Islamiyah adalah sebuah negara yang berlandaskan Islam, yang berasal dari Al-Quran. Sebuah bentuk negara yang sesuai dengan ajaran Islam. Hukumnya wajib untuk menegakkannya. Dan kepentingan dari segera ditegakkannya Khilafah Islamiyah adalah untuk menyelesaikan seluruh masalah umat, tak terkecuali permasalahan generasi yang kian mengkhawatirkan. 
Wallahu a'lam biashawwab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar