Recent Posts

Total Tayangan Halaman

Labels

Pesan Sekarang Juga!

Cara Ngirim Tulisan

Cara mengirim tulisan ke Pena Pejuang : 1. Kirim tulisan, bisa dalam bentuk tulisan wa, bisa juga dalam format docx. 2. Sertakan dengan gamb...

Alamak, Peredaran Narkoba Dikendalikan Narapidana!

Rabu, 31 Maret 2021

Oleh: Fitri Suryani, S. Pd.

(Guru dan Penulis Asal Konawe, Sultra)


Berturut-turut, kasus narkoba yang dikendalikan oleh narapidana di wilayah Sulawesi Tenggara diungkap aparat. Aparat Polres Kendari bahkan menyita telepon genggam milik seorang narapidana di Lembaga Pemasyarakatan  Kelas II A Kendari yang diduga kuat sebagai pengendali. Pihak lapas seakan tidak berdaya mengawasi para narapidana yang terus leluasa menjalankan bisnis haram tersebut.

Di samping itu, Tim Satuan Narkoba Polres Kendari menangkap RI (35) di sebuah hotel di Kecamatan Puuwatu, akhir pekan lalu. Sebanyak 33 bungkus kecil sabu ditemukan dengan berat total 53,36 gram.  Setelah diinterogasi Kepala Satuan Narkoba Polres Kendari Ajun Komisaris Andi Agusfian Pranata di Kendari, RI mengaku mendapat sabu dari seseorang yang ia tidak kenal. Ia mendapat perintah dari HN (30), seorang narapidana di Lapas Kelas II A Kendari, untuk mengambil sabu tersebut dengan sistem tempel tanpa mengenal siapa yang memberi. 

Kasus narapidana yang mengendalikan peredaran narkotika dari dalam lapas bukan merupakan hal baru di Kendari. Catatan Kompas, kurang dari dua bulan terakhir, telah ada lima kasus peredaran narkotika yang terungkap dan melibatkan narapidana sebagai pengendali. Selain ditangani Polres Kendari, sejumlah kasus ini diungkap oleh Direktorat Reserse Narkoba Polda Sultra hingga Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Sultra (Kompas.id, 18/02/2021). 

Pemberitaan narapidana yang mengendalikan narkoba dari balik jeruji besi tentu bukan merupakan hal asing, karena kasus tersebut sudah sejak lama terjadi dan tak hanya di Provinsi Sulawesi Tenggara. Sayangnya hingga kini kasus peredaran narkoba di lapas masih terulang lagi dan lagi. Dari itu, menjadi tugas berat bagi penegak hukum untuk dapat menyelesaikan kasus tersebut. 

Apalagi tak jarang kasus peredaran narkoba di lapas melibatkan antara narapidana dengan petugas lapas. Hal tersebut sebagaimana pernah disampaikan Kepolisian Resor Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, mengungkap kasus peredaran narkoba dalam Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Mataram, yang diduga telah lama terselubung karena adanya keterlibatan petugas setempat (Republika.co.id, 09/06/2020). Kalau sudah seperti itu, bagaimana mungkin penegakkan hukum akan berjalan dengan baik?

Tak kalah miris lagi, belum lama ini diberitakan Kapolsek Astanaanyar Kompol Yuni Purwanti Kusuma Dewi bersama belasan anak buahnya ditangkap saat pesta narkoba. Padahal Yuni yang diketahui sebagai seorang polwan tersebut lama bertugas di bidang pemberantasan narkoba (Jawapos.com, 18/02/2021). Sungguh hal tersebut sangat mencoreng citra kepolisian dan dapat menjadi penyebab turunnya kepercayaan masyarakat pada pihak kepolisian.

Kalau sudah seperti itu, hukuman di dalam jeruji besi bagi narapidana tak akan membuat efek jera. Sebab, di dalam ataupun di luar tahanan tetap saja mampu menjalankan bisnis haram tersebut. Padahal sejatinya, salah satu fungsi sanksi yang diberikan dapat membuat efek jera. Harapannya hal tersebut tak akan terulang lagi di kemudian hari dan orang yang memiliki keinginan serupa dapat dicegah. Namun, fakta yang terjadi, tak sedikit yang terulang lagi, karena masih ada saja yang keluar masuk bui dengan kasus yang tak jauh berbeda dan yang terjerat masalah narkoba pun meningkat jumlahnya.

Karena itu, perlu adanya ketegasan sanksi bagi pengguna dan pengedar narkoba. Mengingat efek yang ditimbulkan dari barang haram tersebut sangat banyak baik dari sisi kesehatan yang tak sedikit menimbulkan efek samping karena membahayakan tubuh dan pastinya mampu merusak generasi bangsa. Karena apabila generasi bangsa rusak dan tak mampu berpikir dengan baik, maka jelas dengan mudah para penjajah akan mudah mengendalikan generasi yang akan datang.

Dari itu, terkait narkoba para ulama sepakat haramnya mengonsumsi narkoba ketika bukan dalam keadaan darurat. Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Narkoba sama halnya dengan zat yang memabukkan diharamkan berdasarkan kesepakatan para ulama. Bahkan setiap zat yang dapat menghilangkan akal, haram untuk dikonsumsi walau tidak memabukkan” (Majmu’ Al Fatawa, 34: 204). 

Selain itu pula dari Ummu Salamah, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dari segala yang memabukkan dan mufattir (yang membuat lemah)” (HR. Abu Daud dan Ahmad). Jika khomr itu haram, maka demikian pula dengan mufattir atau narkoba. 

Adapun hukuman bagi orang yang mengonsumsi narkoba disamakan dengan para peminum khamr, hukumannya adalah ta’zir, yaitu hukuman yang belum ditetapkan syariat batasannya dan diserahkan kepada khalifah.  Ta’zir ini bisa berupa penjara, cambuk, sampai hukuman mati, tergantung kepada kasus yang menimpanya dan dampak kerusakan yang ditimbulkannya.

Sementara itu, hukuman bagi produsen dan pengedar narkoba para ulama menyatakan bahwa hukuman para produsen dan pengedar narkoba yang menyebabkan kerusakan besar bagi agama bangsa dan negara khususnya generasi muda yang menjadi tulang punggung bagi kehidupan bangsa adalah hukuman mati. 

Hal itu didasarkan pada surah Al-Maidah ayat 33 “Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik, atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). Yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka di dunia, dan di akhirat mereka mendapat siksaan yang besar.”

Pada ayat di atas menunjukkan bahwa yang memerangi Allah dan Rasul-Nya serta membuat kerusakan di muka bumi salah satu hukumannya adalah dibunuh. Karena itu, memproduksi dan mengedarkan narkoba sesungguhnya akan membuat kerusakan yang sangat besar kepada generasi suatu bangsa. Perbuatan seperti itu pun merupakan salah satu bentuk memerangi ajaran Allah dan Rasul-Nya, maka hukumannya adalah dibunuh berdasarkan ayat di atas.

Dengan demikian, seyogianya perlu kerja keras dan sinergi antara peran individu dengan membangun ketakwaan diri seseorang, ditambah lagi kontrol masyarakat dengan adanya budaya amar akruf nahi mungkar dan tak kalah penting peran negara yang memiliki kekuasaan dan kekuatan hukum dalam menjatuhkan sanksi yang berat bagi pengguna dan pengedar narkoba. Karena dengan begitu generasi yang akan datang bisa terjaga akal dan jiwanya. Wallahu a’lam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar